Simak Tren Konsumsi Pertamax di Indonesia

Suasana antrean BBM di Palembang (Foto WongKito.co/Dok)

JAKARTA, WongKito.co– Di balik polemik kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dari yang sebelumnya Rp12.300 per liter memicu berbagai reaksi dari masyarakat. Selisih kenaikan mencapai Rp3.950 per liter membuat banyak pengguna kendaraan mulai menghitung ulang pengeluaran transportasi mereka.

Lalu seberapa  banyakkah pengguna Pertamax  di Indonesia?

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan konsumsi bensin RON 92 atau Pertamax mencapai sekitar 6,39 juta kiloliter sepanjang 2024.

Angka tersebut meningkat dibandingkan konsumsi tahun 2023 yang tercatat sekitar 5,44 juta kiloliter. Dengan kata lain, terjadi kenaikan sekitar 17% dalam satu tahun.

Baca Juga:

Pencapaian tersebut menjadi salah satu level konsumsi Pertamax tertinggi dalam satu dekade terakhir dan menunjukkan semakin banyak masyarakat yang beralih ke BBM dengan kualitas oktan lebih tinggi.

Tren kenaikan konsumsi Pertamax tidak berhenti pada 2024. Sepanjang 2025, Pertamina mencatat konsumsi Pertamax tumbuh sekitar 20% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya mobilitas masyarakat serta bertambahnya jumlah kendaraan yang direkomendasikan menggunakan BBM beroktan lebih tinggi.

Lonjakan konsumsi juga terlihat pada periode libur panjang. Saat Natal dan Tahun Baru 2025/2026, penyaluran Pertamax sempat mencapai sekitar 21.609 kiloliter per hari, salah satu level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Data ini menunjukkan jika pengguna Pertamax bukan lagi segmen kecil, melainkan bagian penting dari konsumsi energi nasional.

Pertamax dan Pertalite Kuasai Pasar Bensin

Di pasar bahan bakar bensin nasional, Pertamax dan Pertalite masih menjadi pemain dominan.

Kedua jenis BBM tersebut menguasai sekitar 95% hingga 96% pangsa pasar bensin di Indonesia. Artinya, hampir seluruh kendaraan berbahan bakar bensin di Indonesia mengandalkan salah satu dari dua produk tersebut.

Meski Pertalite masih menjadi pilihan utama masyarakat karena harganya lebih murah, jumlah pengguna Pertamax terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya kesadaran terhadap kualitas bahan bakar dan kebutuhan mesin kendaraan modern.

Salah satu faktor utama adalah perubahan spesifikasi kendaraan yang beredar di Indonesia.

Banyak mobil keluaran terbaru memiliki rasio kompresi mesin yang lebih tinggi sehingga membutuhkan bahan bakar dengan oktan minimal RON 92. Penggunaan Pertamax dianggap mampu memberikan pembakaran yang lebih optimal sekaligus membantu menjaga performa mesin.

Selain itu, Pertamax juga mengandung aditif yang diklaim membantu menjaga kebersihan ruang bakar dan mengurangi pembentukan kerak karbon. Kondisi tersebut membuat Pertamax semakin populer di kalangan pengguna mobil pribadi, terutama di wilayah perkotaan.

Besarnya konsumsi Pertamax menunjukkan bahwa dampak kenaikan harga tidak hanya dirasakan kelompok tertentu.

Baca Juga:

Jika konsumsi nasional mencapai jutaan kiloliter per tahun, maka perubahan harga Rp3.950 per liter berpotensi memengaruhi pengeluaran jutaan rumah tangga yang menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin.

Bagi pengguna kendaraan dengan mobilitas tinggi, tambahan biaya dapat mencapai ratusan ribu rupiah per bulan. Dalam skala ekonomi yang lebih luas, kenaikan harga Pertamax juga berpotensi memengaruhi biaya transportasi, logistik, serta daya beli masyarakat kelas menengah.

Karena itulah setiap perubahan harga Pertamax hampir selalu menjadi perhatian publik dan memiliki dampak yang jauh lebih luas dibanding sekadar kenaikan harga di SPBU.

Dengan konsumsi yang telah menembus 6,39 juta kiloliter per tahun dan pertumbuhan yang terus meningkat, Pertamax kini bukan lagi produk untuk segmen terbatas. Kenaikan harganya menjadi isu yang menyentuh jutaan pengguna kendaraan di seluruh Indonesia.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 11 Jun 2026 

Bagikan

Related Stories