Di Lereng Dempo, Aku Belajar Perjuangan tidak Pernah Berdiri Sendiri

Senin, 11 Mei 2026 07:52 WIB

Penulis:Nila Ertina

Editor:Nila Ertina

Ilustrasi perkebunan teh di Gunung Dempo
Ilustrasi perkebunan teh di Gunung Dempo (Foto WongKito.co)

Oleh: Azzahri Fahlepi Putra*

KABUT tipis masih menggantung di lereng Gunung Dempo ketika kendaraan yang kami tumpangi perlahan memasuki kawasan pegunungan. Setelah perjalanan panjang yang cukup menguras tenaga, akhirnya kami tiba di Villa Besemah, sebuah tempat yang berdiri tenang di tengah hamparan hijau, udara dingin pegunungan, dan suasana alam yang terasa begitu damai.

Lelah perjalanan seperti hilang begitu saja.

Udara yang sejuk, suara angin yang menyusup di antara pepohonan, dan kabut yang turun perlahan membuat tempat itu terasa begitu tepat untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia luar. Namun aku tahu, kedatanganku ke sana bukan sekadar untuk menikmati pemandangan. Tempat itu menjadi ruang bagi tahap terakhir dari seluruh proses pembelajaran yang sudah aku jalani selama ini, sebuah tahap penutup yang justru membuka lebih banyak pintu pemahaman.

Selama tiga hari di Villa Besemah, suasana belajar tetap sama seperti tahap-tahap sebelumnya, hangat, hidup, dan penuh energi. Tidak ada yang datang hanya untuk mendengar. Semua peserta hadir dengan pikiran terbuka, dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, dengan cerita-cerita pengalaman, bahkan dengan keberanian untuk berbeda pendapat.

Baca Juga:

Kami belajar, berdiskusi, berdebat, tertawa, lalu kembali berpikir.

Di tahap inilah aku mulai berhadapan dengan satu tema besar yang sebelumnya terasa begitu jauh dari kehidupanku sehari-hari "globalisasi".

Jujur, selama ini aku selalu berpikir globalisasi hanyalah tentang teknologi yang semakin canggih, internet yang membuat orang bisa terhubung tanpa batas, atau barang-barang dari luar negeri yang kini begitu mudah ditemukan. Bagiku, globalisasi adalah kemajuan.

Tapi di ruang belajar itu, pemahamanku berubah.

Aku mulai memahami bahwa globalisasi jauh lebih besar dari sekadar teknologi atau perdagangan. Ia adalah proses yang menghubungkan hampir seluruh aspek kehidupan manusia ekonomi, politik, budaya, sosial, bahkan lingkungan. Apa yang diputuskan di satu negara bisa berdampak langsung pada kehidupan orang-orang di tempat lain, termasuk masyarakat kecil di desa-desa yang mungkin bahkan tak pernah mendengar istilah globalisasi.

Dan yang lebih membuatku terdiam, aku mulai menyadari bahwa globalisasi ternyata tidak selalu berjalan adil.

Di balik segala kemudahan yang ditawarkan, ada sistem yang sering kali lebih berpihak pada mereka yang memiliki modal, kuasa, dan akses. Sementara kelompok yang lemah, petani, buruh, masyarakat adat, perempuan, dan kelompok marginal lainnya, sering kali justru menjadi pihak yang paling banyak menanggung akibatnya.

Di titik itulah pembahasan tentang feminisme menjadi begitu hidup bagiku.

Sebelumnya, aku mengira feminisme hanya bicara soal kesetaraan perempuan dan laki-laki. Namun di pembelajaran ini, aku memahami bahwa feminisme jauh lebih luas dari itu. Feminisme mengajarkan cara melihat dunia, cara membaca ketimpangan, dan cara memahami bagaimana sistem bekerja terhadap tubuh, ruang hidup, dan masa depan manusia.

Baca sambungannya:

Belajar Feminisme Bersama Solidaritas Perempuan Palembang (1)

Belajar Dasar Feminisme dan Sejarah Pergerakan Perempuan (2)

Aku belajar bahwa perempuan tidak hanya menghadapi ketidakadilan karena identitas gender, tetapi juga karena sistem ekonomi, kebijakan politik, hingga arus globalisasi yang sering kali memindahkan beban paling berat ke pundak mereka.

Globalisasi memang membuka banyak peluang bagi perempuan mengakses pendidikan yang lebih luas, kesempatan bekerja, teknologi yang mempermudah komunikasi, hingga ruang untuk menyampaikan gagasan. Tapi di sisi lain, perempuan juga sering menjadi tenaga kerja murah, bekerja tanpa perlindungan yang layak, menerima upah rendah, dan tetap dibebani tanggung jawab domestik yang tak pernah benar-benar hilang.

Semakin jauh diskusi berjalan, semakin banyak hal yang membuatku berpikir.

Salah satu pembahasan yang paling mengetuk hatiku adalah ketika kami berbicara tentang sumber daya alam.

Tentang tanah.

Tentang air.

Tentang hutan.

Tentang sumber kehidupan yang selama ini kita anggap akan selalu ada.

Aku mulai memahami bahwa ketika tanah dikuasai korporasi, ketika sungai tercemar, ketika hutan digunduli atas nama investasi dan pembangunan, yang paling awal merasakan dampaknya sering kali adalah perempuan.

Perempuan yang harus berjalan lebih jauh untuk mencari air.

Perempuan yang kehilangan lahan untuk bercocok tanam.

Perempuan yang harus mencari cara agar dapur tetap mengepul ketika hasil panen menurun.

Perempuan yang tetap dituntut kuat, bahkan ketika ruang hidupnya perlahan diambil.

Saat itulah aku benar-benar sadar bahwa perjuangan menjaga lingkungan ternyata tidak bisa dipisahkan dari perjuangan membela hak-hak perempuan.

Keduanya saling terkait.

Keduanya berakar pada pertanyaan yang sama, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang dikorbankan?

Di lereng Dempo itu, di tengah udara dingin dan kabut yang turun perlahan setiap sore, aku seperti dipaksa melihat dunia dengan cara yang benar-benar baru.

Apa yang dulu kulihat sebagai persoalan yang berdiri sendiri—kemiskinan, kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi, kekerasan terhadap perempuan, eksploitasi tenaga kerja, ternyata saling terhubung dalam satu sistem besar.

Dan dari sana aku belajar satu hal yang mungkin akan selalu kuingat: Bahwa perjuangan tidak pernah bisa dilakukan dengan cara pandang yang sempit.

Jika ingin memperjuangkan keadilan, maka kita harus berani memahami akar persoalannya. Harus berani melihat hubungan antara desa dan dunia, antara tubuh perempuan dan kebijakan negara, antara lingkungan dan ekonomi, antara pengalaman pribadi dan sistem global.

Tiga hari di Villa Besemah bukan sekadar penutup dari sebuah pelatihan.

Bagiku, itu adalah awal.

Awal dari cara berpikir yang lebih kritis.

Awal dari keberanian untuk bertanya.

Awal dari kesadaran bahwa perubahan tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari pengetahuan yang kemudian mendorong kita untuk bergerak.

Baca Juga:

Ketika aku meninggalkan lereng Dempo, aku bukan lagi orang yang sama seperti saat datang.

Aku pulang dengan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar materi pelatihan.

Aku pulang dengan cara pandang baru.

Dan mungkin, dengan semangat perjuangan yang baru pula, setelah mengikuti Kelas Feminis Solidaritas Perempuan Palembang, selama 8 hari dengan belajar di sekretariat di Palembang dan 3 hari di kawasan Gunung Dempo, Pagar Alam.(Habis)

**Mahasiswa Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2023