BucuKito
Sahabat Kecil, Sahabat Alam: Bagaimana Hewan Peliharaan dan Lingkungan yang Baik Membentuk Anak yang Ceria
Oleh: Ananda Aulia Ramdhiani, Dea Amanda Jovita, Fadillah Arika, Fatimah Nur Mutmainah, Marisa, Aisyah Maylan Fitri dan Marcella Jumieyanie Sanny*
DALAM proses tumbuh kembang anak, keberadaan hewan peliharaan dan lingkungan yang baik dan sehat sangat berperan penting.
Hewan peliharaan mengajarkan anak-anak tentang kasih sayang, tanggung jawab, dan empati, sementara lingkungan yang bersih dan asri memberikan ruang bagi mereka untuk bermain dan belajar.
Hasil dari interaksi ini bisa membentuk karakter anak, juga membantu anak memahami pentingnya berteman dan memaafkan, serta memberikan dorongan untuk menghentikan perilaku bullying.
Belajar Berempati
Selain menyenangkan, bermain dengan hewan juga bisa mengajari anak-anak tentang berempati.
Baca Juga:
- Tata Kelola Unggul Bawa BRI Raih Prestasi di The 15th IICD Corporate Governance Award
- Minta Pembangunan Jalan dan Alsintan, Reses Tahap I Anggota DPRD Provinsi Sumsel Dapil III Tampung Aspirasi Masyarakat
- Pemberdayaan Komunitas Perempuan di Lamongan Menguat dengan Pendampingan BRI
Apabila anak berinteraksi langsung dengan hewan, anak bisa belajar memahami bagaimana perasaan makhluk hidup lain, menghargai perbedaan, dan bahkan mengembangkan rasa tanggung jawab. Hewan peliharaan bisa menjadi teman bagi anak yang mengajari dan melatih anak bagaimana saling menyayangi, kesabaran, dan pentingnya merawat sesama.
“Disitu ada kandang hewan kak, isinya ada ayam, burung puyuh, sama angsa. Tapi sekarang angsanya udah ga ada lagi”(adik A)
“...tadi foto ayam ya? ceritain dong kenapa foto ini” “gapapa kak lucu aja” (adik F)
“...ada berapa ya kira-kira ayamnya?” “ada 15 ekor kak, itu satu dia lagi bertelur”
Dengan anak mengamati dan berinteraksi dengan hewan, anak-anak bisa belajar menghargai kehidupan makhluk lain dan juga belajar memahami perasaan mereka. Contohnya seperti kutipan di atas, ketika adik-adik tersebut melihat ayam juga memiliki proses alami seperti bertelur membuat mereka lebih peka terhadap kebutuhan dan keberadaan hewan di sekitar mereka. Sehingga memang bermain dan belajar tentang hewan seperti ayam dapat menjadi media yang dapat dipertimbangkan untuk mengajarkan rasa empati kepada anak-anak. Ketika adik F menyebutkan bahwa salah satu ayam sedang bertelur, dia tidak hanya menunjukkan pengetahuan tentang ayam tetapi juga menunjukkan rasa peduli terhadap mereka.
Hentikan Bullying
Adanya rasa empati pada anak menjadi salah satu kunci untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari bullying. Dengan rasa empati yang dimilikinya, anak dapat memahami perasaan mereka dan menyadari betapa menyakitkan tindakan bullying.
Ketika anak mampu merasakan atau mengerti penderitaan yang dialami korban bullying, mereka akan terdorong untuk tidak melakukan perilaku tersebut. Empati juga bisa menjadi jembatan untuk menjalin persahabatan yang lebih kuat.
Dengan memahami perasaan temannya, anak bisa lebih menghargai perbedaan dan membangun kepercayaan. Apabila terjadi permasalahan di antara anak, empati memungkinkan mereka untuk memaafkan dengan tulus. Melalui empati, anak dapat membangun hubungan yang saling mendukung dan penuh kasih sayang.
“..perasaannya kalo diperlakukan gitu gimana dek (bullying)?” “sedih (Asma, 7 tahun)” “terus maafan ga? Asma maafin ga?” “Iya kak (Asma, 7 tahun)”
“..disini pernah terjadi bullying seperti yang kakak jelasin tadi dek? apa yang terjadi?” “nolak-nolak, berantem (Fadiah, 8 tahun)” “terus gimana baikannya? lama ga berantemnya dek? ” “minta maaf kak, ga lama (Fatimah, 9 tahun)”
Berdasarkan pembicaraan bersama anak- anak di Yayasan Nimas Ayu Pembayun tersebut dapat dipahami jika mereka memang memiliki rasa empati yang cukup baik yang dilihat dari pemahaman mereka mengenai dampak yang dirasakan jika kejadian bullying itu terjadi misalnya akan merasakan perasaan sedih atau tidak nyaman.
Anak-anak tersebut menunjukkan tingkat empati yang cukup tinggi, dimana mereka dapat membayangkan perasaan orang lain yang menjadi korban bullying. Sehingga anak-anak tersebut memahami pentingnya meminta maaf apabila telah berbuat salah dan kasar kepada teman ataupun memaafkan teman jika terjadi konflik di antara mereka. Dengan saling meminta maaf konflik kecil dapat diselesaikan dengan cepat tanpa adanya tindakan bullying yang terjadi lagi dan tercipta lingkungan pertemanan yang mendukung tumbuh kembang anak menjadi anak yang ceria.
Bersih bikin Senang Hati
Lingkungan main yang bersih membuat waktu bermain menjadi lebih seru, menyenangkan, dan penuh kegembiraan. Ketika tempat bermain terbebas dari sampah dan kotoran, anak-anak bisa menikmati setiap kegiatan bermainya tanpa rasa takut akan terkenal penyakit.
Berlari, melompat, dan bermain bersama teman-teman menjadi lebih nyaman karena lingkungan yang rapi memberikan rasa aman. Selain itu, tempat yang bersih juga terlihat lebih indah dan asri, sehingga suasana hati anak-anak di sana menjadi bahagia.
" Ini halaman tempat kami main kak setiap sore, kami biasanya main petak umpet, lari-larian. Kadang-kadang juga main kejar-kejaran sama ayam". (Adik A)
“…ohh jadi dipakai pas qurban aja?” “iya kak, tapi ini isinya ada sampahnya” (Adik F).
Dari kutipan anak-anak Yayasan Nimas Ayu Pembayun di atas, bahwa lingkungan bermain yang bersih memberikan dampak positif terhadap kebahagiaan dan kenyamanan anak. Seperti yang digambarkan oleh Adik A, bermain di halaman yang bersih dan rapi membuat mereka bisa menikmati waktu bermain dengan leluasa, seperti bermain petak umpet dan lari-larian.
Baca Juga:
- Memupuk Kesadaran untuk Menjaga Sumber Kehidupan, Jaga Kebersihan Sungai, Jangan Buang Sampah
- IHSG pada 29 November 2024 Kembali Ditutup Melemah
- 20 Finalis UMKM Perempuan Berebut hadiah Modal Rp115 juta, Sisternet Gelar Kompetisi Modal Pintar 2024
Selain itu, Adik F juga menunjukkan pentingnya kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya, meskipun di tempat yang digunakan untuk kegiatan seperti bakar daging saat qurban. Sehingga anak-anak bisa menerapkan perilaku untuk menjaga kebersihan agar lingkungan tetap nyaman dan sehat, dan terciptanya suasana hati yang ceria dan mendukung aktivitas yang menyenangkan.
Maka dari itu, lingkungan seperti keluarga diharapkan dapat lebih mengerti tentang pentingnya peran dari hewan peliharaan dan lingkungan bermain yang bersih terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak yang senantiasa berada di lingkungan yang bersih dan berinteraksi dengan hewan dapat tumbuh menjadi individu yang ceria, sehat, berkepribadian yang kuat, serta sadar betapa pentingnya menjalin hubungan sosial dengan baik dan kelestarian lingkungan sekitarnya.
*Mahasiswa FKM Unsri dan Siswa SMAN Sumatera Selatan