Rumah Rakit Bertahan, di Tengah Arus Modernisasi (Bagian 1)

Kamis, 19 Februari 2026 03:21 WIB

Penulis:Nila Ertina

Seorang perempuan sedang duduk santai di depan rumah rakit di kawasan Sungai Ogan, Tuan Kentang  Palembang
Seorang perempuan sedang duduk santai di depan rumah rakit di kawasan Sungai Ogan, Tuan Kentang Palembang (Foto WongKito.co/Nila Ertina)

Di tepian Sungai Ogan, Kelurahan Tuan Kentang, Kota Palembang, rumah rakit itu tetap bertahan mengikuti gerak air yang tak diam. Riak air berkejaran, memantul ke dinding rumah, menimbulkan bunyi ketukan yang tak beraturan.

Menjelang sore, air sungai perlahan surut. Saat perahu melintas, ombak kecil menghantam susunan bambu, membuat rumah rakit bergoyang pelan. Angin yang berhembus membawa samar aroma pohon karet yang berasal dari seberang sungai.

Di atas kayu dan bambu rakitan itulah, Alie Rachman (51) hidup. Ia bercerita tahun 1974 rumah rakit pertama dibangun, sebelum ada rumah Alie ialah rumah orang tuanya yang terletak tak jauh dari rumahnya hanya bersebelahan saja. Begitu juga rumah di tepi sungai lainnya yang rata-rata masih dalam bentuk rumah rakit.

Baca Juga:

Pada era generasi orang tuanya, rumah rakit bukan hanya sekadar tempat tinggal hidup bersama keluarga. Tapi menjadi tempat usaha dalam membangun perekonomian untuk kebutuhan hidup sehari-hari keluarga Alie.

"Dulu, perekonomian jalurnya dari sungai semua belum ada kendaraan jalur darat. Masyarakat setempat mendirikan rumah rakit sekalian tempat tinggal dan tempat usaha. Di mana ada sungai di situlah perekonomian berjalan," cerita Alie pada Sabtu (14/2/2026).

Keluarga Alie memanfaatkan rumah rakit untuk usaha berdagang, menjualkan buah pisang.  Pisang-pisang dari kebun daerah Ogan Komering Ulu (OKU) dihantarkan lewat jalur sungai, menggunakan perahu dan ada juga dengan rakit. Waktu tempuh kurang lebih dua hingga tiga hari sampai ke daerah Sungai Ogan.

Setelah diterima semua jenis pisangnya, orang berdatangan ke rumah rakit untuk membeli pisang-pisang tersebut. Mereka pembeli kebanyakan untuk dijual lagi ke pasar-pasar tradisional. Sebagian lainnya, pisang diolah lagi dan dikonsumsi sendiri.

Aktivitas di Darat

Tergerusnya oleh usia, jalur kehidupan masyarakat semakin berkemajuan. Jalur darat menghubungkan desa-desa. Termasuk ke desa pemasok pisang yang tak lagi dihantarkan lewat sungai tapi transportasi darat dengan waktu yang lebih cepat dibanding jalur sungai, sekitar 5 jam perjalanan saja.

Lalu, di tahun 1990-an, perekonomian berpindah ke jalur darat. Tanpa mau ketinggalan, keluarga Alie mengambil tantangan dengan redupnya perekonomian jalur sungai, kini juga ikut berpindah ke perdagangan jalur darat.

"Kami sebagai penerima, kerja sama dengan pemasok, nanti konsumen yang membeli ke kami. Kegiatan ini terhenti tahun 90-an, karena di tahun itu hingga maju ke sini sudah modern berganti ke aktivitas perdagangan jalur darat," kata Alie.

Baca Juga:

Tak berhenti di situ saja, perkembangan zaman bukan hanya mengganti jalur perdagangan tapi juga perlahan mengganti makanan atau jajanan masyarakat dengan bertambahnya menu makanan baru. Mirisnya, peminat pisang sudah mulai berkurang, masyarakat sudah berpindah rasa ke makanan lain, harga bahan pun semakin meninggi.

Karenanya, di akhir tahun 2015 keluarga Alie berhenti sepenuhnya berdagang. Usaha penjualan pisang sudah tidak efektif lagi untuk dilanjutkan pada generasi sekarang.

"Hingga saat ini, rumah rakit masih kami pertahankan sebagai tempat tinggal saja, tidak lagi tempat usaha. Selain karena kenangan perjuangan dahulu, rumah rakit menjadi tempat aman dikala air sungai meninggi yang terjadi seperti musim hujan kemarin yang tiada henti," ucap Alie.(Magang/Manda Dwi Lestari/Bersambung)