BucuKito
Mahasiswa KKN UIN Palembang Ajak Warga Cegah 3 Hal ini
DI tengah padatnya permukiman dan hiruk-pikuk aktivitas warga, lapangan RT 60 Sei Selincah, Kampung Kelapa Sawit, tampak berbeda dari biasanya. Kursi-kursi plastik berjajar rapi menghadap spanduk sederhana di bagian depan, sementara suara anak-anak bercampur dengan obrolan ibu-ibu yang saling menyapa.
Selama tiga hari berturut-turut, yaitu pada Rabu-Jumat (11-13/2/2026) lapangan yang berada di kawasan pinggiran Kota Palembang itu berubah menjadi ruang belajar bersama. Warga, berkumpul untuk membahas isu yang kerap dianggap tabu, mulai dari narkotika, perundungan atau bullying, hingga pelecehan seksual.
Kegiatan sosialisasi ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Sejak hari pertama, suasana terasa hangat dan terbuka. Warga dari berbagai kalangan hadir, mulai dari remaja, orang tua, hingga tokoh masyarakat setempat. Mereka duduk berdampingan di kursi plastik yang disusun sederhana, menyimak pemaparan materi, lalu sesekali mengangguk atau saling berbisik ketika topik yang dibahas terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Beberapa warga bahkan mulai berani berbagi pengalaman yang selama ini hanya dipendam.
Baca Juga:
- 5 Cara Atur Keuangan Ramadan Tetap Stabil hingga Lebaran
- Cek Rinciannya, Harga Emas Antam Naik Rp4.000
- Lembut dan Moist, Yuk Buat Bolu Keju Panggang
Hari pertama difokuskan pada bahaya narkotika. Pemateri menjelaskan bagaimana peredaran narkoba kini tidak lagi mengenal batas usia maupun lingkungan. Anak-anak dan remaja disebut sebagai kelompok yang paling rentan terpapar.
Suasana diskusi pun terasa hidup. Beberapa orang tua mengangkat tangan, menyampaikan kegelisahan mereka tentang pergaulan anak-anak yang semakin luas. Ada yang bercerita soal perubahan sikap anak, ada pula yang khawatir dengan pengaruh media sosial yang sulit diawasi setiap saat. Obrolan yang semula terasa formal perlahan berubah menjadi percakapan yang lebih jujur dan terbuka.
Suasana diskusi pun terasa hidup. Beberapa orang tua mengangkat tangan, menyampaikan kegelisahan mereka tentang pergaulan anak-anak yang semakin luas. Ada yang bercerita soal perubahan sikap anak, ada pula yang khawatir dengan pengaruh media sosial yang sulit diawasi setiap saat. Obrolan yang semula terasa formal perlahan berubah menjadi percakapan yang lebih jujur dan terbuka.
“Selama ini kami pikir narkoba itu sudah jauh dari lingkungan kami. Tapi ternyata ancamannya bisa datang dari mana saja,” ujar Salsa, salah satu warga yang hadir. Ucapannya disambut anggukan peserta lain. Beberapa ibu terlihat saling berpandangan, seolah merasakan kekhawatiran yang sama. Kalimat itu terasa dekat dengan kenyataan mereka, mengingatkan bahwa kewaspadaan harus dimulai dari rumah sendiri.

Memasuki hari kedua, pembahasan beralih pada materi bullying, penyampaian materi lebih interaktif. Anak-anak tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi juga diajak bercerita dan menanggapi contoh-contoh situasi yang sering terjadi di lingkungan pergaulan mereka.
Dari ejekan, perundungan verbal, hingga pengucilan, semuanya dibahas dengan bahasa yang mudah dipahami. Beberapa anak terlihat mulai berani mengangkat tangan, menceritakan pengalaman yang pernah mereka alami atau saksikan sendiri. Suasana pun terasa lebih hidup, sekaligus mengundang rasa empati di antara peserta.
Hari ketiga menjadi sesi yang paling menyentuh. Tema pelecehan seksual dibahas secara hati-hati, namun tetap terbuka. Pemateri menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami semua kalangan, terutama para orang tua dan anak-anak.
Warga diberi pemahaman tentang berbagai bentuk pelecehan yang sering tidak disadari, pentingnya mengenali batasan tubuh (body boundaries), serta langkah-langkah yang bisa dilakukan jika menjadi korban atau mengetahui adanya kasus. Suasana sempat hening ketika materi disampaikan, beberapa peserta tampak menunduk, sementara yang lain menyimak dengan wajah serius, seolah mencerna setiap penjelasan yang diberikan.
Bagi sebagian warga, topik ini memang terasa sensitif. Beberapa peserta tampak lebih banyak diam, menyimak tanpa banyak bicara. Namun justru di situlah letak pentingnya sosialisasi tersebut. Perlahan, diskusi mulai berjalan lebih aktif, terutama ketika pembahasan beralih ke perlindungan anak dan peran keluarga dalam membangun komunikasi yang sehat.
Ketua RT 60 Sei Selincah, Zaldi, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar kegiatan ini tidak berhenti sebagai wacana. Ia berdiri di depan warga dengan nada suara yang tegas, menatap peserta satu per satu.
“Kami ingin lingkungan ini menjadi tempat yang aman bagi anak-anak dan perempuan. Kalau ada masalah, jangan dipendam. Kita selesaikan bersama,” ujarnya. Ucapannya disambut anggukan warga yang duduk di barisan kursi plastik, seolah menyepakati harapan yang sama.
Selama tiga hari kegiatan berlangsung, yang terlihat bukan hanya proses penyampaian materi, tetapi juga tumbuhnya kesadaran kolektif di antara warga. Percakapan-percakapan kecil setelah sesi berakhir menunjukkan bahwa apa yang disampaikan tidak berhenti di tempat duduk, tetapi mulai dipikirkan bersama.
Baca Juga:
- Layanan Tukar Uang Dibuka, Cek Cara Mudahnya Lewat PINTAR BI
- Pertahankan Rumah Panggung untuk Hindari Banjir
- Bertahannya Nadi Kehidupan Tepi Sungai Palembang
Warga mulai menyadari bahwa menjaga lingkungan dari narkotika, mencegah bullying, dan melindungi anak-anak dari pelecehan seksual bukan hanya tugas aparat atau sekolah, melainkan tanggung jawab bersama yang dimulai dari rumah dan lingkungan sekitar.
Menjelang sore di hari terakhir, kursi-kursi mulai dirapikan satu per satu. Anak-anak kembali berlarian di lapangan yang sejak pagi menjadi tempat berlangsungnya kegiatan. Suasana kembali seperti biasa, namun ada yang terasa berbeda. Di antara obrolan warga, mulai terdengar kalimat-kalimat seperti “jaga diri”, “saling menghargai”,
dan “berani melapor”.
Bagi warga RT 60 Sei Selincah, tiga hari itu mungkin terasa singkat. Namun benih kesadaran yang ditanam bersama diharapkan bisa tumbuh lebih lama, menjadi pagar tak kasatmata yang menjaga lingkungan dari ancaman yang kerap datang tanpa disadari.
Sementara kegiatan tersebut diselenggarakan mahasiswa KKN UIN Radem Fatah Palembang, Kelompok 393 dengan Ketua Muhammad Alvin Asyraf Pratama, Navisha Meilanie Dian Felisha, Anisah, M Reno Dwi Nugraha dan RM Rizky Anugrah.(*)

