Masak Tepi Sungai: Angkat Tradisi Kopi dan Roti di Kampung Perigi 2 Ulu

Senin, 01 Juni 2026 17:32 WIB

Penulis:Redaksi Wongkito

Editor:Redaksi Wongkito

IMG_20260601_164817.jpg
Komunitas Sahabat Cagar Budaya Palembang mengadakan program Masak Tepi Sungai pada 20 Juni 2026 di Kampung Perigi 2 Ulu. (ist/BOW Motret/SahabatCagarBudaya)

PALEMBANG, WongKito.co - Komunitas Sahabat Cagar Budaya Palembang kembali mengadakan program Masak Tepi Sungai yang akan dilaksanakan pada 20 Juni mendatang di Kampung Perigi 2 Ulu. Kali ini, Masak Tepi Sungai 2026 akan mengajak para pecinta kuliner Palembang mendalami hubungan unik antara kopi dan roti. 

Deretan pembicara yang dihadirkan akan mengajak peserta untuk berdiskusi mengenai perkembangan tradisi minum kopi di Palembang. Pembicara datang dari pelaku tradisi sendiri dan dari pihak industri kopi dan roti di Palembang. 

“Masak Tepi Sungai kembali hadir di 2026 dengan membawa tema Kopi dan Roti. Lokasinya di kampung Perigi yang merupakan kampung otentik Palembang yang memiliki sejarah panjang dan terkait dengan presiden pertama Indonesia,” kata Koordinator Sahabat Cagar Budaya Palembang Robby Sunata dalam keterangannya dikutip, Senin (1/6/2026).

Masak Tepi Sungai sendiri adalah salah satu kegiatan Sahabat cagar Budaya dan diadakan secara khusus untuk mewadahi kegiatan kuliner. Melalui Masak Tepi Sungai, komunitas sukarelawan bidang edukasi warisan budaya ini berharap dapat membantu usaha melestarikan, mendokumentasikan, dan mempopulerkan kembali kuliner lokal Palembang yang kaya dan istimewa. 

Cetakan kue dari aluminium dari Kampung Perigi 2 Ulu Palembang. (Foto:BOW Motret/SCB)

Kenapa Kopi dan Roti?

Robby menjelaskan, Palembang adalah ibukota dari provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia. Sumatera Selatan menghasilkan 26,81% dari total 100% produksi kopi nasional Indonesia tahun 2025 lalu. Sejak masa penjajahan Belanda, kopi dari berbagai daerah di hulu dibawa ke Palembang untuk diperdagangkan dan dari Palembang kopi ini lalu melanglang buana ke berbagai tempat di dunia, dari Jawa sampai ke Eropa. 

Industri kopi berkembang pesat di Palembang sejak permulaan dekade 1900. Puluhan pedagang kopi besar dan kecil beraktifitas di kota tua tersebut. Mereka membangun banyak gudang, pabrik, dan toko kopi. 

Semerbak aroma kopi berhembus ke penjuru kota dari belasan pabrik yang sedang merendang kopi dan puluhan toko kopi yang sedang menyiapkan kopi untuk pelanggan mereka. Palembang adalah metropolitan tua yang multi-etnik sejak 1400 tahun lalu. Setiap etnik yang datang membawa budaya minum kopi bersama mereka, sehingga membentuk tradisi menikmati kopi di Palembang yang unik dan kaya. 

Di antara keunikan dan kekayaan itu adalah berupa makanan pendamping saat minum kopi. Roti adalah teman minum kopi yang paling umum dijumpai di Palembang, dan masing-masing etnik mempunyai rotinya sendiri. 

Mengenal Kampung Otentik Palembang

Perajin songket di Kampung Perigi 2 Ulu Palembang. (ist/BOW Motret/SCB)

Kampung Perigi adalah tempat tinggal salah satu pedagang kopi di Palembang. Namanya adalah Karim Azharie dan dia berteman baik dengan Ir. Sukarno yang saat itu sedang dibuang oleh belanda ke Bengkulu. Pada tahun 1942, Ir. Sukarno datang ke Palembang dan Karim Azharie menyediakan rumahnya di Lorong tangga Raja, Perigi, sebagai tempat beristirahat bagi bung Karno. 

Pada tahun 2008, Presiden Megawati berkunjung ke rumah tersebut dalam rangka mengenang masa perjuangan ayahnya di Palembang. Selain dihuni oleh pedagang kopi yang besar, Kampung Perigi juga dihuni oleh pelaku seni tradisi. 

Beberapa juru masak tradisional Palembang yang disebut panggung tinggal di sini. Keahlian mereka memasak didapat secara turun menurun dan kini terancam punah. 

Selain itu terdapat pula perajin songket, perajin perahu getek, perajin aluminium, dan perajin lidi nipah di dalam kampung Perigi. Kampung Perigi kaya akan arsitektur tradisional Palembang. 

“Di sini kita bisa melihat dengan lengkap empat jenis rumah tradisional Palembang, yaitu rumah rakit, rumah baghi, rumah limas, dan rumah gudang. Semua jenis rumah ini berada dalam kondisi yang baik dan beberapa diantaranya akan digunakan sebagai tempat diskusi selama Kopi dan Roti berlangsung,” sebut Robby. 

Sahabat Cagar Budaya mengundang rekan-rekan semua untuk hadir dalam Masak tepi Sungai 2026: Kopi dan Roti dan bersama-sama merayakan kekayaan dan keunikan kuliner Palembang. (*)