KabarKito
Disrupsi Teknologi Jadi Tantangan Angkatan Kerja Muda
JAKARTA, WongKito.co - Kondisi ekonomi global dan nasional yang penuh tekanan ekonomi melahirkan istilah “in this economy” dan hastag #KaburAjaDulu, sebuah ungkapan yang kini populer di kalangan Generasi Z dan milenial.
Kedua Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan realitas ekonomi saat ini yang dinilai semakin berat dan memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pilihan karier, gaya hidup, hingga perencanaan masa depan.
Fenomena tersebut dipicu oleh berbagai faktor, seperti inflasi yang belum sepenuhnya terkendali, sulitnya lapangan kerja berkualitas, serta disrupsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Bagi generasi muda, tekanan ini terasa lebih nyata karena mereka berada di fase transisi menuju dunia kerja dan kemandirian ekonomi.
Dikutip dari Antara, Minggu, 4 Januari 2026, pada 2025 kondisi ekonomi Gen Z dinilai belum stabil. Tingkat pengangguran usia muda masih relatif tinggi, sementara persaingan kerja semakin ketat.
Generasi muda kini tidak hanya bersaing dengan sesama pencari kerja, tetapi juga dengan otomatisasi dan AI yang mulai menggantikan sejumlah fungsi pekerjaan. Situasi ini memperkuat persepsi bahwa mendapatkan pekerjaan dengan upah layak, jaminan karier, dan keseimbangan hidup menjadi semakin sulit, terutama bagi lulusan baru.
AI dan Perubahan Dunia Kerja
Laporan World Economic Forum (WEF) menunjukkan disrupsi teknologi akan mengubah peta ketenagakerjaan secara signifikan. Dalam lima tahun ke depan, sekitar 23% pekerjaan global akan berubah akibat AI.
Sekitar 14 juta pekerjaan diperkirakan berkurang, dengan 83 jenis pekerjaan hilang, namun di sisi lain 69 juta pekerjaan baru akan muncul. Kondisi ini menuntut Gen Z untuk memiliki keterampilan yang relevan, adaptif, dan beretika, sekaligus kesiapan untuk terus belajar sepanjang hayat (life-long learning).
- Yuk Buat Bolu Gulung Pandan Isi Kacang Mete dan Coklat
- BSB Kembali Pertahankan Peringkat Pertama SLE Index 2026
- Kenali Super Flu? Simak Gejala dan Cara Pencegahannya
Bagi Gen Z, pekerjaan ideal tidak lagi semata-mata soal besaran gaji. Faktor seperti makna kerja (purpose-driven), apresiasi, perlindungan, dan kepastian kerja menjadi pertimbangan penting. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman mereka tumbuh di era digital, krisis global, dan pandemi.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Rhenald Kasali menekankan pentingnya kehadiran negara dalam menciptakan ekosistem kerja yang adaptif di tengah disrupsi digital. Negara dinilai tidak bisa sepenuhnya menyerahkan penciptaan lapangan kerja kepada mekanisme pasar.
Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menanggapi fenomena tagar #KaburAjaDulu yang sempat ramai di media sosial X pada awal 2025. Ia menegaskan bahwa tagar tersebut tidak selalu bermakna negatif.
Menurutnya, #KaburAjaDulu dapat dimaknai sebagai upaya generasi muda untuk meningkatkan keterampilan, mencari pengalaman kerja global, dan kembali membangun Indonesia dengan kapasitas yang lebih kuat.
Program Magang Nasional
Sebagai respons atas tantangan ketenagakerjaan, pemerintah meluncurkan Program Magang Nasional bagi lulusan baru. Program ini memberikan upah setara UMK dan masuk dalam paket stimulus ekonomi 8+4+5.
Program tersebut ditujukan untuk mempercepat transisi lulusan baru ke pekerjaan formal yang laik, sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja muda di tengah perlambatan ekonomi.
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Media Wahyudi Askar, mengingatkan agar program magang tidak bersifat jangka pendek semata. Ia menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dan sektor swasta agar program benar-benar berdampak terhadap peningkatan kualitas dan keberlanjutan karier generasi muda.
Menurutnya, Gen Z merupakan kelompok yang paling terdampak oleh ekonomi yang melambat dan ketidakpastian masa depan, sehingga kebijakan ketenagakerjaan perlu dirancang lebih struktural.
Bonus Demografi dan Ancaman NEET
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada 2025 mencapai 284,4 juta jiwa, dengan Gen Z sebagai kelompok terbesar, yakni 27,94% atau sekitar 74,93 juta jiwa.
Bonus demografi berpotensi menjadi kekuatan ekonomi, namun juga dapat berubah menjadi beban jika tidak dikelola dengan baik. Tantangan nyata terlihat dari masih tingginya jumlah NEET (Not in Education, Employment, or Training). Pada 2023, hampir 10 juta Gen Z usia 15–24 tahun masuk kategori NEET, dengan mayoritas berasal dari kelompok perempuan.
- Keragaman Daya Tarik 3 Kampung di Tepian Sungai Musi
- Jelang Tahun Baru 2026, Jembatan Ampera Ditutup 3 Jam
- Genjot Roda Ekonomi dengan Work from Mall, Efektifkah?
Menurut laporan Antara, Tagar #KaburAjaDulu menjadi simbol keresahan generasi muda atas sulitnya memperoleh pekerjaan laik, upah yang sepadan, dan kepastian masa depan. Fenomena ini sekaligus menjadi alarm bagi pemerintah dan dunia usaha untuk memperbanyak lapangan kerja berkualitas, bukan sekadar pekerjaan sementara.
Tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi angkatan kerja muda. Tekanan ekonomi, percepatan teknologi, dan perubahan ekspektasi hidup saling bertemu dalam satu momentum.
Diperlukan sinergi antara negara, dunia usaha, dan masyarakat agar Gen Z mampu menjadi generasi yang berdaya saing tinggi, memperoleh upah dan apresiasi layak, serta hidup sejahtera, in this economy maupun di masa depan.
Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 5 Januari 2025.

