KabarKito
Klaster Bhakti Tani Palembang, Sukses Lewat Klasterku Hidupku BRI
WongKito.co- Di hamparan sawah Desa Jaya Bakti, Kecamatan Madang Suku, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Provinsi Sumatera Selatan, denyut kehidupan petani tak pernah benar-benar lepas dari persoalan klasik, harga gabah yang fluktuatif, keterbatasan modal, hingga akses pasar yang tak selalu berpihak.
Sekitar 10 tahun silam, situasinya bahkan lebih menantang. Saat panen tiba, bukan keuntungan yang didapat, melainkan kebingungan.
Gabah melimpah, namun harga jatuh. Jika dipaksakan dijual, petani merugi. Jika diolah menjadi beras, belum tentu terserap pasar.
Di titik itulah, sebuah inisiatif sederhana muncul yang perlahan mengubah arah perjalanan para petani di Desa Jaya Bakti.
Dukungan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Region 4 Palembang melalui program Klasterku Hidupku semakin mendorong klaster usaha tersebut berkembang dan membawa manfaat bagi kesejahteraan para petani di wilayah tersebut.
Baca Juga :
- Masuk Global 500 2026, BRI Perkuat Posisi Merek Bernilai di Dunia
- Pedagang Makanan di UIN Palembang Naikkan Harga
- Yayasan Intan Maharani Perkuat Sinergi CLM dan Social Contracting
Ketua Klaster Lumbung Pangan Bhakti Tani, Mashudi, masih mengingat betul masa-masa itu. Sekitar 2016–2017, ia mengajak para petani untuk tidak buru-buru menjual hasil panen.
"Waktu itu harga gabah dan beras masih murah, belum seperti sekarang yang sudah ada standar harga dari pemerintah. Di saat panen, petani sering kesulitan menjual hasilnya. Jadi, saya ajak kawan-kawan petani untuk tidak langsung menjual gabah, tapi disimpan dulu. Nanti ketika musim paceklik atau harga sudah naik, baru diproses dan dijual," ujar Mashudi.
Langkah sederhana itulah yang menjadi titik awal terbentuknya Klaster Lumbung Pangan Bhakti Tani. Dari sekadar tempat menyimpan, perlahan berkembang menjadi wadah bersama bagi para petani untuk saling menguatkan.
Kini, jumlah anggotanya telah mencapai sekitar 100 orang. Meski berjalan dengan sistem yang masih sederhana, semangat gotong royong menjadi fondasi utama yang menjaga klaster ini tetap bertahan.
Baca Juga :
- Ramai Kritikan, SK Penanganan Disinformasi Dinilai Cacat Hukum
- Koalisi Media Alternatif : Kecam Keras Komdigi dan Dukung Magdalene
- Dorong Masyarakat Menabung, Undian Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel
"Jumlahnya dinamis, ada yang keluar, ada yang masuk lagi. Biasanya tergantung kondisi keuangan mereka. Kalau butuh cepat, mereka jual gabah langsung. Tapi kalau masih longgar, mereka simpan dulu untuk dijual saat harga bagus," ungkapnya.
Seiring waktu, klaster ini tak hanya mengandalkan penyimpanan gabah. Klaster usaha ini membangun ekosistem usaha yang saling terhubung.
Mashudi menceritakan, sebelum membentuk klaster lumbung pangan, ia terlebih dahulu telah aktif sebagai BRILink Agen sejak 2013, yang melayani berbagai kebutuhan keuangan masyarakat dan para petani.
Dari pertanian padi sebagai usaha utama, berkembang menjadi agen pupuk atau Kios Pupuk Lengkap (KPL) untuk memastikan kebutuhan produksi terpenuhi.
Baca Juga :
- Simak 7 Selebriti yang Punya Klub Buku atau Book Club
- Yuk Buat Kebab Ayam
- Siti Julaeha Buktikan IRT Bisa Sukses Bangun Usaha Bersama BRI Group
Menariknya, integrasi ini membuat aktivitas petani menjadi lebih efisien. Dari kebutuhan pupuk, proses tanam, hingga transaksi keuangan, semuanya bisa dilakukan lebih dekat dan praktis.
“Semua saling mendukung. Petani bisa langsung dapat pupuk, lalu hasil panen bisa ditampung. Untuk transaksi keuangan seperti angsuran ke BRI juga bisa lewat kami. Jadi semua terintegrasi di sini,” kata Mashudi.
Pemberdayaan BRI Melalui Klasterku Hidupku Bantu Petani Bertumbuh
Perjalanan klaster ini kemudian memasuki babak baru saat mendapat pendampingan BRI Region 4 Palembang melalui Program Klasterku Hidupku.
Berawal dari upaya klaster mengembangkan usaha pengemasan beras, BRI melihat potensi yang bisa didorong lebih jauh.
Mashudi mengatakan, BRI tidak hanya memberikan akses pembiayaan, tetapi juga menghadirkan pendekatan pemberdayaan yang lebih menyeluruh, mulai dari pelatihan teknik packing beras hingga pendampingan usaha.
“Kalau dulu petani banyak bergantung ke tengkulak, sekarang sudah bisa akses pinjaman KUR BRI dengan bunga yang lebih ringan,” ujar Mashudi.
Dampaknya terasa nyata. Petani kini memiliki ruang untuk mengelola usaha dengan lebih leluasa, tanpa tekanan harga yang timpang.
Tak berhenti di pemberdayaan usaha, dukungan BRI juga dirasakan warga Desa Jaya Bakti melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dengan pemberian bantuan berupa 1 (satu) unit hand tractor.
Bagi sebagian orang, alat ini mungkin terlihat biasa. Namun bagi petani di Desa Jaya Bakti, kehadirannya membawa perubahan besar.
“Dulu kalau mau olah tanah harus menunggu 10 hari sampai dua minggu. Sekarang bisa lebih cepat, sekitar lima sampai tujuh hari sudah selesai,” tutur Mashudi.
Efisiensi waktu ini berimbas langsung pada produktivitas. Petani bisa lebih cepat masuk ke musim tanam berikutnya, sekaligus mengurangi potensi kehilangan hasil.
Meski belum sepenuhnya menggunakan sistem manajemen modern, klaster ini perlahan menunjukkan transformasi.
Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tengkulak. Akses ke pembiayaan lebih terbuka, proses produksi lebih efisien, dan peluang usaha mulai berkembang.
Bahkan, aktivitas seperti pengemasan beras turut membuka peluang kerja baru, meski masih dalam skala terbatas.
Di lain pihak, Luthfi Iskandar selaku Regional CEO BRI Region 4 Palembang mengungkapkan, BRI tidak hanya memberikan akses pembiayaan yang mudah dan terjangkau bagi pelaku usaha, tetapi juga menyertakan pemberdayaan seperti pelatihan manajemen usaha, literasi keuangan, digitalisasi bisnis, dan pendampingan yang berkelanjutan melalui program Klasterku Hidupku.
Hingga saat ini, BRI Region 4 Palembang melalui Program Klasterkuhidupku telah memberdayakan sebanyak 3.548 kalster usaha.
“Pendekatan ini bertujuan menciptakan ekosistem usaha yang sehat dan berkelanjutan, sehingga para pelaku usaha dapat naik kelas dan memperluas jangkauan pasar mereka. Program pemberdayaan terintegrasi ini diharapkan juga dapat meningkatkan pendapatan serta membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas bagi masyarakat sekitar," tegas Luthfi.

