KabarKito
Kabut Asap Palembang bikin Perih Mata dan Hidung
Disclaimer: Tulisan ini pengumpulan datanya sebagian dibantu AI
PALEMBANG, WongKito.co – Pagi di Kota Palembang, Selasa (29/9/2026), bau sengit asap terhirup tanpa permisi, langit tidak cerah, meskipun samar matahari menampakan diri.
Tak hanya di Kota Palembang, sejumlah daerah juga kabut asap dilaporkan tebal. Salah satunya, di kawasan Jalur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.
"Pagi ini saya mendapat foto jarak pandang di Jalur sangat dekat, asap pekat menyelimuti," kata Munir warga asal Muara Sugihan, Jalur, Kabupaten Banyuasin.
Sedangkan Iin warga Palembang mengaku sejak keluar pagi ke Pasar 26 Ilir, ia merasakan perih dimata dan hidung. "Seperti ditusuk-tusuk benda kecil mata saya, perih dan berair," kata dia.
Bagi warga yang harus berangkat bekerja, mengantar anak sekolah, berdagang, atau menjalankan aktivitas di luar ruangan, asap bukan lagi sekadar pemandangan di kejauhan.
Baca Juga:
- BRI Sekayu Perkuat Penyaluran KUR 2026 untuk UMKM Musi Banyuasin
- Membaca Nilai Toleransi Gurindam Dua Belas di Tanah Melayu Tanjungpinang
- InJourney Airports Perkuat 35 UMKM Banyuwangi lewat Program ICH 2026
Berdasarkan laporan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumatera Selatan pada Selasa pagi, ISPU Palembang mencapai 282, yang termasuk kategori sangat tidak sehat. Angka tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di level 172 atau kategori tidak sehat. Parameter PM2,5 menjadi salah satu penyumbang utama buruknya kualitas udara.
Pemantauan BMKG juga menunjukkan tingginya konsentrasi partikulat di Palembang. Pada pemantauan dini hari, Stasiun PM2.5 Musi 2 mencatat konsentrasi partikulat yang berada pada level sangat tinggi. Kondisi memburuk sejak Senin (28/9) malam dan bertahan hingga Selasa pagi.
Hotspot Sumsel Kembali Meningkat
Di balik udara yang memburuk di Palembang, aktivitas kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan masih menjadi perhatian.
Data pantauapi.my.id mencatat 1.634 hotspot di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung hingga Selasa malam.
Sementara berdasarkan pemantauan BPBD dan DLHP Sumsel yang diberitakan pada Selasa, jumlah hotspot Sumsel dalam pemantauan 24 jam mencapai 1.776 titik. Pada periode yang sama tercatat sebanyak 76 kejadian karhutla.
Perbedaan angka tersebut perlu dibaca sesuai dengan metodologi dan waktu pemantauan masing-masing sistem. Hotspot satelit juga tidak selalu berarti titik tersebut merupakan kebakaran aktif, sehingga verifikasi lapangan tetap diperlukan.
Namun, bagi warga Palembang, persoalan yang paling terasa adalah dampaknya, mata perih, hidup perih dan jarak pandang terganggu.
Ketika Asap Masuk ke Ruang Kehidupan
Data kesehatan memberikan gambaran mengenai dampak tersebut.
Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat 125.721 kasus ISPA sepanjang 2026. Pada 1–21 September saja terdapat 12.589 kasus ISPA, dan peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan memburuknya kualitas udara akibat kabut asap karhutla.
Sebelumnya, Pemprov Sumsel menyebut peningkatan ISPA juga terlihat di sejumlah puskesmas Palembang. Di wilayah Kertapati, misalnya, rata-rata terdapat sekitar 15–20 pasien ISPA per hari di setiap puskesmas kecamatan pada periode yang dilaporkan pemerintah. Kelompok usia anak dan remaja juga termasuk yang banyak ditemukan dalam data tersebut.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa persoalan kabut asap tidak berhenti di kualitas udara.
Asap masuk ke ruang kesehatan.
Anak, Orangtua dan Aktivitas yang Harus Berubah
Ketika kualitas udara memburuk, keluarga harus mengambil keputusan sehari-hari yang sebelumnya mungkin tidak perlu dipikirkan.
Apakah anak tetap bermain di luar?
Apakah perjalanan ke sekolah harus menggunakan masker?
Apakah pedagang tetap berjualan di ruang terbuka?
Apakah pekerja lapangan harus mengurangi aktivitas?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa dampak karhutla memiliki dimensi sosial yang lebih luas.
Sebelumnya, kabut asap juga membuat kegiatan belajar di Palembang harus disesuaikan. Dinas Pendidikan Kota Palembang mengevaluasi pembelajaran tatap muka setelah penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat kualitas udara yang memburuk. Kualitas udara dan kesehatan siswa menjadi salah satu pertimbangan dalam keputusan tersebut.
Artinya, asap dapat mengubah bukan hanya cara warga bernapas, tetapi juga cara anak belajar dan keluarga menjalankan rutinitas sehari-hari.
Palembang Bukan Sumber Utama Api, tetapi Menerima Dampaknya
Persoalan lain yang perlu dilihat adalah posisi Palembang dalam krisis karhutla.
Tidak seluruh asap yang menyelimuti kota berasal dari kebakaran di dalam wilayah administrasi Kota Palembang. Pergerakan asap dipengaruhi lokasi sumber kebakaran, kondisi atmosfer, arah dan kecepatan angin, serta faktor meteorologis lainnya.
Namun, masyarakat kota tetap merasakan dampaknya.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika asap telah sampai ke permukiman.
Pencegahan kebakaran di wilayah sumber, pemadaman titik api, pemantauan kualitas udara, perlindungan kesehatan, dan penyampaian informasi kepada masyarakat perlu berjalan bersamaan.
Kementerian Kehutanan pada 29 September menyatakan pengendalian karhutla di Sumatera Selatan terus diperkuat setelah provinsi tersebut mencatat jumlah hotspot "high confidence" tertinggi di antara provinsi prioritas yang dipantau.
Saat Udara Menjadi Persoalan Bersama
Hari ini, persoalan kabut asap kembali mengingatkan bahwa karhutla bukan hanya tentang titik api di lahan.
Ada udara yang harus dihirup warga.
Ada anak yang harus tetap belajar.
Ada pedagang yang tetap harus mencari penghasilan.
Ada pekerja yang harus keluar rumah.
Baca Juga:
- Dorong Transformasi Ekonomi di Tengah Ketergantungan Batu Bara
- Harga Cabai Naik, Konsumen Sesuaikan Jumlah Pembelian
- Antara Setoran dan Harapan, Sopir Angkot Terus Bertahan
Dan ada keluarga yang harus mengambil keputusan untuk melindungi anggota keluarganya ketika kualitas udara memburuk.
Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH dan Kementerian Kesehatan kini mengintegrasikan informasi kualitas udara dengan SatuSehat. Masyarakat juga dapat memantau pembaruan kualitas udara melalui laman resmi ISPU yang diperbarui berkala. Pemerintah mengimbau warga yang mengalami keluhan seperti sesak napas atau batuk untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan.
Bagi warga Palembang, kabut asap hari ini bukan sekadar langit yang berubah warna.
Asap adalah pengingat bahwa ketika api membakar lahan di satu tempat, dampaknya dapat berjalan jauh hingga ke ruang hidup masyarakat di kota.(ert)

