Mengenal Situs Makam Kesultanan Palembang Darussalam

Makam Sultan Mahmud Baraduddin (Foto WongKiro.co/Mg/Ani Mustika Wati)

- Kawah Tengkurep, Bangunan ini memiliki bentuk menyerupai arsitektur Eropa dengan kubah yang tampak seperti kuali terbalik.
- Akulturasi Melayu,  India dan Tionghoa, Dari sisi arsitektur, kompleks ini menunjukkan perpaduan elemen Melayu, India, dan Tionghoa


TEPAT di sisi jalan Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, berdiri sebuah gapura beratapkan seng berwarna merah tua dengan tembok biru dan sentuhan emas. Tak banyak orang menyangka, di balik gapura sederhana itu tersimpan kompleks pemakaman para sultan Kesultanan Palembang Darussalam, yang dikenal sebagai Makam Kawah Tengkurep. Kompleks makam ini dibangun pada tahun 1728 Masehi atas perintah Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo.

Ketika memasuki kawasan makam, pengunjung akan disambut pelataran yang cukup luas serta sebuah papan nama bertuliskan “Makam Sultan Mahmud Badaruddin”. Semakin ke dalam, deretan makam keluarga kesultanan tampak di bawah naungan pepohonan besar yang membuat suasana terasa sejuk dan teduh. Rumput-rumput di sekitar makam tidak dibiarkan tumbuh tinggi. Petugas kebersihan rutin membersihkan area, menyapu, dan mencabuti rumput agar makam tetap terawat dan mudah dikenali.

Untuk mencapai makam utama, makam Sultan Mahmud Badaruddin, pengunjung akan melewati sebuah gapura kecil berwarna merah tua, putih, dan emas pada bagian puncaknya. Jalan setapak menuju ke sana dilapisi keramik putih, diapit pagar hidup dan beberapa tanaman bunga. Lampu-lampu juga terpasang sebagai penerangan pada malam hari.

Di sisi kanan jalur masuk, berdiri sebuah bangunan kokoh yang menjadi tempat dimakamkannya Sultan Muhammad Bahauddin beserta keluarganya. Pintu bangunan ini dihiasi ukiran daun dan bunga menjalar, khas hiasan Melayu-Islam, dengan dominasi warna emas yang dipadukan merah, kuning, dan hijau. Dan di belakang bangunan tersebut, masih terdapat beberapa makam lainnya.

Baca Juga:

Sebelum memasuki area makam inti, pengunjung akan melewati sebuah gerbang paduraksa yang di bagian atasnya terdapat hiasan puncak berbentuk kuncup (mustaka).

Gerbang ini menjadi penanda peralihan menuju kawasan yang lebih sakral, sekaligus simbol penghormatan kepada tokoh-tokoh yang dimakamkan di dalamnya.

Sedangkan di bagian inti kompleks, terdapat dua bangunan makam utama. Sebelah kanan terdapat makam Sultan Ahmad Najamuddin I (Adi Kusumo) bersama istri, anak-anak, serta guru spiritualnya. Sementara di sisi lainnya berdiri bangunan utama Makam Sultan Mahmud Badaruddin I (Jayo Wikramo) beserta para istrinya dan guru spiritualnya.

Bangunan ini memiliki bentuk menyerupai arsitektur Eropa dengan kubah yang tampak seperti kuali terbalik. Inilah yang kemudian melahirkan sebutan Kawah Tengkurep. Warna bangunan didominasi hijau dengan hiasan kuncup kecil berwarna emas di puncaknya. Di halaman depan, berdiri tiang bendera Merah Putih sebagai simbol penghormatan terhadap tanah air.

Di halaman kompleks, terdapat pula makam-makam sanak saudara keluarga kesultanan. Lantainya dilapisi keramik kuning pasir dan dikelilingi pagar tembok bercat putih dan hijau. Area ini terlihat bersih, rapi, dan tertata dengan baik. Sebuah papan silsilah Kesultanan Palembang Darussalam juga dipasang untuk membantu pengunjung mengenali hubungan keluarga para tokoh yang dimakamkan.

Sultan Mahmud Badaruddin I, yang dikenal dengan gelar Jayo Wikramo, merupakan Sultan ke-4 Kesultanan Palembang Darussalam. Ia memerintah pada periode 1724 hingga 1758 Masehi. Sultan ini merupakan putra Sultan Muhammad Mansur Kebon Gede dan Nyimas Sengak, serta tumbuh di lingkungan keraton dengan pendidikan agama dan pemerintahan yang kuat.

Ia naik takhta pada 23 Maret 1724, menggantikan Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno. Penobatan ini menandai berakhirnya konflik panjang perebutan kekuasaan di lingkungan keraton Palembang setelah wafatnya Sultan Abdurrahman. Di bawah pemerintahannya, Kesultanan Palembang Darussalam berhasil menjaga stabilitas politik serta menjalin hubungan dagang dan diplomatik dengan VOC (Belanda) dan kelompok ekonomi lain, termasuk penambang Tionghoa di Bangka setelah konflik dengan Bugis.

Bapak Pembangunan

Sultan Mahmud Badaruddin I juga dikenal sebagai tokoh pembangunan. Ia kerap disebut sebagai “bapak pembangunan” pada masa Kesultanan Palembang karena banyak meninggalkan bangunan monumental.

“Menurut pandangan kami, Sultan Mahmud Badaruddin I itu bisa disebut bapak pembangunan di masa Kesultanan Palembang, karena beliau membangun Kuto Besak, Masjid Agung, dan juga Makam Kawah Tengkurep, semuanya berbahan batu,” ujar Robby Sunata, pendiri komunitas cagar budaya.

Nama Kawah Tengkurep sendiri berasal dari bentuk arsitektur bangunan makam. Dalam bahasa Palembang dan Melayu, kawah berarti kuali besar atau wadah memasak, sementara tengkurep berarti terbalik.

“Orang Palembang dulu menyebut kuali besar itu sebagai kawah, dan karena bentuk kubahnya seperti kuali yang ditelungkupkan, maka disebutlah Kawah Tengkurep,” lanjut Robby.

Beberapa tokoh penting yang diketahui dimakamkan di kompleks ini antara lain Sultan Mahmud Badaruddin I beserta keempat istrinya dan guru agamanya Imam Sayid Idrus Al Idrus; Pangeran Ratu Kamuk Raden Zailani beserta istri dan guru agamanya; Susuhunan Ahmad Najamuddin I Adi Kusumo beserta keluarga dan guru spiritualnya; Sultan Muhammad Bahauddin beserta keluarga; serta Susuhunan Husin Dhilia Uddin Najamuddin II.

Keunikan Makam Kawah Tengkurep terletak pada kemegahan dan ukurannya yang menjadikannya kompleks makam terbesar di Palembang dibandingkan makam-makam kesultanan lainnya.

“Kalau dibandingkan dengan Makam Sabokingking, Makam Ki Gede Ing Suro, Makam di Kebun Gede, atau Makam Kemas Rindu, semuanya relatif lebih kecil dibandingkan Kawah Tengkurep,” jelas Robby Sunata.

Dari sisi arsitektur, kompleks ini menunjukkan perpaduan elemen Melayu, India, dan Tionghoa.

Sementara penelitian arkeologi menunjukkan bahwa ornamen pada batu nisan mengandung pola-pola Hindu-Buddha yang telah disesuaikan dengan nilai Islam, seperti motif Surya Majapahit yang diubah menjadi motif bunga, serta garis-garis nisan yang menunjukkan kemungkinan pengaruh budaya Tionghoa. Hal ini menandakan bahwa Kawah Tengkurep merupakan hasil proses akulturasi budaya yang panjang di Palembang.

Struktur bangunan kompleks ini juga diyakini dibangun tanpa semen modern, melainkan menggunakan campuran bahan tradisional seperti kapur, pasir, putih telur, dan batu, yang menunjukkan kuatnya kearifan lokal dalam teknik bangunan masa lalu.

Hingga kini, Makam Kawah Tengkurep masih rutin dikunjungi peziarah untuk berdoa dan berziarah. Kompleks ini dibuka selama dua puluh empat jam, meskipun peziarah yang datang pada malam hari biasanya membuat janji terlebih dahulu.

Situs ini juga kerap menjadi lokasi kegiatan ziarah besar seperti ziarah kubro dan peringatan hari-hari penting di Palembang. Saat ini, Kawah Tengkurep telah berstatus sebagai cagar budaya karena nilai sejarahnya yang tinggi.

Menjelang dan saat pelaksanaan Ziarah Kubro, pihak Makam Kawah Tengkurep bersama panitia dan instansi terkait menyiapkan berbagai fasilitas untuk menunjang kenyamanan peziarah. Area makam dibersihkan, rumput dirapikan, serta akses masuk diatur agar arus peziarah tetap tertib.

Penerangan, air minum, dan tempat istirahat juga disiapkan, termasuk dukungan kesehatan dan pengamanan karena jumlah pengunjung biasanya sangat banyak. Semua persiapan ini dilakukan agar prosesi ziarah dapat berjalan lancar, aman, dan khusyuk.

Namun, perawatan makam masih sangat bergantung pada kepedulian para pengunjung. Alvian, salah satu petugas kebersihan, mengatakan bahwa keterbatasan biaya menjadi tantangan utama.

“Kami ini sangat bergantung pada pengunjung. Kalau tidak ada yang datang, kadang kasihan juga melihat kondisi makam. Tapi mau bagaimana lagi, kami hanya bisa menyumbang tenaga. Kalau sedang sepi peziarah, ya paling kami bantu-bantu menyapu dan membersihkan semampu kami,” ujarnya.

Sayangnya, minat generasi muda terhadap situs sejarah seperti Makam Kawah Tengkurep masih tergolong rendah.

Baca Juga:

Anak muda cenderung lebih tertarik pada tempat yang estetik dan cocok untuk berfoto, sementara makam sering dianggap suram dan kurang menarik. Selain itu, sejarah yang disampaikan hanya lewat hafalan tanggal dan nama tokoh membuat banyak anak muda merasa jauh dari kisah masa lalu kotanya sendiri.

Menurut Robby Sunata, pendekatan yang lebih efektif adalah melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan narasi yang kuat, sejarah tidak lagi terasa sebagai beban hafalan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan masyarakat yang masih relevan hingga kini.

Pemanfaatan media sosial juga dapat menjadi pintu masuk agar anak muda mau datang berkunjung. Setelah berada di lokasi, barulah cerita sejarah dapat disampaikan sehingga kunjungan tidak berhenti pada sekadar berfoto, tetapi menjadi pengalaman belajar.

Makam Kawah Tengkurep bukan hanya tempat pemakaman, tetapi juga warisan penting sejarah Palembang. Agar nilai sejarah ini tidak hilang, diperlukan kepedulian bersama, terutama dari generasi muda, supaya situs ini tetap dikenal, dijaga, dan dihargai sebagai bagian dari identitas kota Palembang, demikian ungkap Robby. (Mg/Ani Mustika Wati)

 

 

Editor: Nila Ertina

Related Stories