Pentingnya Gerakan Masyarakat Melawan Stigma bagi ODHA

Pentingnya Gerakan Masyarakat Melawan Stigma bagi ODHA (Foto WongKito.co/Ist)

PALEMBANG, WongKito.co - Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sampai kini masih menjadi kelompok marginal atau yang posisinya belum setara di lingkungan mayoritas masyarakat Indonesia.

Di Kota Palembang dan umumnya di Sumatera Selatan hal tersebut juga masih menjadi praktik sosial yang kerap dijumpai berbagai permasalahan.

Ketua Yayasan Intan Maharani, Syahri bercerita beberapa tahun ini pihaknya mengadvokasi sejumlah kasus karena penyintas HIV terungkap, diantaranya diberhentikan bekerja dan bahkan ada yang diusir dari kos-an karena ketahuan HIV.

Baca Juga:

Kondisi tersebut, tentunya sangat memprihatinkan karena sesungguhnya, penyebaran HIV sangat spesifik bukan seperti virus atau penyakit lainnya, kata dia dalam pertemuan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam upaya pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap populasi kunci dan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), Kamis (12/2/2026).

Syahri menambahkan saat ini secara layanan untuk HIV sebenarnya sudah sangat memadai, setiap Puskesmas dan rumah sakit di Kota Palembang melayani VCT dan pengobatan HIV.

Namun, di sisi lain stigma dan diskriminasi dari masyarakat terhadap penyintas HIV/AIDS bagi sangat tinggi, tambah dia.

Yuli dari Dinas Kesehatan Kota Palembang mengungkapkan angka penyintas HIV tercatat sebanyak 2.163 orang pada Januari 2026.

Dari data tersebut, tidak semuanya merupakan warga Kota Palembang, melainkan dari berbagai kabupaten dan kota, seperti Banyuasin dan Ogan Komering Ilir.

Pemkot Palembang hingga kini telah mengoptimalkan 42 puskesmas untuk melayani rapid tes hingga pengobatan Antiretroviral (ARV).

HIV tidak Menakutkan

Syahri menambahkan gerakan melawan stigma penyintas HIV/AIDS menjadi sangat mendesak di era sekarang ini.

Mengingat hingga kini terjadi perkembangan yang luar biasa terhadap pengobatan penyintas HIV/AIDS. Jika dianologikan dengan penyakit darah tinggi, treatmen terhadap HIV tidak jauh berbeda.

"Saya sudah 15 tahun ini meminum obat darah tinggi, begitu juga penyintas HIV kini sudah mengontrol virusnya dengan mengonsumsi ARV setiap hari," kata Syahri mencontohkan.

Hal senada diungkapkan Yuli dari Dinas Kesehatan Palembang, sebenarnya pengobatan diabetes dengan HIV tidak jauh berbeda, harus mengonsumsi obat setiap hari.

Baca Juga:

Kondisi terkini, dengan melakukan pengobatab rutin atau minum ARV setiap hari penyintas HIV bahkan bisa hidup sangat sehat dan baik.

"Saya bahkan kerap bertemu dengan penyintas HIV yang memiliki segudang aktivitas dan tidak terlihat kalau ditubuhnya ada virus. Karena sesungguhnya pengendalian virus juga akan melemahkan virus tersebut, dan penyintas bisa hidup layaknya mereka tanpa virus," kata dia lagi.

Syahri mengungkapkan pertemuan kali ini melibatkan juga kawan-kawan perwakilan kampus di Kota Palembang, seperti UIN Raden Fatah dan Universitas Tridinanti.

"Kami menargetkan ada kolaborasi dari semua pihak yang hadir untuk bisa membangun gerakan melawan stigma terhadap penyintas HIV/AIDS," kata dia lagi.(Nila Ertina)



 


Related Stories