BucuKito
Demi Dapur Ngebul, 28 Tahun Bertahan Hidup dari Sungai Musi
PALEMBANG, WongKito.co - Di dermaga tepian Sungai Musi, berjejer perahu-perahu kecil yang lebih dikenal dengan nama ketek. Alat transportasi air tradisional ini masih digunakan masyarakat Palembang meskipun bukan menjadi pilihan utama.
Salah satunya ketek milik Edy (46). Pria dengan sorot mata yang tenang tersebut sudah menjadi serang atau juru mudi ketek sejak tahun 1998. Sejak awal, menjadi serang bukan pilihan hidupnya. Namun, diakui Edy, keadaanlah yang memaksanya untuk mencari pendapatan dengan mengemudi ketek. Semua demi keluarga.
Sebelum berangkat bekerja, Edy selalu mengecek keadaan perahunya. Pengecekan memang harus dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, mesin yang tiba-tiba mogok. Menurutnya, kondisi seperti itu bisa merepotkan sekaligus membahayakan. “Karena itu, harus cek perahu. Ditimba dulu sampai kering, cek mesinnya, lalu pergi,” katanya.
Jam-jam ramai penumpang sekitar pukul dua siang sampai empat sore. Di pagi hari tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa penumpang saja. Meskipun begitu, Edy akan tetap mengantarnya sesuai dengan tujuan.
Adapun ketika pelanggan benar-benar sepi, perasaannya menjadi was-was. Edy benar-benar memikirkan keluarganya di rumah ketika penumpang menjadi sepi. “Biso ngebul dak dapur di rumah, tuh?” tuturnya, sorot mata Edy menyendu.
Setelah seharian bekerja, Edy akan pulang pada pukul lima sore, tidak lebih. Memiliki pekerjaan sebagai serang yang selalu bergulat dengan sungai dan ombak tidaklah mudah. Meskipun sudah lama menjalani pekerjaan tersebut, Edy masih merasakan takut.
Terlebih ketika air tidak lagi menjadi tenang. Ditambah dengan guyuran hujan ketika ia masih berada di tengah-tengah sungai. Namun, rasa takutnya harus dihilangkan. “Perasaan takut itu ada, tapi situasi kita mau cari makan, rasa takut itu dihilangkan, harus beranikan diri,” katanya.
Semua kerja kerasnya, Edy lakukan untuk keluarganya. Banyak hal yang ingin diberikan kepada keluarganya, seperti kendaraan, biaya sekolah, kebutuhan pribadi, dan masih banyak hal lainnya. Namun, penghasilannya masih terbatas. Edy bahkan sempat berpikir untuk berhenti. Namun, pikiran itu ia tepiskan karena lebih memikirkan bagaimana untuk mempertahankan kehidupannya.
- Banjir Belitang, Data Sementara Pempov Sumsel
- Walhi: Banjir Belitang, Akumulasi Kerusakan Sistematis
- Banjir Kawasan Jalur, Sekolah Terpaksa Daring
Bagi Edy, sungai dan ketek seperti pasangan suami-isteri. "Dimana ada pelosok sungai pasti ada ketek,” jawabnya ketika ditanya makna sungai dan ketek.
Menurutnya, kehidupan tidaklah semudah kita membalikkan telapak tangan. Setiap orang memiliki sifat yang berbeda-beda, begitupun dengan hati. Mereka yang tidak menyadari dan suka memandang sebelah mata pekerjan orang lain, sangat mudah sekali melontarkan kata-kata meremehkan dan hinaan, tanpa bisa memberikan solusi.
“Banyak yang meremehkan (jadi serang), tapi mereka cuma bisa meremehkan dan menghina, tidak kasih solusi. Kalau meremehkan dan kasih modal, ya saya berhenti jadi serang,” ujar dia.
Namun, di balik kesedihannya, ada teman-teman seperjuangan yang bisa merubah suasana menjadi lebih hangat dan penuh tawa. Mungkin momen-momen seperti itulah yang akan diingat Edy ketika ia tidak mampu lagi untuk bekerja. (Mg/Ani Maustika Wati)

