Koperasi Kompos, Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Pupuk

Koperasi Kompos (DW)

JAKARTA,  WongKito.co - Sebuah inovasi hadir dari pengelolaan koperasi yang dibentuk dengan konsep ramah lingkungan. Tempat yang biasa digunakan untuk simpan pinjam uang, kini hadir dengan gaya baru yang menghasilkan produk kompos dari sisa makanan.

Berdasarkan postingan pada akun Instagram (@laporiklim), 14 Desember 2025, sebuah Koperasi Kompos Kompos RW 16, Penggilingan, Jakarta Timur, memperkenalkan pendekatan edukatif untuk mengurangi timbulan sampah sisa makanan melalui pengelolaan sampah organik berbasis komposting.

Inisiatif ini ditujukan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola limbah dapur yang selama ini kerap berakhir di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).

Koperasi tersebut mengisi kegiatan dengan memberikan edukasi bahwa sisa makanan seperti sayuran, kulit buah, dan limbah organik lainnya memiliki potensi untuk diolah kembali menjadi kompos. Proses ini tidak hanya mampu menekan volume sampah, tetapi juga menghasilkan manfaat tambahan berupa pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman.

Dengan skema kolektif, anggota koperasi tersebut dapat memilah sampah dapur menggunakan ember, lalu petugas koperasi menjemputnya selama tiga kali seminggu untuk diolah. Kini, koperasi tersebut memiliki sekitar 150 anggota, dengan pengolahan 300–400 kilogram per pekan atau sekitar 1,5 ton per bulan.

Hasil kompos tersebut, dibagikan kembali kepada anggota secara berkala. Sementara itu, data pengelolaan dan penggunaan anggaran dapat diakses lewat situs resmi, dan pertemuan rutin untuk evaluasi. Transparansi ini menjadi salah satu kunci dalam menjaga partisipasi warga supaya tetap konsisten.

Pendekatan yang diperkenalkan relatif sederhana ini, dapat diterapkan di lingkungan rumah tangga. Masyarakat diajak untuk memulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik, kemudian mengolah limbah organik dengan metode komposting yang mudah dilakukan, tanpa memerlukan peralatan khusus atau biaya besar.

Upaya ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan, khususnya di kawasan perkotaan. Sampah sisa makanan dapat diolah secara harian, sehingga pengelolaan dari sumbernya dinilai sebagai langkah strategis untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Selain aspek lingkungan, program edukasi tersebut juga mengandung nilai pemberdayaan masyarakat. Dengan memahami siklus pengelolaan sampah organik, warga diharapkan tidak hanya berperan sebagai penghasil sampah, tetapi juga sebagai bagian dari solusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Inisiatif Koperasi Kompos RW 16 menunjukkan bahwa upaya pengurangan sampah dapat dimulai dari skala kecil, tetapi memberikan dampak yang luas apabila diterapkan secara konsisten dan kolektif. 

Keberhasilan ini menjadi contoh konkret bahwa kolaborasi warga, pengurus lingkungan, dan pengelola koperasi dapat berperan penting dalam mendukung target pengelolaan sampah berkelanjutan. 

Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 7 Januari 2025. 

Editor: Redaksi Wongkito
Bagikan
Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories