BucuKito
Kebahagiaan dan Harapan di Malam Pertama Ramadan
Langit biru berubah menjadi gelap saat semburat jingga hilang di antara lampu-lampu masjid yang mulai menyala lebih terang dari biasanya. Anak-anak berlarian di pelataran, sebagian duduk tenang di teras-teras masjid sambil bercengkrama.
Aroma parfum bercampur dengan wangi sajadah-sajadah yang baru saja digelar. Malam pertama Ramadan benar-benar tiba dan begitu terasa. Bukan hanya lewat pengumuman sidang isbat, tetapi juga lewat langkah kaki yang bersama-sama menuju rumah ibadah.
Di sudut kota, halaman Masjid Daarul Jannah, Jalan Rawa Jaya Kelurahan Pahlawan, Palembang tampak lebih hidup.
Baca Juga:
- Mahasiswa KKN UIN Palembang Ajak Warga Cegah 3 Hal ini
- 5 Cara Atur Keuangan Ramadan Tetap Stabil hingga Lebaran
- Cek Rinciannya, Harga Emas Antam Naik Rp4.000
Jalanan yang siang tadi terasa lenggang kini dipenuhi beberapa kendaraan yang terparkir rapi di area depan masjid. Para jama’ah datang menggunakan pakaian terbaik yang mereka punya. Para perempuan memakai mukena putih bersih atau motif berwarna, dan para pria memakai baju koko dengan peci hitamnya.
Setiap wajah memancarkan kebahagian dan antusias untuk menyambut bulan Ramadhan yang penuh ampunan serta harapan yang mereka panjatkan disetiap lntunan do’a.
“Senang bisa ikut Salat Tarawih pertama, rasanya itu selalu beda. Seperti ada sesuatu yang dirindukan dan akhirnya datang lagi,” ujar Rina (34), seorang ibu rumah tangga yang datang bersama kedua anaknya.
Setiap bulan Ramadan tiba, masjid Daarul Jannah memiliki peraturan, yaitu mengarahkan jama’ah pria untuk salat di tempat parkir bagian depan yang sudah dibersihkan hingga layak. Sedangkan jama’ah perempuan mengisi bagian dalam dan teras masjid. Hal tersebut dilakukan agar semua jama’ah memiliki tempat.
Sebelum melaksanakan Salat Tarawih, pengurus Masjid Daarul Jannah menyampaikan beberapa informasi di antaranya, mengenai susunan Bilal, Imam dari warga, Salat Tarawih yang akan dilaksanakan sebanyak 8 rakaat dengan 3 Salat Witir, membuat jadwal takjil buka puasa oleh pengurus. Pengurus juga memperbolehkan bagi siapa saja yang ingin tadarusan dengan waktu yang telah dibatasi.
“Sesuai dengan kesepakatan pengurus Masjid Daarul Jannah, maka shalat Tarawih akan dilaksanakan sebanyak delapan rakaat dengan tiga rakaat Salat Witir,” ujar salah satu pengurus masjid Daarul Jannah.
Saf-saf mulai terisi penuh dan tertib. Anak-anak kecil duduk di barisan belakang, suara-suara bisikan terdengar pelan ketika menahan tawa. Seorang pemuda tampak merapatkan safnya ke samping kirinya, sementara seorang ibu merapikan mukenah dan sajadah anak perempuannya yang sedikit berantakan.
Ketika imam melafalkan takbir pertama, suasana yang tadinya riuh perlahan berubah menjadi hening dan khusyuk.
Hanya ada suara kipas angin yang bercampur dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan suara dari beberapa kendaraan beroda dua maupun empat yang melintas.
Bagi sebagain orang, malam itu merupakan tentang memperbaiki niat. Adapun yang lain, merupakan awal dari tekad yang baru.
“Semoga tahun ini bisa lebih baik lagi ibadahnya dari tahun-tahun sebelumnya,” ujar Rita (22), seorang mahasiswi yang mengaku tahun lalu bolong beberapa kali tarawih karena tugas kuliah.
Salat berlangsung sedikit lebih lama dari biasanya. Rakaat demi rakaat dijalani dengan penuh kesabaran dan hati yang teguh. Meskipun rasa pegal mulai menyerang kaki, tapi tidak membuat mereka mundur atau menyerah.
Seolah tidak ingin melewatkan do’a yang dilangitkan di malam pertama Ramadan.
Baca Juga:
- Layanan Tukar Uang Dibuka, Cek Cara Mudahnya Lewat PINTAR BI
- Pertahankan Rumah Panggung untuk Hindari Banjir
- Bertahannya Nadi Kehidupan Tepi Sungai Palembang
Suara-suara kembali riuh setelah salam terakhir diucapkan. Setiap wajah berseri-seri seperti baru saja mendapatkan kehidupan yang baru. Anak-anak berlarian keluar menuju pedagang-pedagang yang menjajakan makanan dan minuman.
Dan di antara mereka, ada yang memilih untuk tetap tinggal sedikit lebih lama didalam masjid. Menenggadahkan tangan lalu berdo’a dengan khusyuk. Menyerahkan segala urusan dunia Kepada Sang Pencipta atau mungkin menyebut nama-nama yang sudah tidak bisa lagi hadir disamping mereka.
Tarawih pertama bukan hanya sekedar ibadah tambahan, tapi sebagai penanda. Jika bulan yang penuh ampunan sudah kembali. Dan kesempatan untuk memperbaiki diri telah dibuka lagi. Dan malam-malam berikutnya akan diisi oleh langkah-langkah yang sama yaitu menuju masjid, menuju do’a, dan menuju harapan untuk kebaikan.(Magang/Ani Mustika Wati)

