Saat Perempuan Berdaya, Kekerasan tak Lagi Punya Kuasa

Jumat, 15 Mei 2026 19:55 WIB

Penulis:Nila Ertina

 "Perempuan, Lingkungan, dan Kemandirian Finansial"., yang diselanggarakan WCC Palembang
"Perempuan, Lingkungan, dan Kemandirian Finansial"., yang diselanggarakan WCC Palembang (Foto WongKito.co/ist)

KALI ini, bukan tentang bagaimana menjadi istri yang baik. Bukan pula tentang bagaimana perempuan harus menyesuaikan diri dengan dunia yang selama ini dibentuk oleh standar-standar patriarki.

Yang dibicarakan justru sebaliknya,  bagaimana perempuan mengambil kembali ruangnya atas tubuhnya, atas lingkungannya, atas ekonomi hidupnya, dan atas masa depannya.

Sekitar 90 peserta memenuhi ruangan. Mahasiswi, mahasiswa, dosen, aktivis, dan para perempuan dari berbagai komunitas duduk berdampingan, mendengarkan satu tema yang terasa sangat dekat, sekaligus politis "Perempuan, Lingkungan, dan Kemandirian Finansial".

Diinisiasi oleh Women’s Crisis Centre Palembang bersama STIE Aprin, talk show interaktif itu bukan sekadar forum akademik. Ia menjelma menjadi ruang aman, tempat perempuan tidak lagi hanya dibicarakan, tetapi berbicara.

Di depan ruangan, Yeni Roslaini Izi membuka diskusi dengan satu kesadaran sederhana, perubahan sosial tidak pernah lahir dari diam.

Baca Juga:

Satu per satu perempuan naik ke depan, membawa pengalaman, pengetahuan, dan keberpihakan.

Direktur WCC Palembang, Yesi Ariyani, berbicara bukan dari teori, melainkan dari luka-luka yang selama ini ia dampingi.

Ia bercerita tentang perempuan korban kekerasan yang memilih bertahan, bukan karena tidak tahu bahwa dirinya disakiti, tetapi karena tidak punya pilihan ekonomi.

Tentang ibu-ibu yang tetap tinggal di rumah yang penuh ancaman, sebab keluar berarti kehilangan biaya sekolah anak. Tentang perempuan yang memahami tubuhnya diperlakukan tidak adil, tetapi dompet kosong membuat keberanian terasa mahal.

“Peningkatan ekonomi perempuan berdampak langsung pada pencegahan kekerasan. Sebelumnya, banyak korban bertahan karena ketergantungan ekonomi,” kata Yesi.

Kalimat itu membuat ruangan sejenak sunyi.

Karena semua orang tahu, kekerasan tidak selalu dimulai dengan pukulan. Kadang ia dimulai dari ketidakberdayaan.

Di sisi lain, Direktur WALHI Sumsel, Ersyah Hairunisah Suhada, mengajak peserta melihat relasi yang sering luput dibicarakan, hubungan perempuan dan lingkungan.

Ia mengingatkan bahwa ketika sungai tercemar, ketika sumber air rusak, ketika tanah kehilangan kesuburannya, yang pertama kali merasakan dampaknya sering kali adalah perempuan.

Merekalah yang memasak dengan air itu.

Merekalah yang mencuci, merawat anak, menanam, menjaga pangan keluarga.

Dan ketika alam rusak, beban perempuan bertambah, sering tanpa pernah diakui sebagai kerja.

“Perempuan sangat dekat dengan sumber daya alam, terutama air. Ketika air tercemar, perempuan yang paling terdampak,” ujarnya.

Pernyataan itu bukan sekadar data ekologis.

Ia adalah kritik terhadap sistem pembangunan yang sering mengabaikan kerja-kerja reproduktif perempuan, seolah merawat kehidupan bukan bagian dari pembangunan.

Di sudut lain diskusi, Ketua Satgas PPKPT kampus, Telly Pauline Ulviana Siwi, mengingatkan bahwa ruang pendidikan pun belum sepenuhnya aman.

Bullying. Pelecehan. Kekerasan seksual.

Semua bisa tumbuh di tempat yang seharusnya menjadi ruang berpikir bebas.

Karena itu, kehadiran satgas pencegahan kekerasan di kampus bukan sekadar memenuhi regulasi, melainkan memastikan perempuan tidak perlu takut untuk belajar, bersuara, dan berkembang.

Sementara itu, Maphilinda Syahrial Oesman membawa perspektif lain, tentang kreativitas sebagai bentuk perlawanan.

Baginya, ketika perempuan menciptakan sesuatu, menghasilkan pendapatan, membangun usaha, sesungguhnya mereka sedang membangun kedaulatan atas hidupnya sendiri.

“Kreativitas juga menjaga kesehatan mental. Saat kita produktif, mental kita ikut terjaga,” ujarnya.

Lalu sesi yang paling menarik pun dimulai.

Di atas meja, beberapa lembar kain warna-warni diperlihatkan kepada peserta.

Bukan aksesori. Bukan kerajinan. Melainkan pembalut kain, Cindo Pads.

Sebuah inovasi yang lahir dari tangan-tangan perempuan, diproduksi secara kolektif, higienis, dapat digunakan kembali, ramah lingkungan, sekaligus menjadi sumber ekonomi.

Baca Juga:

Produk sederhana itu membawa pesan besar, tubuh perempuan tidak harus terus bergantung pada industri yang mahal, lingkungan tidak harus dibebani limbah sekali pakai, dan ekonomi perempuan bisa tumbuh dari pengalaman tubuh mereka sendiri.

Melalui kolaborasi dengan berbagai kelompok perempuan seperti Bank Sampah Kenanga, HWDI Sumsel, WLCC Palembang, hingga Kelompok Perempuan Jaya Bersama, WCC Palembang menunjukkan bahwa feminisme bukan hanya teori di ruang seminar.

Ia hidup. Ia bekerja. Ia menjahit. Ia mendampingi korban.

Ia menjaga sungai. Ia membangun koperasi. Ia melindungi kampus. Ia mengubah luka menjadi kekuatan.

Dan siang itu, di ruang kampus sederhana di kota Palembang, para perempuan kembali mengingatkan satu hal,
bahwa ketika perempuan berdaya, yang berubah bukan hanya hidup mereka tetapi masa depan masyarakat itu sendiri.(*)