Hari Kartini dalam Perspektif Mahasiswa UIN Palembang

Hidayahni, 21 tahun, mahasiswi Psikologi UIN Palembang (Foto WongKito.co/ist)

TANGGAL 21 April. Bukan sekadar tanggal, melainkan penanda ingatan kolektif tentang seorang perempuan yang menolak tunduk pada zamannya, Raden Ajeng Kartini.

Di ruang-ruang kampus, nama Kartini tidak hadir sebagai simbol kosong. Ia hidup dalam percakapan, dalam keberanian mahasiswa menyampaikan gagasan, dan dalam keyakinan bahwa akses pendidikan bukan lagi hak istimewa, melainkan hak dasar. Semangat itu terasa ketika sejumlah mahasiswa berbagi pandangan tentang makna Hari Kartini bukan sebagai seremoni, tetapi sebagai proses panjang menuju kesetaraan.

Hidayahni, 21 tahun, mahasiswi Psikologi, melihat Hari Kartini sebagai penanda capaian historis perempuan Indonesia. Baginya, apa yang kini terasa “biasa” perempuan berkuliah, bersuara, memilih jalan hidup dulu adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dengan risiko sosial yang besar. Kartini, dalam narasinya, bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan fondasi dari kebebasan yang kini dinikmati.

Baca Juga:

Pandangan itu beresonansi dengan Tri Polina, mahasiswi Jurnalistik. Ia membaca perjuangan Kartini sebagai pembuka horizon: perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai subjek pinggiran, melainkan aktor penuh dalam kehidupan sosial dan politik. Dalam logikanya, kesetaraan bukan retorika ia adalah kemungkinan konkret. Jika laki-laki bisa menjadi pemimpin, perempuan pun memiliki legitimasi yang sama untuk menduduki posisi tersebut.

Senia Aprinia, yang baru menuntaskan studi di bidang Jurnalistik, mengartikulasikan Kartini sebagai simbol transformasi struktural. Pendidikan, dalam perspektifnya, adalah arena utama emansipasi. Kartini menggeser paradigma, dari perempuan yang dibatasi menjadi perempuan yang berhak menentukan masa depannya melalui pengetahuan. Kesetaraan gender, dengan demikian, bukan sekadar slogan, tetapi hasil dari perjuangan panjang yang terus berlanjut.

Menariknya, refleksi itu tidak hanya datang dari mahasiswi. Jimas Al-Muamar, mahasiswa Jurnalistik, menempatkan Kartini dalam kerangka perjuangan yang lebih luas. Ia menolak narasi tunggal bahwa kemerdekaan dan perubahan sosial hanya digerakkan oleh laki-laki. Bagi Jimas, Kartini adalah bukti bahwa perempuan juga aktor historis yang menentukan arah bangsa.

Baca Juga:

Di antara suara-suara itu, Kartini muncul bukan sebagai figur yang selesai dibaca, melainkan sebagai gagasan yang terus dinegosiasikan. Ia adalah pahlawan perempuan Indonesia bukan karena dimitoskan, tetapi karena warisannya masih bekerja hingga hari ini. Emansipasi yang ia perjuangkan belum sepenuhnya tuntas, namun telah membuka jalan bagi generasi baru untuk melanjutkan.

Hari Kartini, dengan demikian, bukan hanya tentang mengenang. Ia adalah ajakan untuk menguji Kembali, sejauh mana kesetaraan benar-benar hadir, dan sejauh mana keberanian Kartini masih hidup dalam pilihan-pilihan kita hari ini.(Magang/Tanya Zalzalbilla)

 


Related Stories