Cek Peta Pertumbuhan Pasar 2026, Kripto Makin Dewasa

Ilustrasi aset kripto Toncoin (TON). (Coin Market Cap)

JAKARTA — Pasar aset kripto Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan tanda pendewasaan yang semakin nyata. Aktivitas pasar tak lagi digerakkan semata oleh euforia bull market, melainkan bergerak ke fase konsolidasi yang lebih stabil. Likuiditas tetap terjaga, perilaku investor kian disiplin, dan regulasi mulai bertransformasi dari masa transisi menuju kerangka yang lebih fungsional.

Kondisi tersebut menjadi fondasi penting bagi perkembangan industri kripto nasional memasuki 2026. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga Oktober 2025 jumlah investor kripto di Indonesia mencapai 19,08 juta, tumbuh sekitar 2,5% secara bulanan (month-on-month/MoM). 

Meski menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar kripto terbesar secara absolut, tingkat penetrasinya masih sekitar 7% dari total populasi, menandakan ruang pertumbuhan yang masih luas.

Baca juga:

“Tahun 2025 bukan tentang akselerasi yang meledak-ledak, melainkan kejelasan arah. Pasar kripto Indonesia tetap membesar dan, yang lebih penting, makin matang. Investor kini lebih selektif, ekosistem lebih tertib, dan regulasi menjadi fondasi yang memperkuat kepercayaan,” ujar CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, Kamis 8 Januari 2026.

Likuiditas Terjaga, Spekulasi Mereda

Sepanjang Januari–November 2025, nilai transaksi kripto nasional tercatat melampaui Rp446,77 triliun atau setara US$26,6 miliar. Capaian tersebut diraih tanpa dukungan bull market berkepanjangan maupun spekulasi masif. 

Aktivitas transaksi lebih mencerminkan kebutuhan pengelolaan portofolio, pemanfaatan stablecoin, serta keterlibatan yang lebih selektif pada ekosistem kripto yang telah mapan. Kondisi ini mencerminkan pasar yang semakin tangguh saat siklus melambat dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada volatilitas ekstrem sebagai pendorong utama.

“Ketika pasar mampu menjaga likuiditas tanpa menunggu volatilitas tinggi, itu menandakan ekosistem yang lebih sehat. Investor tidak hanya berburu momentum, tetapi mulai mengelola risiko dan strategi masuk-keluar pasar secara lebih terukur,” tambah Calvin.

Investor Muda dan Dominasi Platform Digital

Dari sisi demografi, lebih dari 80% investor kripto di Indonesia berada pada rentang usia 18–34 tahun. Hal ini menjadikan kripto sebagai salah satu produk finansial paling berorientasi generasi muda. Survei yang dihimpun ICN, Coinvestasi, dan ABI pada Oktober–November 2025 menunjukkan bahwa adopsi kripto lebih banyak dipicu oleh platform digital dan jejaring pertemanan, ketimbang edukasi formal atau kanal institusional.

Media sosial seperti TikTok, Telegram, dan X menjadi kanal utama bagi pengguna untuk menemukan, mendiskusikan, hingga mengevaluasi aset kripto. Dinamika ini menegaskan kuatnya peran narasi digital-native dan efek jejaring (network effect) sebagai mesin pertumbuhan menuju 2026.

Konsentrasi Wilayah dan Portofolio Lebih Konservatif

Meski adopsi berlangsung secara nasional, aktivitas dan likuiditas investor masih terkonsentrasi di wilayah tertentu. Pulau Jawa dan Bali menyumbang sekitar 77,6% dari total investor kripto di Indonesia. Pola ini sejalan dengan realitas ekonomi digital, di mana wilayah dengan infrastruktur lebih matang dan aktivitas finansial tinggi menjadi pusat pembentukan likuiditas sebelum meluas ke daerah lain.

Menariknya, di tengah citra pasar yang didominasi investor ritel, 2025 justru memperlihatkan kecenderungan alokasi aset yang lebih konservatif. Bitcoin tetap menjadi aset dominan, mengukuhkan perannya sebagai aset masuk (entry asset) sekaligus penyimpan nilai. Stablecoin seperti USDT banyak dimanfaatkan sebagai instrumen pengelolaan likuiditas, memungkinkan investor mengatur timing tanpa sepenuhnya keluar dari ekosistem kripto.

Sementara itu, eksposur ke aset seperti Ethereum, Solana, dan BNB menunjukkan partisipasi yang lebih selektif pada jaringan yang telah mapan, alih-alih spekulasi luas pada aset berisiko tinggi.

Regulasi Lebih Jelas, Minat Institusi Meningkat

Dari sisi kebijakan, 2025 menjadi titik penting ketika ketidakpastian regulasi mulai tergantikan oleh struktur yang lebih jelas. Melalui KBLI 62014, pengembangan blockchain kini diakui sebagai aktivitas bisnis yang sah di Indonesia. Sejumlah proyek blockchain juga tercatat telah memenuhi persyaratan perizinan, menandakan transisi dari fase eksperimen menuju tahap eksekusi dalam kerangka yang lebih tertata.

Sejalan dengan itu, partisipasi institusional semakin terlihat. Beberapa pemain global masuk melalui kemitraan strategis maupun akuisisi, dan beroperasi di dalam kerangka regulasi domestik. Hal ini mencerminkan meningkatnya keyakinan bahwa Indonesia merupakan pasar kripto yang teratur, likuid, dan memiliki basis pengguna besar.

“Bagi industri, kepastian aturan bukan hambatan, melainkan infrastruktur operasional. Ketika regulasi jelas, pelaku bisa fokus membangun produk, memperkuat keamanan, dan meningkatkan literasi pengguna. Ini yang mendorong pertumbuhan lebih sehat pada 2026,” tutur Calvin.

Prospek 2026: Investor Bertambah, Transaksi Berpeluang Pulih

Memasuki 2026, Calvin menilai peluang pertumbuhan pasar kripto Indonesia masih terbuka lebar, terutama karena tingkat penetrasi yang relatif rendah. Jika kondisi global lebih kondusif dan minat terhadap aset berisiko kembali meningkat, laju adopsi diperkirakan dapat menguat.

“Dalam skenario optimistis, jumlah investor kripto nasional berpotensi bertambah sekitar 7–8 juta, sehingga totalnya mendekati 26–27 juta investor. Pada skenario moderat, penambahan 4–5 juta investor dapat mendorong total investor berada di kisaran 23–24 juta hingga akhir 2026,” jelasnya.

Dari sisi aktivitas, basis transaksi yang tetap kuat sepanjang 2025 membuka peluang peningkatan nilai transaksi pada 2026. Secara kumulatif hingga November 2025, nilai transaksi tercatat Rp446,77 triliun, lebih rendah dibanding periode yang sama 2024 sebesar Rp556,53 triliun, atau turun sekitar 19,72% secara tahunan (year-on-year/YoY).

“Kami berharap 2026 menjadi momentum pembalikan, dengan nilai transaksi kembali meningkat seiring pasar yang makin matang dan partisipasi pengguna yang lebih berkualitas,” ujar Calvin.

Ke depan, ia menegaskan fokus industri tidak hanya pada pertumbuhan angka, tetapi juga pada kualitas pengguna, edukasi, keamanan, serta keberlanjutan ekosistem agar pertumbuhan kripto nasional tetap terjaga dalam jangka panjang.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Ananda Astri Dianka pada 08 Jan 2026 

Bagikan

Related Stories