Jumat, 05 Juni 2026 11:59 WIB
Penulis:Nila Ertina

SEJUMLAH akun di Instagram, Facebook, YouTube dan TikTok menyebarkan klaim bahwa Bank Indonesia sengaja melemahkan nilai tukar rupiah. Narasi ini muncul di tengah merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh rekor terendah Rp87.038per 5 Juni 2026.
Unggahan tersebut menyatakan bank sentral sengaja melemahkan rupiah untuk dua tujuan. Pertama, meningkatkan ekspor secara besar-besaran agar mampu bersaing di pasar global. Kedua, memikat investor agar membeli saham di Indonesia dengan harga lebih murah.
Namun, benarkah Bank Indonesia sengaja melemahkan rupiah?
Pemeriksaan Fakta
Tempo memverifikasi klaim pelemahan rupiah oleh Bank Indonesia itu dengan mewawancarai pakar ekonomi dan menelusuri sumber-sumber kredibel lainnya. Hasilnya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dipicu oleh faktor eksternal seperti situasi geopolitik, serta faktor internal berupa sentimen terhadap kondisi ekonomi domestik. Sebaliknya, stabilisasi nilai mata uang tersebut justru bergantung pada kinerja pemerintah dan Bank Indonesia.
Faktor-faktor Melemahnya Rupiah
Ekonom Universitas Gadjah Mada Denni Puspa Purbasari, menjelaskan klaim bahwa Bank Indonesia sengaja melemahkan mata uang bertentangan dengan mandat bank sentral untuk menjaga stabilitas rupiah. Menurut dia, ada dua faktor utama pelemahan rupiah, yakni fundamental dan ekspektasi.
Baca Juga:
Faktor fundamental berkaitan dengan interaksi antara ketersediaan (supply) dan permintaan (demand).
Belakangan, konflik geopolitik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memicu lonjakan harga minyak.
“Tingginya defisit transaksi juga memicu melemahnya rupiah,” kata Denni saat dihubungi Tempo, Selasa, 2 Juni 2026.
Bank Indonesia mencatat transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2026 mengalami defisit 4,9 miliar dolar AS, berbalik dari triwulan sebelumnya yang surplus 9,0 miliar dolar AS. BI menyebut defisit ini dipengaruhi ketidakpastian pasar keuangan global, pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo, serta penempatan kas dan aset di luar negeri.
Sementara itu, faktor ekspektasi berhubungan dengan sentimen atau proyeksi pasar yang dipengaruhi iklim investasi dan kebijakan negara. Investor bakal mencermati ada tidaknya perubahan kebijakan yang mengarah pada penguatan rupiah. Oleh sebab itu, respons pemerintah dan Bank Indonesia dalam menentukan kebijakan fiskal sangat krusial.
“Termasuk apakah ada reformasi struktural yang dilakukan untuk menarik modal asing masuk ke Indonesia atau tidak,” kata Denni.
Kekhawatiran Investor
Pakar pasar saham Ferry Latuhihin menjelaskan pelemahan rupiah juga dipicu oleh capital outflow atau aliran modal keluar di pasar saham. Investor melepas saham mereka karena menilai outlook atau prospek perekonomian Indonesia ke depan bakal negatif.
Selain itu, investor asing merugi lantaran aset mereka di Indonesia tersimpan dalam mata uang rupiah. Hingga Mei 2026, porsi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh investor asing tersisa sekitar 12,75 persen.
Menurut Ferry, langkah Bank Indonesia menaikan suku bunga baru-baru ini tidak akan berpengaruh signifikan karena kepercayaan investor terhadap rupiah negatif. “BI gak bisa ngapa-ngapain, BI cuma merespons” kata Ferry saat dihubungi Tempo, Sabtu, 23 Mei 2026.
Senada, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti berpendapat, investor cemas melihat pemerintah Indonesia melaksanakan program prioritas yang sangat ekspansif, padahal hanya memiliki ruang fiskal kecil. Pernyataan kontroversial dari pemegang kebijakan juga bisa membuat pasar semakin ragu.
Esther menyarankan pemerintah menahan investor agar tidak terjadi capital outflow. Ia juga mendesak pengembalian independensi bank sentral agar jangan dijadikan agen pembangunan atau menanggung program pemerintah.
“Kalahkan ambisi untuk mengimplementasikan program-program ambisius seperti pemasifan MBG dan Kopdes Merah Putih. ?Fokus pada stabilitas nilai tukar dan harga (kebutuhan),” ujar Esther, Selasa, 19 Mei 2026.
BI juga telah menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global dan tingginya permintaan musiman valas domestik.
Langkah yang dilakukan antara lain memperkuat kebijakan transaksi pasar valas dan memperluas instrumen operasi moneter valuta asing. “Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar Rupiah akan stabil dan cenderung menguat,” seperti dikutip dari siaran pers BI pada 20 Mei 2026.
Asal Mula Konten Menyebar
Narasi rupiah sengaja dilemahkan bermula dari unggahan pemengaruh Benny Hutabarat di kanal YouTube Bennix pada 26 Januari 2026. Video yang telah ditonton lebih dari 500 ribu kali itu disebarkan ulang di platform X dan TikTok di tengah melemahnya nilai rupiah pada Mei 2026.
Benny menyebutkan, pelemahan mata uang bisa menjadi kabar baik bagi negara yang memiliki daya saing ekspor di pasar global.
Benny menyebutkan bahwa pelemahan mata uang bisa menjadi kabar baik bagi negara yang memiliki daya saing ekspor di pasar global, seperti Cina.
Tempo menghubungi Benny melalui pesan langsung di Facebook dan Instagram, untuk meminta klarifikasi. Melalui adminnya, Benny meluruskan bahwa ia hanya sedang membandingkan pola pikir masyarakat di negara yang sudah berhasil memperkuat ekspor. "Bukan artinya Indonesia hari ini senang jika mata uangnya melemah," ujarnya pada Kamis, 4 Juni 2026.
Cina memang pernah menerapkan strategi pelemahan yuan terhadap dolar AS pada 2013 saat meluncurkan program Belt and Road Initiative untuk mengurangi ketergantungan ekonomi dan membatasi intervensi pasar. Namun, kondisi ekonomi Cina dan Indonesia jauh berbeda.
Mengutip jurnal Transnational Corporations Review edisi Desember 2019, Cina memiliki strategi solid dalam menjaga neraca pembayaran dan mengendalikan inflasi meski tengah terlibat perang dagang dengan AS. Negeri Tirai Bambu itu juga punya pengaruh kuat untuk menerapkan perjanjian dagang bilateral menggunakan yuan atau renminbi (RMB) melalui 31 bank luar negeri di 27 negara. Sebaliknya, Indonesia mengambil posisi nonblok dalam politik global, dan penerapan mata uang lokal atau Local Currency Settlement (LCS) baru dilakukan di lima negara.
Disinformasi ini juga mencuplik video siniar milik Gema Goeyardi dan Robert Reich dari Astronacci, perusahaan jasa riset dan edukasi trading. Video mereka diunggah ulang dengan menyematkan konteks yang keliru.
Dalam video aslinya di kanal YouTube Astronacci pada 14 Mei 2026, Robert sebenarnya sebatas memancing diskusi mengenai isu rupiah sengaja dilemahkan. Gema lantas meresponsnya dengan memaparkan skenario teoritis mengapa suatu negara mendepresiasi mata uangnya, seperti untuk memperbesar ekspor atau menarik investor saham.
Baca Juga:
Gema Goeyardi dan Robert Reich berdiskusi mengenai isu rupiah sengaja dilemahkan.
Saat dikonfirmasi Tempo, content manager Astronacci Robert menegaskan perbincangan mereka murni diskusi ilmiah, bukan tudingan terhadap Bank Indonesia.
“Itu salah paham ya. Banyak yang salah persepsi bahwa kita menyebutkan pelemahan rupiah itu sengaja dilakukan oleh Bank Indonesia atau pemerintah. Jadi bukan statement yang bisa dikutip dan melabel bahwa kita berbicara tentang pelemahan rupiah sengaja dilakukan,” ujar Robert kepada Tempo, Selasa, 2 Juni 2026.
Kesimpulan
Hasil verifikasi Tempo menyimpulkan narasi bahwa BI sengaja melemahkan rupiah demi menggencarkan ekspor dan menarik investor asing adalah keliru.
Disclaimer
Konten ini direpublish dari laman Tempo.co/cekfakta.