Palembang
Rabu, 14 Januari 2026 16:18 WIB
Penulis:Nila Ertina
Editor:Nila Ertina

PALEMBANG, WongKito.co - Eksistensi pasar tradisional dikhawatirkan akan semakin tergerus di tengah menjamurnya minimarket yang menawarkan kenyamanan, kebersihan, dan keamanan serta penataan menarik. Di Kota Palembang berdasarkan data pemkot setempat beroperasi 21 pasar tradisional yang dikelola perusahaan daerah dan 25 pasar tradisional swasta. Bagaimana kondisi sebenarnya?
Dari pantauan tim WongKito, pasar tradisional masih bertahan menjadi ruang ekonomi rakyat yang menghadapi tantangan perubahan pola belanja masyarakat, seperti di Pasar Plaju dan Pasar Perumnas Sako Palembang.
Salah satu pedagang Pasar Plaju, Kodar mengatakan, selama dia berjualan bumbu dapur selama 16 tahun di sini Pasar Plaju cukup aman dari kejahatan pencurian. Hanya saja, kurangnya fasilitas yang memberikan kenyamanan kepada penjual dan pembeli.
“Ketika hujan di sini biasanya banjir, banyaknya jalan yang berlubang menyebabkan genangan air yang mengganggu jalannya jual beli. Selain itu, atap juga ada yang bocor hingga basah ke dagangan,” kata Kodar, Selasa (13/1/2026).
Baca Juga:
Ia juga mengungkapkan, biaya sewa tempat sekarang cukup mahal, mengingat pendapatan yang semakin hari kian menurun. Sekadar makan saja yang cukup, tapi tidak bisa menabung. Baru dua tahun ini pindah ke sini, dengan harga sewa per tiga bulannya dua juta rupiah.
Dia mengingat, dulu para pedagang masih menumpang di depan toko orang. Meskipun jam delapan sudah harus tutup dagang dilanjutkan tokonya yang buka. Jika dibandingkan dengan sekarang, pendapatan kian menurun. Padahal tutup dagangnya lebih lama pada jam satu siang.
Lebih lanjut, Kodar menjelaskan, pendapatan berkurang terjadi pasca COVID-19. Sebelum masa itu, masih ada orang katering makanan yang membeli bumbu dapur dengan harga total hingga ratusan ribu rupiah.
“Orang katering mampir ke sini beli bumbu dengan jumlah banyak, kadang Rp100 ribu, Rp200 ribu. Sekarang tidak ada lagi orang katering beli, paling orang-orang yang beli seperempat atau sekilo saja,” jelas Kodar.
Tak sekadar itu, terbagi sama adanya pasar kecil yang tersebar di beberapa daerah terdekat pasar pusat. Pasar Plaju Tradisional bukan lagi menjadi pusat perbelanjaan. Hingga kini, perekonomian keluarga Kodar dibantu dengan kerja bertani.
“Setiap hari tidak pernah lagi menyetuh puluhan kilogram dagangan terjual. 20 kilogram per hari kadang tidak habis. Dengan bertani, menjadi pemasukan tambahan. Sepulang dari dagang, saya ke kebun bertanam serai dan ubi,” ungkap Kodar.
Berbeda dengan Rudi, pedagang ikan, yang sudah berdagang hampir 12 tahun. Pendapatan dengan jualan ikan tidak mengalami penurunan. Pembeli masih banyak mengkonsumsi ikan setiap harinya. “Harga sewa tempat tidak terlalu mahal, melihat pendapatan hasil jual ikan tidak menurun. Sehari bisa mendapatkan pengahasilan Rp200 ribu," ujar Rudi sembari membersihkan ikan dagangannya.
Sementara itu, di tengah riuhnya suara tawar-menawar dan aroma rempah khas di Pasar Perumnas Sako, padat, ialah satu kata yang cocok untuk menjelaskan kondisi pasar ini.
Widia Wati (52), pedagang kaki lima yang telah menjajakan dagangnya selama 15 tahun, mengungkapkan kenyamanannya dengan lokasi berjualan saat ini. Meski begitu, Widia mengakui, ketidaknyamanan muncul saat musim hujan tiba karena ia berjualan di area terbuka. Lapak Widia bukan di ruko, tapi di kaki lima. Meskipun demikian, ia menilai bahwa fasilitas dan kondisi di sekitar tempatnya berjualan cukup aman dan kondusif.
Widia memiliki harapan besar untuk masa depan usahanya. Dia berharap agar dagangannya bisa lancar dan pembelinya banyak. Untuk jualannya semoga bisa ramai. Ia juga berharap pemerintah dapat memberikan dukungan melalui program UMKM atau modal usaha. “Mungkin bisa ada modal usaha dagang atau program UMKM, biar semuanya bisa lancar,” harapnya.
Terkait pendapatan, Widia menjelaskan, penghasilannya tidak menentu. Kalau pembeli ramai dia bisa mendapat Rp100.000 hingga Rp200.000 ke atas. “Kalau lagi sepi, ya bisa di bawah Rp100.000,” sebut Widia.
Ina (48), salah satu warga Palembang mengungkapkan beberapa alasan mengapa pasar tradisional tetap menjadi pilihan utama. Menurutnya, ketersediaan barang dan harga yang bersaing sebagai daya tarik utama. “Di sini, semua kebutuhan tersedia dan harganya masih bisa dijangkau,” tutur Ina dibincangi di area parkir pasar.
Selain itu, keramahan pedagang juga menjadi nilai tambah. Walaupun membeli sedikit, dia tetap dilayani dengan ramah. Pelayanan yang baik tidak hanya diberikan kepada pembeli besar. Namun, Ina juga mencatat adanya variasi harga di antara pedagang. Dia mendapati bahwa harga barang tidak merata.
Warga Palembang lainnya, Meyda memberikan harapan terkait keresahannya mengenai fasilitas pasar agar pembeli merasa nyaman berbelanja. Demi meningkatkan pendapatan para pedagang Pasar Tradisional Plaju.
“Dari sisi penataan, perlu ditata kembali sesuai jenis-jenis dagangan. Misalnya, ikan di sebelah kanan, sayuran sebelah kiri semua. Semoga ada perbaikanlah ke depannya terutama pada jalan yang becek untuk diadakannya perbaikan jalan dan penataan tempat,” kata Meyda.
3 Kunci Berbenah
Tidak bisa dipungkiri hingga kini belanja di pasar tradisional masih menjadi pilihan mayoritas warga Kota Palembang.
Pasar tradisional tidak hanya menjadi area transaksi yang bisa tawar menawar harga, tetapi juga menjadi ruang untuk bersosialisasi. Ikatan antara pedagang dan pelanggan (pembeli) menjadi cerita menarik lainnya, bagaimana pasar tradisional penting untuk dilestarikan.
Meskipun di sisi lain, belanja di pasar tradisional dan ritel modern, tentunya konsumennya memiliki latar belakang yang berbeda, dari karakteristik dan kepentingan.
Akademisi UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Maya Panorama, SE, MSi, Ph.D menyampaikan ada standar yang harus dipenuhi oleh pasar tradisional.
Konsumen yang senang dengan tawar menawar dan kenal dengan pedagang tentu akan tetap bertahan di pasar ini. Namun, kesan kumuh, becek, bau perlu di kelola dan menjadi tanggung jawab pihak yang berwenang, pemerintah, pengelola dan pedagang di pasar tradisional, ujar dia dihubungi belum lama ini.
Dari perspektif keberlanjutan pasar tradisional, Menurut Prof Maya, sudah selayaknya pasar tradisional berbenah paling tidak dari aspek kenyamanan, keamanan dan kebersihan.
"Ketiga aspek ini dibutuhkan, untuk mendukung eksistensi pasar tradisional di kota Pempek," kata dia.
Dari aspek kenyamanan, pasar tradisional menurut dia hendaknya dilengkapi sarana prasana yang bagus, misalnya jalan tidak berlobang, lantai kokoh, atap yang kuat tidak bocor dan didukung area parkir yang memadai.
Lalu kebersihan pasar juga harus terjaga, karena kebersihan menjadi kunci agar pembeli tidak pindah ke pasar lain, bahkan bisa mengubah cara berpikir masyarakat yang sebelumnya tidak menoleh ke pasar tradisional, tetapi jadi belanja ke pasar tersebut.
Kemudian, keamanan pasar tradisional sangat penting, pengelola pasar tidak hanya menyediakan fasilitas pendukung untuk keamanan tetapi juga bagaimana hadir memastikan pedagang dan pembeli aman, tambah dia.
Dia menjelaskan keberadaan pasar tradisional tetap harus dipertahankan, karena interaksi langsung antara penjual dan pembeli yang penjadi ciri khas utama pasar ini.
Kekinian, pembenahan tata kelola, manajemen sampah atau kebersihan, sekuriti dan asuransi, serta fasilitas kelengkapan pasar lainnya menjadi krusial.
Ia mencontohkan beragam fasilitas yang mesti disediakan bukan hanya kelengkapan untuk pedagang, berupa toko yang rapi dan aman serta tempat parkir dan toilet yang bersih. Tetapi penyediaan fasilitas umum, seperti taman bermain, food court yang memadai juga sangat relevan untuk disediakan.
"Tata kelola pasar yang bagus, tentu akan mendukung eksistensi pasar tradisional di tengah modernisasi," kata dia.
Revitalisasi Pasar Tradisional
Kabid Stabilisasi, Sarana, dan Distribusi Perdagangan Dinas Perdagagangan (Disdag) Palembang, Elsa Noviani mengatakan, Pemkot Palembang dengan menggandeng pihak ketiga akan membangun baru Pasar Lemabang dan Pasar Sako menjadi pasar dengan fasilitas modern. Diharapkan, setelah dua tahun mendatang ada pembangunan pasar tradisional yang modern di Palembang. “Saat ini masih dalam tahap perencanaan di Bappeda,” jelas Elsa.
Dengan adanya pasar tradisional baru yang lengkap dengan fasilitas modern tersebut, diyakininya pasar tradisional Palembang bisa dihidupkan kembali. Sebab, Elsa mengakui, pasar-pasar tradisional saat ini banyak yang sepi.
Menurutnya hal ini lantaran menjamurnya kaki lima di luar pasar dan adanya marketplace atau tempat berbelanja online serta ritel modern. Selain itu, banyak juga warung-warung yang lengkap yang muncul di permukiman, ditambah kebiasaan masyarakat saat ini yang ingin belanja cepat, tanpa perlu pergi jauh, keluar ongkos, hingga parkir.
“Tentu kami ingin pasar tradisional bisa hidup kembali, eksis lagi, ramai lagi, dan fungsinya berjalan seperti dulu. Mungkin bisa ditambahkan kuliner urban di sisi atas gedung pasarnya, seperti gagasan Wawako Prima Salam yang ingin tambahkan kedai kopi di Pasar Gubah,” cetusnya kepada WongKito.co, Selasa (13/01/2025).
Dari pantauan pihaknya, beberapa pasar tradisional memang masih ramai, seperti Pasar Sako, Sekip, dan Kebun Semai. Namun, ada pasar yang sepi seperti Pasar Soak Bato yang masih menjadi perhatian. Pedagang kaki lima di luar pasar tersebut sudah diupayakan untuk bisa pindah ke dalam gedung pasar. Tapi, pedagang malas untuk membuka lapak di lantai atas pasar. Mengingat juga masyarakat ingin berbelanja cepat bila perlu tanpa harus turun motor.
“Hal yang sama juga terpantau di Pasar Lemabang, Pasar Kalidoni, dan Pasar 10 Ulu, banyak kaki lima di luar pasar resmi. Kalau kaki lima ini tidak ada, pasti pasar tradisional bisa dihidupkan lagi,” ujar dia.
Baca Juga:
Kondisi sepi juga terpantau di Pasar Sematang Borang yang sudah memiliki fasilitas lengkap, seperti cuci tangan, saluran drainase dan sirkulasi yang baik, hingga ruang laktasi. Diakui Elsa, pasar tersebut dibangun cukup jauh dari permukiman. Lalu, PD Pasar Palembang Jaya membangun jembatan penghubung pasar dan permukiman, tapi tetap sepi. Dibantu juga pihak kecamatan dengan digelarnya senam bersama masih juga sepi.
“Upaya banyak dilakukan termasuk gelar pasar murah, ramainya sesaat itu saja. Akhirnya, pedagang yang sudah ada lapak di pasar banyak pindah. Pasar itu masih tercatat jadi aset Palembang,” ulasnya.
Terkait anggaran, Disdag Palembang sendiri cukup kesulitan untuk pembangunan baru. Karena itulah, dalam lima tahun terakhir, tidak ada pembangunan pasar baru. Sementara, pembangunan baru melalui Kemendag diakui harus memenuhi banyak syarat, seperti detail gambar kerja atau DED yang butuh anggaran banyak.
Tahun 2024 lalu, pernah ada tawaran dari Kemendag untuk pembangunan baru pasar di Km 5. Hanya, saat itu syarat yang diberikan cukup berat bagi Disdag Palembang, selain DED, pihaknya juga harus bisa mengosongkan pasar. Tentu upaya merelokasi butuh dana dan lahan.
Bercermin juga dari relokasi pasar-pasar sebelumnya, seperti Pasar 16 yang ricuh ketika ada upaya relokasi pedagang, atau Pasar Soak Bato yang akhirnya pedagang merasa sudah nyaman di lahan relokasi dan enggan ke gedung pasar yang baru.
“Termasuk dalam rencana pembangunan baru Pasar Lemabang mendatang, Disdag Palembang mempertimbangkan relokasi pedagang jangan sampai seperti Pasar Soak Bato. Butuh ketegasan dan kajian mendalam agar pasar itu ada manfaatnya,” jelasnya.(Magang/Ani Maustika Wati/Azzahri Fahlepi Putra/Manda Dwi Lestari/M Alvin Johari//Yulia Savitri/Nila Ertina/Susilawati)