Inovasi Bata dari Limbah Serbuk Kayu Dukung Green Building Materials

Menumpuknya limbah serbuk kayu (grajen) dari industri mebel di Desa Senden, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, mendorong tim pengabdian Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melakukan terobosan pengolahan limbah menjadi bata ramah lingkungan. (UMS)

JAKARTA, WongKito.co — Penumpukan limbah serbuk kayu (grajen) dari industri mebel di Desa Senden, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, mendorong tim pengabdian Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menciptakan inovasi pengolahan limbah menjadi bata ramah lingkungan.

Program "Penerapan Teknologi Inovasi Pengolahan Limbah Grajen untuk Pembuatan Bata Dinding Ramah Lingkungan" ini diketuai dosen Teknik Sipil UMS, Alfia Magfirona. Dia mengatakan limbah grajen sebenarnya memiliki nilai ekonomis tinggi jika dikelola dengan teknologi yang tepat.

"Grajen yang selama ini dipandang sebagai limbah sebenarnya menyimpan potensi besar. Dengan teknologi tepat guna, limbah ini bisa diolah menjadi bahan bangunan ramah lingkungan sekaligus mengurangi pencemaran," ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Kamis, 28 Agustus 2025. 

Industri mebel di Desa Senden setiap hari menghasilkan 3-4 meter kubik grajen yang sebagian besar dibuang atau dibakar, sehingga menimbulkan pencemaran udara. Kondisi ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi industri mebel Indonesia secara keseluruhan, di mana limbah kayu mencapai volume yang signifikan tanpa pemanfaatan optimal.

Untuk mengatasi masalah ini, tim yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Program Studi Teknik Sipil dan Manajemen UMS memberikan bantuan mesin cetak bata otomatis serta alat pengayak. Tim juga memberikan pendampingan menyeluruh mulai dari tahap perancangan, implementasi, hingga pengawasan mutu. 

Menumpuknya limbah serbuk kayu (grajen) dari industri mebel di Desa Senden, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, mendorong tim pengabdian Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melakukan terobosan pengolahan limbah menjadi bata ramah lingkungan. 

Anggota tim, Muhammad Ujianto, menjelaskan pentingnya kontrol kualitas agar produk sesuai dengan standar nasional. "Kami mendampingi mitra dalam setiap tahap, dari formula pencampuran grajen dengan tanah liat hingga pengawasan mutu agar bata yang dihasilkan memenuhi standar SNI," jelasnya.

Program ini bermitra dengan Kelompok Pengrajin Mebel Senden Jaya pimpinan Triyono yang memiliki 17 anggota. Para pengrajin dilatih mengoperasikan mesin, merawat peralatan, dan memahami teknik produksi bata ramah lingkungan yang mendukung gaya hidup berkelanjutan (sustainable living).

Konsep sustainable living yang diterapkan dalam program ini tidak hanya berdampak pada pengurangan limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat. Dengan target produksi 200 bata per hari, program ini diperkirakan dapat mengurangi timbunan grajen hingga 1,5 meter kubik per hari, sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan bagi pengrajin.

Dari aspek pemasaran, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS, Muzakar Isa, mendorong penerapan strategi hybrid. Hal itu dengan memadukan penjualan konvensional melalui toko bangunan lokal dengan pemasaran digital lewat platform Tokopedia dan Instagram untuk memperluas jangkauan pasar.

Kontribusi Terhadap Green Building Materials

Inovasi bata dari limbah grajen ini turut mendukung perkembangan material bangunan hijau (green building materials) di Indonesia. Mengingat sektor konstruksi menjadi salah satu penyumbang terbesar pemanasan global, penggunaan material alternatif seperti bata dari limbah kayu dipandang menjadi solusi strategis.

Program ini melibatkan mahasiswa, termasuk Nabil Belantara Kusuma dari Teknik Sipil UMS. Baginya, keterlibatan ini memberikan pengalaman berharga dalam penerapan ilmu secara langsung. "Kami mempraktikkan ilmu di lapangan dan belajar bagaimana teknologi sederhana bisa mengubah limbah menjadi bernilai," tutur Nabil.

Kegiatan yang memperoleh dukungan anggaran Rp49.995.500 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini menargetkan kapasitas produksi 200 bata per hari. Diharapkan program ini dapat mengurangi timbunan grajen sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Secara ekonomi, program ini didorong menciptakan diversifikasi produk bagi pengrajin mebel dan membuka peluang pasar baru dalam industri material bangunan ramah lingkungan. Secara lingkungan, inovasi ini berkontribusi pada pengurangan emisi karbon yang biasanya dihasilkan dari pembakaran limbah kayu. 

Dengan mengolah 3-4 meter kubik grajen per hari menjadi produk bernilai, program ini membantu mengurangi jejak karbon industri mebel lokal. Konteks yang lebih luas menunjukkan bahwa industri kayu dan furnitur Indonesia memiliki nilai ekspor yang mencapai US$11,7 miliar dengan pertumbuhan 8,6% pada 2024. 

Inovasi seperti yang dilakukan tim UMS dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global yang semakin mengutamakan aspek keberlanjutan. UMS berharap model pemberdayaan ini dapat direplikasi di daerah lain yang menghadapi permasalahan serupa untuk memperkuat ekonomi desa sekaligus mengurangi dampak lingkungan akibat limbah industri. 

Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com oleh Chrisna Charis Cara pada 28 Agustus 2025.

Editor: Redaksi Wongkito
Bagikan
Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories