Mengenal Najmah, Akademisi Unsri Peduli HIV yang "Humble" dan Dicintai Penyintas

Selasa, 06 Desember 2022 20:16 WIB

Penulis:Nila Ertina

Editor:Nila Ertina

Najmah SKM, MPH, PhD.
Najmah SKM, MPH, PhD. (WongKito.co/Nila Ertina)

"Assalamualaikum," kata seorang perempuan berkerudung dengan ramah ketika memasuki sebuah ruangan pertemuan disalah satu restoran di Kota Palembang, Sabtu (3/12/2022).

Sari Palupi, Advokasi Officer CSS HR, PKBI Sumut pun serta menyerta menjawab salam dan menyambut dengan hangat Ibu Najmah.

Setelah bercakap-cakap sebentar, perempuan tersebut pun langsung menghampiri dan memeluk salah seorang anak penyintas HIV, tak ketinggalan ia memberikan sekotak coklat sebagai oleh-oleh untuk anak tersebut.

Tampak sekali sangat akrab dan tidak ada rasa canggung sedikitpun darinya meski dia tahu benar bahwa ada beberapa orang penyintas di ruangan tersebut.

Lalu Sari pun, mengenalkan kepada saya. "Ini mbak Nila bu, wartawan yang ikut kegiatan kita hari ini," kata Sari mengenalkan saya.

Saya pun langsung menyambut kehangatan Najmah SKM, MPH, PhD. Takjub pun saya rasakan saat  berjabat tangan dengan perempuan yang terkesan selalu ceria tersebut.

Apalagi, ketika ngobrol, Najmah pun tampak sekali tidak memosisikan dirinya sebagai seorang ilmuwan apalagi pakar, tetapi dia umumnya masyarakat Kota Palembang yang bergaul sehari-hari.

Baca Juga:

Memanggil teman perempuan dengan ayuk dan  laki-laki dengan kakak.

Bagi saya, tentunya sosok Najmah ini sungguh berbeda dengan mayoritas akademisi, yang biasanya terkesan berjarak dengan masyarakat lain. Apalagi, bagi yang lulusan luar negeri biasanya ada klik yang berbeda ketika bergaul dengan kelompok lainnya.

Riset Pengguna Narkoba

Cerita pun berlanjut dengan bagaimana awalnya, Dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sriwijaya (Unsri) yang kini baru berusia 39 tahun ini, berada dalam circle penyintas, konselor dan pelayanan penyandang  Human Immunodeficiency Virus (HIV) serta populasi kunci juga kelompok rentan.

"Semua berawal dari pengalaman penelitian terhadap pengguna narkoba suntik tahun 2011," kata Najmah mengawali ceritanya.

Saat melihat bagaimana seorang pengguna narkoba suntik, pada akhirnya memutuskan untuk menikah. Apakah mereka akan membuka status mereka sebagai pengguna narkoba pada pasanganya? Apakah mereka semuanya tergerak untuk tes HIV dan beritahu pasanganya?

Banyak pertanyaan yang muncul ketika itu, karena seperti diketahui mereka ini merupakan salah satu kelompok populasi kunci bagi penyebaran HIV, bahkan sempat menjadi paling tinggi penyebaran HIV akibat pengguna narkoba suntik alias penasun.

"Itulah, cerita awal saya melakukan riset yang sampai kini akhirnya bisa bersama-sama merangkai masa depan yang cerah bagi komunitas," kata penulis buku Epidemiologi Penyakit Menular yang terbit tahun 2015.

Ia mengungkapkan seiring waktu banyak kasus lain yang ditemuinya, ada bayi tidak berdosa terkena HIV, padahal ibunya berjilbab, salihah.

Biasanya, sang ibu dan ayahnya hidup terpisah karena tuntutan pekerjaan, kalau anak sekarang menyebutnya Long Distance Relationship alias LDR. Dengan terpisah, banyak suami ditemukan punya pasangan di tempat lainnya atau punya pasangan sesama jenis dan seks tidak aman.

"Jadi menarik karena banyak irisan, intersection dalam penularan HIV. Pada disertasi saya menyimpulkan, setiap perempuan, berisiko tertular HIV, karena sudah kompleks sekali penularan HIV ini," tegas lulusan PhD Auckland University of Technology (AUT), New Zealand.

Minim perhatian, apalagi regulasi

Seperti diungkapkan pada beberapa artikel yang saya tulis sebelumnya, data menunjukan kasus perdana HIV teridentifikasi pada tahun 1987, di Bali.

Kalau dihitung hingga kini sudah 35 tahun, sejak penemuan kasus pertama HIV dan dalam proses penangangan pun sudah puluhan tahun tentunya. Dengan jumlah penyintas HIV/AIDS estimasinya mencapai 500 ribu lebih penyintas pada tahun 2022.

Najmah menambahkan hingga kini masih minim agenda eksekutif dan legislatif dalam upaya menuntaskan penanganan HIV/AIDS.

"Produk politik, berupa regulasi untuk kepentingan penanganan HIV masih belum optimal," kata dia lulusan Master Kesehatan Masyarakat dari The University of Melbourne, Australia.

Kekinian, terlibatan pimpinan daerah hingga presiden masih minim, bagaimana para pemerintah bisa memahami komunitas-komunitas yang bergelut di program penanganan dan pencegahan HIV?.

Apalagi, kasus HIV masih masuk dalam ranah yang sensitif akibatnya stigma dan diskriminasi terhadap mereka masih saja terjadi.

Karenanya, kasus HIV bak gunung es.   Masih saja dikaitkan dengan nilai moral dan agama.

Paradigma kalau mereka yang tertular HIV bukan orang baik, sungguhlah tidak relate dengan kondisi saat ini. Dimana, kasus perempuan atau ibu rumah  tangga salihah yang terinfeksi HIV kini banyak ditemukan, begitu juga dengan kasus anak dengan HIV juga mengalami peningkatan.

"Kalau saja kita bisa mendorong terbitnya kebijakan atau regulasi dari pemimpin-pemimpin daerah yang berpihak pada kepentingan kelompok penyintas tentunya penanganan dan pencegahan bisa berjalan lebih optimal," kata perempuan ramah ini.

"Penting sekali, perhatian dari semua pihak terutama pembuat regulasi yaitu eksekutif dan legislatif baik di pemerintah pusat maupun daerah," tegas  juga masih aktif Adjunct Research Fellow in Herb Feith Indonesian Engagement centre in Monash University, Australia.

Akibat belum adanya perhatian serius kepada penyintas HIV, kini masih saja ditemukan pejabat yang jika kita undang sebagai pembicara terkait HIV, mereka memilih tidak datang.

Selain itu, ketika ketuk palu untuk kebijakan HIV ditingkat daerah, dana yang turun cukup minim. Kondisi miris ini, tentunya menjadi bukti masih sulitnya Indonesia terbebas dari HIV/AIDS.

"Bahkan ketika saya wawancara ke salah satu tim pengambil kebijakan layanan kesehatan di salah satu rumah sakit, masih menemukan anak positif HIV yang mengalami diskriminasi," tutur Najmah. Ini, menjadi bukti kalau cara berpikir atau mindset ditataran layanan kesehatan pun masih ada yang belum berubah.

"Sekali lagi, sangat  penting untuk berubah mindset semua pihak, terutama kepada ibu hamil yang positif HIV," kata dia. Hal itu, untuk memberikan edukasi pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak.

Dukungan Suami

Dukungan dari pasangan baik suami atau istri, menurut saya menjadi kunci utama keberhasilan seorang istri atau suami dalam berkarir.

Najmah bercerita sejak awal sebelum menikah kami sepakat membentuk keluarga well educated sehingga siapapun yang berkesempatan lebih dahulu meraih pendidikan tinggi, harus didukung.

Walaupun tentunya, masing-masing punya ego tapi yang terpenting bagi kita anak-anak jangan sampai menjadi korban ambisi kita.

"Ketika saya dapat kesempatan S3 di New Zealand, suami memutuskan resign dari jabatan kepala cabang sebuah bank syariah dan mendukung penuh saya di sana," kata dia.

Begitu juga, saat giliran Najmah selesai menempuh pendidikan. Suami memutuskan sekolah lagi.

"Kali ini, giliran saya yang melepas jabatan di kampus dan mendukung dia," kata Najmah.

Dia menyadari komitmen dan kesamaan visi menjadi penentu keberhasilan karir ia dan suami.

Terbitkan buku bersama Waria

Najmah mengatakan salah satu nilai plus dirinya bisa mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Selandia Baru, karena rajin menulis.

"Saya dulu rajin nulis opini, disalah satu koran terbesar di Sumsel," kata dia.

Ia pun menularkan semangat menulis kepada mahasiswa.

"Saya melatih mahasiswa untuk menulis jurnalisme sebagai gerakan literasi," kata dia lagi.

Baca Juga:

Membiasakan menulis, tambah Najmah sangat penting untuk menyetop fenomena copy paste yang kini masih marak di kalangan mahasiswa.

Untuk mendukung gerakan literasi dia pun melibatkan mahasiswa dan aktif mendukung aktivitas di Kampung Pandai 13 Ulu, yang diinisiasinya  sejak 2019.

Terbaru Najmah pun berkolaborasi dengan Himpunan Waria Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (HW MKGR) Sumatera Selatan dan juga melibatkan mahasiswa yang dibimbingnya menulis buku berjudul "Aku, Keluargaku, dan Kehidupan Sosialku". Perjuangan tanpa jeda bagi waria di Kota Palembang.

Buku dengan 235 halaman, penerbitannya didukung Peminatan Epidemiologi, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Unsri, HW MKGR Sumatera Selatan, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Ketua HW MKGR Sumatera Selatan, Heryanto mengungkapkan awal berkenalan dengan Najmah langsung akrab.

"Ibu Najmah sangat bersahabat orangnya," kata dia ketika dihubungi, Selasa (6/12/2022).

Hery mengungkapkan wawasan beliau sangat luas dan tidak pernah membedakan dalam hal bergaul.

"Orangnya sangat netral," kata dia lagi.

Terkait dengan penulisan buku yang mereka baru selesaikan.

"Alhamdulillah menulis buku dengan ibu  Najmah, sangat menyenangkan," ujar dia.

Dia mengungkapkan mayoritas tim HW MKGR baru pertama menulis.

Tetapi akhirnya bisa menulis dengan dukungan dan ilmu dari ibu Najmah.

"Jiwa-jiwa penulis diulik-ulik, jadi informasi pun bisa didapatkan dengan sangat detail."

"Saya pun sangat bersyukur akhirnya buku bisa terealisasi berkat bimbingan beliau," ujar dia.(Nila Ertina)