tambang batu bara
Kamis, 29 Januari 2026 16:19 WIB
Penulis:Nila Ertina

SORE itu, seusai berkegiatan di Kota Lahat, Sumatera Selatan bersama kawan dari Yayasan Anak Padi Lematang, dan mahasiswa KKN Rekognisi UIN Raden Fatah Palembang kami berangkat ke Gumay Talang.
"Ayo kita ke Gumay Talang," ujarku, usai menemani kawan-kawan mahasiswa melakukan program kerja bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lahat, Senin (26/1/2026).
Program Susur Sungai Anak Lematang, dilakukan mahasiswa KKN bekerja sama dengan Arus Akrasa Perempuan dan Yayasan Anak Padi Lematang sebagai di Kabupaten Lahat.
Kami pun berangkat ke Gumay Talang, tujuan kami ke rumah Ketua Srikandi Gumay Talang, Deli Lisnani.
"Wah aku lupa nama desa tempat yuk Deli, Wat," kataku sembari terus mengutak atik telpon genggam, karena saat itu pesan yang kusampaikan melalui aplikasi percakapan online tidak tersambung, centang satu saja.
Baca Juga:
Pun begitu ketika aku coba mengontak melalui panggilan telpon, tidak ada nada sambung alias hanya tertulis memanggil bukan berdering.
Aku ingat, siapa yang harus kuhubungi, untuk bisa tahu alamat pasti Deli, aku mengontak Ketua Yayasan LBH APIK, Sumsel, Maryani, tapi beliau juga tidak mengangkat.
Untungnya, ada nomor kawan YLBH APIK Sumsel lainnya, Joni, dan telponnya pun nyambung.
"Jon, apo nian namo dusun Yuk Deli Ketua Srikandi Gumay Talang, Joni menjawab, Desa Tanjung Baru yuk, tanyo bae tau galo wong," kata Joni.
Aku bersama Ketua Yayasan Anak Padi Lematang, Sahwan pun akhirnya tancap gas meninggalkan rombongan dalam mobil lain. Tapi lucunya kami kelewatan, sudah terlewat beberapa desa, karena saat itu hanya mengandalkan ingatan Sahwan yang pernah main ke desa-desa di kawasan Gumay Talang.
Reza Yuliana, Manager Program di Yayasan Anak Padi Lematang yang berbeda mobil pun menelpon, menanyakan lokasi kami. Aku bilang, kami kelewatan dan sudah jauh.
Namun, meskipun mereka sudah lebih dahulu tiba di Desa Tanjung Baru, ternyata tiba di rumah Ketua Srikandi Gumay, aku dan Sahwan lebih dulu sampai.
Perempuan Solid
Deli menyambut kami, dan menyalami serta mengajak untuk naik ke rumah panggungnya.
Kami pun bercerita cukup panjang sekitar 1 jam, setelah Reza dan kawan-kawan mahasiswa pun tiba di rumah Deli.
Deli bercerita organisasi yang dipimpinnya, Forum Srikandi Gumay Talang, secara legal sudah memiliki akte notaris dengan bentuk perhimpunan.
"Kami awalnya beranggotakan lebih dari 1.000 orang perempuan dari 15 desa se-kecamatan Gumay Talang," kata dia.
Namun, diakuinya seiring waktu kini mulai banyak anggota yang memilih untuk tidak aktif lagi, karena memang belum ada program nyata dari organisasi.
"Kami ini haus ingin belajar, tapi belum ada kesempatan untuk belajar," kata dia lagi.
Selain kini dibatasi kesempatan belajar, ia bercerita relasi pun sepertinya dibatasi oleh orang-orang yang tidak ingin kami ada.
Padahal dikatanya, setiap perempuan yang rumahnya di sepanjang jalan Gumay Talang ini adalah anggota Forum Srikandi Gumay.
"Kami solid, kami ingin maju, tapi kami tidak diberi kesempatan bahkan cenderung dimusuhi," ujar dia.
Dampak Tambang Batu Bara
Deli dan warga desa lain di Kecamatan Gumay Talang merupakan masyarakat lokal hingga kini bertahan melawan berbagai dampak buruk aktivitas tambang batu bara, PT BAS yang beroperasi sejak tahun 2019.
Riset YLBH APIK Sumatera Selatan menghimpun data setidaknya ada lima permasalahan yang dihadapi masyarakat Gumay Talang akibat operasional tambang batu bara yaitu sosial, ekonomi, lingkungan, kesehatan dan kekerasan berbasis gender (KBG).
Baca Juga:
Dari lima permasalahan utama yang muncul tersebut, YLBH APIK Sumatera Selatan menyimpulkan kelompok perempuan dan anak yang paling rentan menjadi korban.
Ketua Yayasan LBH APIK Sumatera Selatan, Maryani Marzuki mengatakan masalah yang timbul dampak dari aktivitas tambang batu bara diantaranya dari mulai debu yang sulit dibersihkan, air yang mulai menurun kualitasnya.
Akibatnya, anak dan perempuan banyak yang terjangkit ISPA dan gatal-gatal.
"Paparan debu batu bara itu sangat berakibat buruk, dan perempuan dan anak paling rentan," kata dia.(Nila Ertina)
3 bulan yang lalu