Jejak Pahlawan Nasional di Museum AK Gani Palembang

Sepeda milik Pahlawan Nasional AK Gani menjadi salah satu barang yang dipamerkan di Museum AK Gani (Foto WongKito.co/Magang/Naila Safira)


DI balik bangunan yang tampak sederhana, tak terpikir olehku akan menyimpan beragam peninggalan perjuangan salah satu tokoh penting bangsa, iya, aku ke Museum AK Gani, pahlawan nasional yang berlokasi pada salah satu sudut Kota Palembang.

Museum yang berdiri kokoh di Jalan MP Mangkunegara, Palembang sejak 15 Januari 2004 ini dikelola oleh keluarga keturunan Adnan Kapau Gani atau AK Gani melalui Yayasan Anak Kapau Gani. Lepas dari pakem museum milik negara, operasional museum ini bergantung pada pengelolaan keluarga dan pemasukan dari donasi para pengunjung.

Melangkah ke dalam ruang pamer, suasana seolah mengajakku dan tim WongKito.co kembali ke masa perjuangan kemerdekaan. Dinding museum dipenuhi dokumentasi visual berupa foto-foto perjalanan hidup AK Gani, mulai dari masa muda, kiprahnya sebagai pejuang, hingga saat menjabat sebagai menteri.

Di berbagai sudut ruangan juga tersimpan piagam penghargaan, bintang jasa, perlengkapan militer dan dinas, barang-barang pribadi, peralatan kedokteran, mobil jeep dan sepeda ontel, serta berbagai buku referensi yang pernah digunakan maupun berkaitan dengan perjalanan hidupnya.

Di tengah kepungan ratusan koleksi, ada dua memorabilia yang paling memikat langkahku yaitu barisan foto-foto dokumentasi yang mulai memudar dan deretan buku-buku usang.

"Yang paling otentik itu foto sama buku-buku. Itu asli," ujar Desi (50), pengurus museum yang juga istri dari keturunan AK Gani, dijumpai Senin (21/9/2026) .

Baca Juga:

Menyusuri jajaran foto yang terpajang, pengurus museum menuturkan seluruh lembaran foto bukanlah replika, melainkan jepretan asli dari masa lalu. Begitupun, berjejer buku-buku sepuh yang setia menemani perjalanan hidup Dr. AK Gani sejak masih bersekolah hingga masa pengabdiannya sebagai pejabat negara.  

Mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Desi, aku baru mengetahui bahwa museum AK Gani dikelola secara mandiri oleh keluarga dan Priyanti Gani berdiri sebagai Kepala Museum AK Gani.

"Karena museum ini milik yayasan, jadi memang kami keluarga yang mengurus semuanya. Kalau lagi tidak ada kegiatan, ya kami bersih-bersih sendiri," tuturnya.

Tidak adanya tenaga khusus membuat perawatan koleksi dilakukan secara gotong royong. Saat melihat debu mulai menempel pada etalase maupun benda koleksi, keluarga langsung membersihkannya. Tidak ada jadwal tetap membersihkannya.

"Kalau sudah kelihatan kotor ya langsung dibersihkan. Kadang tiga hari sekali, kadang seminggu sekali, tergantung kondisinya," ujarnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, museum ini sempat memperoleh bantuan rehabilitas bangunan dari Kementerian Kebudayaan. Desi menduga, kunjungan Menteri Kebudayaan pada 11 September 2026 lalu berkaitan dengan peninjauan hasil bantuan tersebut.

"Kalau bantuan untuk perawatan rutin dari pemerintah tidak ada. Yang kemarin itu bantuan rehabilitasi museum dari kementerian," jelasnya.

Objek Penelitian

Meski dikelola secara mandiri, museum AK Gani tetap menjadi ruang belajar sejarah yang terbuka bagi masyarakat.

Meski digerakkan lewat jalur swadaya, Museum AK Gani tetap terbuka lebar sebagai beranda ilmu dan mengundang siapa saja yang ingin menyesap sejarah perjuangan.

Bahkan, museum kerap menjadi lokasi penelitian, diskusi komunitas, bedah buku, donor darah, hingga produksi film dokumenter.

"Sering sekali ada anak TK, SD, SMP, SMA sampai mahasiswa datang ke sini. Banyak juga yang cari data skripsi. Komunitas juga sering mengadakan kegiatan di sini," kata Desi.

Tak hanya pengunjung lokal, ruang memori ini juga kerap disinggahi wisatawan mancanegara. Menurut penuturan Desi, tamu dari Australia, Belanda, Jepang, Korea Selatan hingga Pakistan pernah datang untuk melihat langsung jejak sejarah AK Gani.

Baca Juga:

Meski jam kunjungan resmi dipatok dari pukul 08.00 hingga sore hari, pengelola museum selalu punya ruang untuk toleransi. Letak rumah pengelola yang bersebelahan langsung dengan ruang pamer membuat mereka selalu terbuka menerima kedatangan pengunjung, bahkan saat hari sudah beranjak malam.

Pengelola juga tidak menetapkan tarif masuk museum, pengunjung hanya diharuskan mengisi daftar hadir dan berdonasi seikhlasnya. 

"Kalau ada yang datang sore atau hari Minggu tetap kami bukakan. Kasihan kalau sudah jauh-jauh datang," ujarnya sambil tersenyum.

Usai menyisir seluruh ruangan, aku menyadari bahwa bangunan ini bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda lama. Setiap sudut yang menyimpan foto, piagam, buku, hingga perlengkapan militer kuno di sini, sejatinya membisikkan narasi perjalanan panjang seorang tokoh yang menyerahkan seluruh hidupnya demi tegaknya bangsa ini.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Museum AK Gani membuktikan bahwa merawat ingatan masa lalu bangsa tidak selalu bertumpu pada kemegahan fasilitas. Lewat ketekunan pihak keluarga yang telaten menjaga setiap koleksi otentik di dalamnya, ruang pamer ini akan tetap hidup menjadi ruang belajar bagi generasi penerus.(*Nur Izzati Kharisma)

*Mahasiswa Magang MBKM Prodi Jurnalistik, UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2024

 


Related Stories