Seandainya Aku jadi Jurnalis Saat Tirto Adhi Soerjo masih Hidup

Kamis, 05 November 2026 09:00 WIB

Penulis:Redaksi Wongkito

TAS
TAS (Foto Ist)

Oleh : Lupi Wahyuni*

Bayangkan....

Saat aku tertidur lalu membuka mata tanpa disadari aku tidak berada di zaman ketika berita hanya berjarak satu sentuhan layar.

Tidak ada internet.

Tidak ada media sosial.

Tidak ada kamera di setiap genggaman.

Aku hidup di awal abad ke-20, ketika suara rakyat sering kali tenggelam di antara kekuasaan dan ketakutan.

Dan di zaman itu, aku memilih satu pekerjaan:

Yakni menjadi seorang jurnalis.

Namaku mungkin tidak akan terkenal. Tulisanku mungkin tidak akan masuk ke dalam buku sejarah. Tetapi aku ingin menjadi seseorang yang berani menuliskan kenyataan.

Hingga suatu hari, aku mendengar sebuah nama yang sering dibicarakan di kalangan kaum terpelajar pribumi.

Tirto Adhi Soerjo.

Baca Juga:

Seorang wartawan yang tidak hanya menulis berita, tetapi menggunakan tulisan sebagai senjata untuk melawan ketidakadilan.

Aku pun penasaran.

Seperti apa sebenarnya sosok di balik tulisan-tulisan itu?

Pagi itu, aku berjalan menuju sebuah kantor surat kabar.

Di tanganku ada buku catatan dan pena. Jantungku berdebar karena untuk pertama kalinya aku akan bertemu dengan seorang tokoh yang selama ini hanya kukenal melalui tulisannya.

Ketika aku masuk, kulihat beberapa orang sedang sibuk menyusun tulisan.

Di sebuah meja, seorang pria duduk dengan tenang. Di hadapannya terdapat lembaran-lembaran kertas.

Aku tahu. Dialah Tirto.

Aku memberanikan diri untuk mendekat.

"Apakah Anda Tuan Tirto?"

Ia menatapku dan mengangguk.

"Ya. Ada keperluan apa?"

Aku menjawab dengan gugup,

"Saya ingin belajar menjadi jurnalis."

Ia tersenyum kecil.

"Kalau begitu, jangan hanya belajar menulis."

Aku terdiam dan juga kebingungan.

"Belajarlah melihat."

Aku mulai memahami maksudnya.

Menjadi Jurnalis bukan hanya mengenai bagaimana menyusun kata-kata.

Tetapi, seorang jurnalis harus bisa melihat penderitaan orang yang tidak terlihat. Mendengar suara orang yang tidak didengar. Dan berani menuliskan sesuatu yang mungkin tidak disukai oleh mereka yang berkuasa.

Hari itu, Tirto mengajakku keluar.

Kami berjalan melewati jalanan yang ramai. Aku melihat pedagang pribumi, buruh, petani, dan masyarakat biasa yang menjalani kehidupan mereka dalam keterbatasan.

Tirto berhenti di sebuah tempat.

Ia menunjuk seorang rakyat kecil yang sedang bekerja.

"Menurutmu, apa yang sedang dia lakukan?"

Aku menjawab,

"Dia sedang bekerja."

Tirto tersenyum.

"Benar. Tapi seorang jurnalis harus bertanya lebih jauh."

“Mengapa ia bekerja begitu keras? Berapa penghasilannya? Apakah ia diperlakukan dengan adil? Apakah keluarganya bisa makan dengan layak? Dan siapa yang diuntungkan dari pekerjaannya?”

Aku mulai mencatat.

Hari itu aku belajar bahwa berita tidak selalu berada di tempat yang ramai. Kadang berita justru bersembunyi dalam kehidupan orang-orang yang tidak pernah diberi kesempatan untuk bersuara.

Beberapa hari kemudian, aku menulis artikel pertamaku.

Aku menulis tentang ketidakadilan yang dialami masyarakat pribumi.

Aku sangat yakin dengan tulisanku.

Namun ketika kuberikan kepada Tirto, ia membacanya cukup lama.

Kemudian ia berkata,

"Tulisanmu bagus."

Aku tersenyum 

"Tetapi..."

Senyumku hilang.

"Jangan menulis hanya karena kamu marah. Tulis karena kamu ingin orang lain mengetahui kebenaran."

Aku terdiam.

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

Aku sadar bahwa jurnalis bukanlah seseorang yang sekadar mencari sensasi.

Jurnalis harus mencari fakta.

Harus memeriksa informasi.

Harus berani.

Namun keberanian tanpa kebenaran hanya akan menjadi kebisingan.

Hari-hari berlalu.

Semakin lama aku bekerja sebagai jurnalis, semakin aku mengerti bahwa pekerjaan ini tidak mudah.

Ada tulisan yang membuat orang marah.

Ada berita yang membuatku takut.

Bahkan ada saat ketika aku berpikir untuk berhenti.

Suatu malam, aku bertanya kepada Tirto,

"Apakah tuan tidak takut?"

Ia terdiam sejenak.

"Tentu saja takut."

Aku terkejut.

Ia melanjutkan,

"Orang yang berani bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Orang yang berani adalah orang yang tetap melakukan apa yang benar meskipun ia merasa takut."

Aku menunduk.

Saat itu aku sadar.

Mungkin itulah alasan mengapa tulisan Tirto begitu kuat.

Karena di balik setiap kata, ada keberanian untuk menyuarakan sesuatu yang mungkin tidak ingin didengar oleh penguasa.

Seandainya aku benar-benar menjadi jurnalis pada masa Tirto Adhi Soerjo masih hidup, mungkin hidupku tidak akan mudah.

Aku tidak akan memiliki kamera canggih.

Tidak akan ada internet untuk menyebarkan berita dalam hitungan detik.

Mungkin aku harus menulis dengan tangan, menunggu percetakan, dan melihat berita yang kutulis dibaca oleh masyarakat beberapa hari kemudian.

Namun justru di situlah aku belajar sesuatu.

Bahwa kekuatan seorang jurnalis bukan terletak pada kecanggihan alatnya.

Kekuatan seorang jurnalis terletak pada keberaniannya untuk mencari kebenaran.

Kini aku kembali membayangkan diriku berada di zaman sekarang.

Aku melihat ponsel di tanganku.

Berita muncul setiap detik.

Informasi menyebar begitu cepat.

Tetapi aku bertanya kepada diriku sendiri:

Apakah kita benar-benar sudah menjadi jurnalis yang lebih baik?

Atau justru kita semakin mudah menyebarkan sesuatu tanpa mengetahui kebenarannya?

Jika Tirto Adhi Soerjo hidup di zaman sekarang, mungkin ia akan menggunakan teknologi yang ada.

Mungkin ia akan memiliki media digital.

Mungkin tulisannya akan viral.

Tetapi aku yakin, satu hal tidak akan berubah.

Ia tetap akan berpihak pada kebenaran.

Seandainya aku menjadi jurnalis ketika Tirto Adhi Soerjo masih hidup, aku ingin berdiri di sampingnya.

Bukan untuk menjadi terkenal.

Bukan untuk mengejar banyak pembaca.

Tetapi untuk belajar satu hal:

bahwa sebuah tulisan dapat menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki suara.

Dan mungkin, ketika suatu hari seseorang bertanya kepadaku,

"Untuk apa kamu menjadi jurnalis?"

Aku akan menjawab:

"Karena ada kebenaran yang harus ditulis, ada ketidakadilan yang harus disuarakan, dan ada suara rakyat yang tidak boleh hilang begitu saja."

Itulah alasan mengapa, jika aku diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu…

aku ingin menjadi jurnalis di zaman Tirto Adhi Soerjo.

Baca Juga:

Jika Tirto Adhi Soerjo hidup di zaman sekarang, mungkin ia akan menggunakan teknologi yang ada. Mungkin ia akan memiliki media digital dan tulisannya akan viral. Tetapi aku yakin, satu hal tidak akan berubah: ia tetap akan berpihak pada kebenaran. Seandainya aku menjadi jurnalis ketika Tirto Adhi Soerjo masih hidup, aku ingin berdiri di sampingnya. Bukan untuk menjadi terkenal, bukan untuk mengejar banyak pembaca, tetapi untuk belajar satu hal, bahwa sebuah tulisan dapat menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki suara.

Dan mungkin, ketika suatu hari seseorang bertanya kepadaku, "Untuk apa kamu menjadi jurnalis?" Aku akan menjawab, "Karena ada kebenaran yang harus ditulis, ada ketidakadilan yang harus disuarakan, dan ada suara rakyat yang tidak boleh hilang begitu saja." Itulah alasan mengapa, jika aku diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, aku ingin menjadi jurnalis di zaman Tirto Adhi Soerjo.

Mungkin aku memang tidak bisa hidup di zaman beliau. Namun, semangat untuk mengungkapkan dan membela kebenaran  berdasarkan fakta , serta menyuarkan suara rakyat yang tidak didengar,  akan selalu hidup. Semangat itu tidak pernah benar-benar hilang. Jiwa Tirto Adhi Soerjo masih mengalir dalam diri para jurnalis dan wartawan masa kini, bahkan akan terus hidup pada generasi jurnalis di masa yang akan datang.

Aku Lupi Wahyuni, dan inilah  caraku untuk mengenang perjuangan Tirtho Adhi Soerjo.

*Mahasiswa Prodi Jurnalistik Angkatan 2025, untuk tugas News Reporting Writing, Editing