Cerita Pedagang Baju Bekas di Bawah Jembatan Ampera

Di bawah Jembatan Ampera, Ertika (49) duduk di tengah hamparan baju bekas yang tersebar di tikar. (wongkito.co/Mg/Azzahri Fahlepi Putra)

Di bawah Jembatan Ampera, Ertika (49) duduk di tengah hamparan baju bekas yang tersebar di tikar. Tangan yang sedikit kasar akibat kerja keras sehari-hari beristirahat sebentar di pangkuannya, sementara kakinya yang tanpa alas kaki bersandar di atas tumpukan baju hitam dan motif garis. 

Di sekitarnya, tas-tas berbagai warna dan beberapa keranjang plastik berisi barang dagangan lain berjejer rapi. Suasana di bawah jembatan yang hidup dengan suara mesin motor lewat, pembicaraan pedagang dan pembeli, hingga suara mobil yang melintas tak pernah surut. Setiap ada orang yang mampir melihat bajunya, dia menyambut mereka.

Lahir tahun 1977, Ertika berasal dari Pagar Alam. Sebagai anak ke-4 dari 12 bersaudara, dia sudah terbiasa dengan dunia berjualan semenjak kecil.  “Dulu sekolah cuma sampai kelas 3 SMA, karena kondisi ekonomi keluarga memang susah pada waktu itu, dan saya juga harus berjalan kaki jauh dari rumah di tengah kebun menuju ke sekolah,” cerita dia.

Sebelum terjun ke dunia usaha secara penuh, dia pernah berjualan jambu segar, tebu manis, bahkan membawa kemplang untuk dijual ke berbagai tempat hanya untuk membantu ekonomi keluarga. Sejak tahun 2001, Ertika memilih untuk menggeluti usaha berjualan baju bekas.

 “Saya memilih untuk berjualan baju bekas ini karena cara kerjanya sangat simpel dan juga tidak membutuhkan modal yang besar sekali, jadi sangat ramah sekali bagi kami yang ingin mencari penghasilan,” ujarnya sambil menyesuaikan posisi baju yang sedikit bergeser. 

Caranya cukup unik, yakni dia mampir dari satu rumah ke rumah lainnya di sekitar lingkungan tempat tinggalnya untk bertanya apakah ada baju yang tidak terpakai lagi. Jika ada, dia akan langsung membelinya dengan harga murah sebelum akhirnya menjualnya kembali di bawah Jembatan Ampera.

“Harganya sendiri mulai dari 15 ribu rupiah sampai dengan 25 ribu rupiah saja, semuanya tergantung dari kondisi bajunya, jadi tidak akan membuat pembeli merasa terbebani dengan harganya," jelasnya sambil mengambil satu baju motif garis yang sedang dilihat seorang pembeli. 

Untuk bisa berjualan di tempat yang selalu ramai itu, dia harus membayar biaya sewa tempat sebanyak 4 ribu rupiah per hari. “Aku sendiri biasanya buka berjualan mulai dari jam 12 siang tepatnya, dan kemudian tetap berjualan sampai jam 5 sore atau bahkan jam 6 sore. Semuanya tergantung, jika masih ada pembeli yang datang dan tertarik untuk membeli, maka aku akan tetap berjualan saja,” katanya. 

Usaha Lain untuk Menunjang Kebutuhan

Tidak hanya bergantung pada penjualan baju bekas, Ertika juga menjalankan usaha lain seperti berjualan kue dan sayuran, bahkan ada kalanya dia menjual tas bekas dan barang lainnya yang bisa dia dapatkan dengan harga murah. “Kalau ada kesempatan dapat barang lain yang bisa dijual, ya saya ambil,” ujarnya sambil menunjukkan beberapa tas yang ada di sisinya. 

Kue-kue yang dibuatnya biasanya dititipkan ke berbagai warung-warung dekat rumahnya di kawasan Perumnas. “Berjualan baju bekas ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan berjualan kue, karena jika kue tersebut tidak laku terjual pada hari itu, akan basi dan tidak bisa lagi dijual. Namun, berbeda dengan baju bekas ketika tidak laku terjual hari itu, maka bisa aku bawa pulang lalu dijual lagi tanpa ada masalah sama sekali," ujarnya.

Ertika merasa sangat bangga dengan pekerjaan yang dia jalankan. “Kita sebagai orang yang mencari penghasilan, kita mencari duit dengan cara yang benar dan halal sekali, maka kenapa harus merasa minder dengan pekerjaan yang kita jalankan? Sudah sangat jelas kan bahwa pekerjaan yang aku lakukan ini adalah pekerjaan yang halal dan benar," tegas dia.

Diakuinya, karena penghasilan dari baju bekas saja belum cukup untuk memenuhi semua kebutuhan, dia terpaksa menjalankan berbagai usaha secara bersamaan. Semua usaha yang dijalani tersebut untuk bisa membantu biaya pendidikan anak-anaknya.

Dulu, Ertika pernah bermimpi memiliki rumah dan mobil pribadi. Namun, impian-impian tersebut memang belum bisa tercapai hingga saat ini. Menurutnya, tidak menjadi masalah karena yang paling penting adalah anak-anak bisa mendapatkan pendidikan dengan baik dan bisa melanjutkan sekolah sesuai dengan kemampuan mereka.

Tempat berjualannya selalu buka setiap hari Minggu dan pasti ramai dengan pengunjung, mulai dari pekerja yang pulang kantor, ibu rumah tangga yang mencari barang murah, hingga anak muda yang mencari gaya berpakaian unik. Tentu kondisinya tidak baik setiap hari, ada kalanya tidak terlalu banyak pembeli yang datang. Meski begitu, Ertika tidak khawatir karena barang daganganku sendiri adalah baju bekas yang tidak akan rusak atau basi.

Harapannya sangat sederhana tapi cukup mendalam. “Saya hanya berharap saja agar usaha yang aku jalankan ini bisa terus berjalan dengan lancar tanpa ada kendala, dan saya berharap agar diriku bisa selalu dalam keadaan sehat, sehingga aku bisa tetap berjualan dan bisa terus memberikan penghasilan untuk keluarga.” (Mg/Azzahri Fahlepi Putra) 

Editor: Redaksi Wongkito
Bagikan
Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories