KabarKito
El Nino Telah Aktif, Sumatera Selatan Masuki Kemarau
PALEMBANG, WongKito.co - Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan melaporkan, berdasarkan hasil pemantauan hingga Dasarian I Juli 2026, seluruh 14 Zona Musim (ZOM) di Provinsi Sumatera Selatan telah memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan menguatnya fenomena El Niño yang berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Selatan.
"Kondisi El Niño–Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan penguatan yang cukup signifikan," ungkap Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, Senin (20/7/2026).
- BUNCY Kembangkan Usaha Berkat Dukungan Program Sertifikasi Halal BRI
- Warga Muara Maung Tuntut 4 Tambang Bertanggung Jawab Banjir
- Berkat KUR dan Pelatihan BRI, Usaha Rosyidah Terus Berkembang
Dari data pihaknya tercatat, nilai Sea Surface Temperature Anomaly (SSTA) menunjukkan bahwa kejadian (event) El Niño telah aktif, yang secara umum berasosiasi dengan berkurangnya pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia dan meningkatnya peluang terjadinya kondisi kering.
Berdasarkan hasil analisis curah hujan, seluruh wilayah musim di Sumatera Selatan telah memasuki musim kemarau sejak Dasarian I Juni 2026. Penetapan awal musim kemarau dilakukan berdasarkan kriteria klimatologis BMKG, yaitu apabila suatu wilayah mengalami curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian selama tiga dasarian berturut-turut, dengan akumulasi curah hujan selama tiga dasarian tersebut kurang dari 150 mm.
"Oleh karena itu, meskipun hujan masih dapat terjadi secara sporadis di beberapa lokasi, wilayah Sumsel tetap dikategorikan telah memasuki musim kemarau apabila memenuhi kriteria tersebut," jelas dia.
Kondisi tersebut sejalan dengan hasil pemantauan curah hujan yang menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Sumatera Selatan mengalami curah hujan di bawah normal sepanjang bulan Juni 2026, dan kondisi serupa masih berlanjut pada Dasarian I Juli 2026. Penurunan curah hujan ini diperkirakan dipengaruhi oleh aktifnya El Niño yang mulai memberikan dampak terhadap pola hujan di wilayah Sumatera Selatan.
Peningkatan Risiko Karhutla
Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan mengimbau pemerintah daerah, pelaku usaha, petani, serta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi kering. Bencana yang dimaksud antara lain kekeringan meteorologis, berkurangnya ketersediaan air baku, penurunan kelembapan tanah yang dapat memengaruhi sektor pertanian, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
- Cek inilah Penguasa Bisnis Air Minum dalam Kemasan
- Perkuat Konektivitas Gas Sumatera, PGN Pamer Kesiapan Infrastruktur ke Investor
- Transformasi di Bawah Danantara Dorong Pupuk Indonesia Cetak Laba Rp8,51 Triliun
"Pengelolaan sumber daya air secara bijaksana, peningkatan kesiapsiagaan terhadap karhutla, serta pemanfaatan informasi iklim BMKG dalam perencanaan kegiatan di berbagai sektor menjadi langkah penting dalam mengurangi dampak musim kemarau," ujar dia.
Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan akan terus memantau perkembangan kondisi iklim global maupun regional dan menyampaikan informasi terkini kepada masyarakat sebagai dasar dalam mendukung pengambilan keputusan serta upaya mitigasi bencana hidrometeorologi. (*)

