Karhutla dan Tekanan Ekonomi, Perempuan Seri Bandung Mencari Jalan untuk Bangkit

Emilia menunjukan produk emping ubi yang diproduksi perempuan Desa Seri Bandung (Foto WongKito.co/Magang/Nur Izzati Kharisma)

EMILIA (40) warga Desa Seri Bandung, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan mengakui kini perekonomian semakin menurun.

Aktivitas perekonomian di desa yang sejak tahun 1980-an berkonflik lahan dengan kebun tebu milik perusahaan negara PTPN I Regional 7, kini semakin tak menentu.

Kebun mereka yang dirampas oleh perusahaan, sehingga warga sulit mengelola lahan yang telah dimiliki secara turun temurun membuat masyarakat harus ekstra usaha untuk mencari sumber kehidupan baru.

"Kami menanam di kebun, tetapi kebun diakui milik perusahaan dan akhirnya terusir dari lahan sendiri," kata Emilia, dibincangi Rabu (14/10/2026) di rumahnya di Desa Seri Bandung.

Baca Juga:

Dia bercerita banyak langkah yang telah dilakukan untuk bisa kembali mendapatkan hak atas lahan yang dikuasai perusahaan.

Bersama organisasi masyarakat lainnya bahkan terus menerus memperjuangkan penyelesaian konflik lahan milik warga Seri Bandung, tapi hasilnya hingga kini belum dimenangkan.

Tak mau berdiam diri, Emilia dan puluhan perempuan lainnya melakukan berbagai cara untuk bertahan hidup. Ia bercerita mereka menanam palawija, nanas dan karet di lahan yang berkonflik dengan PTPN, meskipun pernah diwaktu menjelang panen, perusahaan menggunakan eskavator justru meratakan tanaman yang telah dipelihara oleh warga tersebut.

Kondisi itu, menurut Emil sudah menjadi cerita lama yang hingga kini masih menimbulkan trauma bagi warga di desa yang berbatasan langsung dengan kebun milik PTPN I tersebut.

Bangun Usaha dari Perempuan untuk Perempuan

Kelompok Perempuan Pejuang Seri Bandung atau KPPS akhirnya dibentuk pada tahun 2014, sebagai jawaban untuk terus sama menguatkan antar perempuan di Desa Seri Bandung. Emilia mengungkapkan KPPS menjadi wadah perjuangan kaum perempuan dalam membangun dan menguatkan perekonomian perempuan desa.

Awalnya, kami mencoba berbagai usaha agar bisa berkelanjutan, termasuk membuat beragam kerajinan dari anyaman menggunakan tali, tetapi ternyata modalnya besar, untuk membeli bahan baku tali dan benang lumayan membutuhkan dana yang cukup besar.

Kemudian tahun 2018 mulai focus menanam ubi dan mengolah menjadi emping ubi dengan merek "Umak". Hingga sekarang produksi emping ubi masih berlanjut, hanya saja tergantung pesanan, ada pesanan langsung dibuatkan.

"Kami belum bisa produksi setiap hari karena terkendala juga pekerja, mesti disiapkan waktu khusus karena anggota KPPS ada yang bekerja menyadap getah karet bahkan jadi buruh di kebun tebu milik PTPN," tutur Emilia.

Emping ubi yang mereka produksi, tambah dia juga telah dijual keberbagai daerah, termasuk juga ketika ada pertemuan jaringan nasional baru-baru ini di Yogyakarta, dari Sumatera Selatan, emping ubi yang dibawah.

Hasil produksi perempuan Desa Seri Bandung tersebut dijual dengan Harga terjangkau dibanderol Rp35 ribu per kilogram.

Langganan Kabut Asap

Bagi masyarakat Desa Seri Bandung dan desa-desa lain yang berdampingan dengan kebun tebu milik perusahaan negara tersebut. Dampak asap karena karhutla nyaris setiap tahun mereka rasakan. Emilia menyebutkan sudah menjadi rahasia umum kalau perusahaan membakar sisa panen tebu, baru kemudian ditanam kembali.

Kondisi saat ini, sangat parah, hampir setiap hari terjadi pembakaran lahan, tak hanya di area kebun tebu milik perusahaan tetapi di wilayah lain yang berdekatan dengan kebun.

Bahkan, kebun warga pun kerap kali menjadi sasaran pembakaran.

NA (32) perempuan warga Desa Seri Bandung lainnya mengungkapkan selama musim kebakaran lahan ini kesulitan untuk tidur nyenyak. "Kami selalu was-was kebun kami terbakar," kata dia.

Bahkan menurut dia guna memastikan kebun tidak terbakar secara rutin memantau kebun, sebagai antisipasi terjadinya kebakaran.

Baca Juga:

Agar bisa memantau kebun tetap aman dari kebakaran, ia mengakui sering bolak balik ke kebun menggunakan motor mengontrol langsung kondisi kebun. Pernah, warga terpaksa mengendong tangki air untuk memadamkan api di kebun.

"Akibatnya, bukan hanya kelelahan yang dialami, tetapi biaya bahan bakar minyak juga terpaksa lebih mahal karena harus sering bolak balik ke kebun," ujar dia.

NA yang juga berjualan di rumah, mengatakan selama musim kabut asap bahkan sering kali dia menutup warung. "Asap pekat, pakai masker masih tembus debunya, warga tidak keluar rumah, sehingga tidak ada pembeli, warung pun terpaksa tutup," kata dia.    

Bagi Emilia dan NA, kabut asap menjadi salah satu masalah yang membuat masyarakat desa sulit untuk beraktivitas secara normal.

"Warung terpaksa tutup, otomatis pendapatan tidak ada," kata NA.

"Kami juga terpaksa mengurangi aktivitas di kebun karena asap dan was-was lahan terbakar," ucap Emilia (*Vyrania Kartika/Nila Ertina)

 *Mahasiswa Magang MBKM Prodi Jurnalistik, UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2024

Editor: Nila Ertina
‌‌
‌‌

Related Stories