Setara
Dorong Transisi Energi Berkeadilan Berbasis Perempuan
PALEMBANG, WongKito.co - Yayasan Mitra Hijau (YMH) bekerja sama dengan Pilar Nusantara (PINUS) Sumatera Selatan pada diseminasi hasil penelitian di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Lahat menegaskan mendorong transisi energi berkeadilan berbasis komunitas dan perempuan, Rabu (7/1/2026).
"Dalam isu transisi energi berkeadilan, perempuan menjadi bagian paling penting karena merekalah yang paling merasakan dampak beragam perubahan," kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau, Dicky Edwin Hindarto, usai
menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Hasil Penelitian bertajuk “Melokalisasi Transisi Energi yang Adil: Memberdayakan Perempuan dan Masyarakat di Provinsi Sumatera Selatan”, bertempat di Ruang Rapat Parameswara Lantai II, Kantor Bappeda Provinsi Sumatera Selatan.
Diseminasi tersebut menjadi ruang strategis untuk menyampaikan temuan penelitian sekaligus mendorong dialog lintas pemangku kepentingan mengenai implementasi transisi energi berkeadilan (Just Energy Transition) di daerah. Hadir dalam kegiatan ini perwakilan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan organisasi perempuan.
Baca Juga:
- Pertamina Peringkat 1 Dunia Skor ESG di Industri Migas
- Pertamina Patra Niaga Pastikan Stok BBM Aceh Tetap Andal
- Wyndham Opi Hotel Palembang Promo Pernikahan Eksklusif
Dalam sambutannya, Kepala Bidang Perekonomian dan Pendanaan Pembangunan, Hari Wibawa, SP., MM Bappeda Provinsi Sumatera Selatan menegaskan bahwa Sumatera Selatan sebagai salah satu lumbung energi nasional menghadapi tantangan besar dalam proses transisi dari ketergantungan terhadap energi fosil, khususnya batu bara. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan transisi energi yang tidak hanya berorientasi pada aspek teknis dan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, serta perlindungan masyarakat.
Peluang Ekonomi Hijau
Hasil penelitian disampaikan oleh PINUS, Rabin Ibnu Zainal menyoroti persepsi, tingkat pengetahuan, serta kebutuhan informasi perempuan dan komunitas lokal dalam konteks transisi energi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat dukungan masyarakat terhadap agenda transisi energi, masih terdapat kesenjangan pemahaman, terbatasnya partisipasi perempuan, serta belum optimalnya penerjemahan konsep transisi energi ke dalam peluang ekonomi lokal yang konkret.
Studi ini juga mengidentifikasi peluang pengembangan ekonomi lokal dan UMKM berbasis ekonomi hijau, seperti agribisnis kopi, ekonomi kreatif, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, dan usaha perempuan, sebagai alternatif mata pencaharian pasca-batubara.
Dicky menyampaikan bahwa diseminasi ini merupakan bagian dari upaya mendorong kolaborasi multipihak agar transisi energi di Sumatera Selatan dapat berlangsung secara inklusif dan berkeadilan.
Baca Juga:
- Kilas Balik: STuEB, Setahun Melawan Energi Kotor
- Yuk Buat Puding Cake Coklat
- Simak 7 Resolusi Kesehatan Mental yang Wajib Kamu Punya
“Pelibatan komunitas lokal dan perempuan bukan hanya aspek pelengkap, tetapi kunci utama dalam memastikan transisi energi berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui forum diseminasi ini, peserta sepakat bahwa transisi energi berkeadilan membutuhkan penguatan peran aktor lokal, peningkatan kualitas komunikasi publik, serta integrasi isu sosial, gender, dan ekonomi ke dalam perencanaan pembangunan daerah. Masukan dari Pemda, akademisi, dan NGO menjadi bagian penting dalam memperkaya rekomendasi kebijakan dan strategi diseminasi ke depan.
Dicky menegaskan kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran bersama sekaligus langkah awal memperkuat sinergi antara pemerintah, masyarakat sipil, dan dunia akademik dalam memastikan bahwa proses transisi energi di Sumatera Selatan berjalan secara adil, inklusif, dan berkelanjutan.(*)

