Ekonomi dan UMKM
Awal Pekan Terkoreksi, Mutu Bokar Tetap Jadi Kunci Nilai di Petani
PALEMBANG, WongKito.co - Memasuki awal pekan, harga karet global kembali mengalami koreksi setelah pada akhir pekan lalu mulai menunjukkan tanda keluar dari fase konsolidasi. Penurunan ini menjadi bagian dari proses uji arah pasar untuk memastikan kekuatan tren yang mulai terbentuk.
Sekjen Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumatera Selatan, Rudi Arpian menilai, pergerakan ini masih tergolong wajar, di mana setelah fase stabil dan mulai menguat, pasar biasanya melakukan penyesuaian sebelum melanjutkan arah berikutnya.
“Saat ini, pasar terlihat sedang menguji apakah momentum penguatan dapat berlanjut atau kembali tertahan,” jelasnya, Senin (20/4/2026).
Di tengah dinamika tersebut, petani tetap diharapkan menjaga mutu bahan olahan karet (bokar) secara konsisten. Gunakan koagulan/pembeku lateks sesuai anjuran, pastikan bokar bebas dari kotoran, bebas dari kontaminasi limbah atau perendaman.
“Semakin tinggi KKK, semakin murni kandungan karet dan semakin sedikit kandungan air di dalam bokar,” Rudi mengingatkan.
Sementara itu, tercatat harga karet KKK 100% per Senin, 20 April 2026 sebesar Rp 34.411 per kilogram. Angka ini mengalami penurunan Rp 281 per kilogram dibandingkan posisi harga Jumat 17 April 2026 lalu sebesar Rp 34.692 per kilogram.
- Ceritaku Ikut Kelas Feminis Solidaritas Perempuan Palembang
- Mengenal Tarida Gitaputri: Mengawal Gerakan Perempuan Berpengaruh
- IHSG pada 14 April 2026 Ditutup Naik ke 7.675,95
Berikut rincian harga karet berdasarkan KKK:
KKK 70% = Rp. 24.088,-/Kg
KKK 60% = Rp. 20.647,-/Kg
KKK 50% = Rp. 17.206,-/Kg
KKK 40% = Rp. 13.764,-/Kg
KKK 30% = Rp. 10.323,-/Kg
Rudi menyebut, daftar harga karet tersebut belum dipotong biaya produksi. (*)

