Cek Fakta dan AI: Tantangan atau Solusi?

Jumat, 22 Mei 2026 14:29 WIB

Penulis:Nila Ertina

Editor:Nila Ertina

Praktikum Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang dengan Tema: Cek Fakta dan Verifikasi Informasi Digital
Praktikum Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang dengan Tema: Cek Fakta dan Verifikasi Informasi Digital (Foto WongKito.co/Magang/Tanya Zalzalbilla)

PALEMBANG, WongKito.co - Mengecek kebenaran atau fakta atas informasi yang menyebar secara luas melalui media sosial, aplikasi percakapan online maupun website yang menyaru jadi portal berita kini menjadi sangat penting dipraktikkan, terutama terhadap informasi yang dicurigai bermuatan bohong.

Hal itu, terungkap dalam kegiatan Praktikum Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang dengan Tema: Cek Fakta dan Verifikasi Informasi Digital, yang diselenggarakan di Gedung Rektorat Kampus A, Rabu (20/5/2026).  Hadir sebagai narasumber jurnalis yang juga pemeriksa fakta bersertifikasi, Nila Ertina FM dan Miftahur Rizki, pemeriksa fakta di media WongKito.co.

Dihadapan puluhan peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa S1 dan S2 di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang, Nila menjelaskan mengecek fakta merupakan langkah sistematis yang digunakan memverifikasi kebenaran dan keakuratan suatu informasi, klaim, yang idealnya dilakukan sebelum disebarluaskan.

"Hal itu, sangat relevan dengan semakin mudah dan cepatnya penyebaran informasi hoaks yang kini didukung transformasi digital yang semakin cepat," kata dia.

Baca Juga:

Dia menjelaskan bagaimana perjalanan penyebaran hoaks dari abad ke abad, mulai dari hoaks yang beredar pada masa Yunani Kuno, ditemukannya mesin cetak, lahirnya televisi/radio hingga kini di era digital plus Artificial Intelligence  (AI).

Nila juga menjelaskan macam-macam hoaks yang beredar, mulai dari misinformasi, dimana penyebarnya tidak tahu kalau konten yang disebarluaskannya tersebut merupakan produk hoaks dan disinformasi ketika penyebarnya dengan sadar menyebarkan informasi mengandung muatan bohong.

Selain itu, ada juga malinformasi atau informasi yang disampaikan benar terjadi tetapi diklaim berlangsung pada suatu tempat yang berbeda, ujar dia lagi.

Transformasi AI yang sangat massif saat ini, menurut Nila semakin mempermudah produksi dan amplifikasi hoaks dalam berbagai medium, terutama konten video dan deepfake.

Karena itu, penting sekali publik memiliki kesadaran yang tinggi dalam mengantisipasi terpapar hoaks, meskipun dengan cara sederhana, dengan menelusuri dulu setiap informasi yang diterima dan tidak menyebarkan jika belum pasti kebenarannya.

Sementara Miftahur Rizki, menambahkan kehadiran AI telah merubah lanskap hoaks secara global, tetapi sebagai pengecek fakta harus me-debunk hoaks yang beredar dengan menggunakan berbagai alat yang disediakan, karena sebagai fact checker di dapur cek fakta WongKito.co, ia mengakui saat menemukan konten hoaks harus segera melakukan pengecekan fakta dan dipublikasikan.

Dia bercerita akhir-akhir ini mayoritas hoaks yang diperiksa berupa konten video di TikTok dan Instagram, merupakan video buatan AI.

Guna memastikan kebenaran AI tersebut, biasanya menggunakan beberapa tools yang tersedia secara bebas, seperti hive moderation, Yandex dan Invid Debunker.

Namun, diakuinya berbagai upaya ekstra juga harus dilakukan saat mengecek kebenaran sebuah video, misalnya dengan mengakses portal berita terpercaya, baik nasional maupun dari luar negeri agar proses debunk bisa dilakukan optimal.

Nila menambahkan kehadiran AI dalam lanskap hoaks semakin sulit dikendalikan. Dampaknya, gangguan informasi meningkat dan kepercayaan publik menurun.

Baca Juga:

Tetapi, ketika publik semakin sadar atas gangguan hoaks dengan menerapkan penyaringan terhadap semua informasi yang diterima dan tidak menyebarkan hoaks, menjadi langkah strategis dalam melawan hoaks.

Miftahur menambahkan prinsipnya AI menjadi salah satu solusi untuk mendukung kerja-kerja pengecekan fakta, tetapi bukan menjadi hal utama.

"Jangan menjadikan AI sebagai sumber utama dalam mendukung kerja-kerja kita, tetapi jadikan asisten saja, dan tetap double check karena sesungguhnya belum ada aplikasi AI yang sempurna," kata dia.(Magang/TanyaZalzalbilla*ert)