KabarKito
Berkat MBG Setop, Pedagang Ayam Gembira
PALEMBANG, WongKito.co - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya memang menjadi momok bagi pedagang kecil, diantaranya pedagang ayam potong di pasar tradisional Kota Palembang.
Karena itu, tak heran saat MBG disetop sementara pasokan ayam potong ke pedagang di pasar tradisional normal, harga pun mengalami penurunan.
"Ternyata terbukti ya, kalau MBG itu banyak dampak negatifnya, contohnya saya penjual ayam ini, sekarang senang karena pasokan ayam normal dan penjualan pun meningkat," kata salah seorang pedagang di Pasar 26 Ilir, Palembang, Senin (29/6/2026).
Baca Juga:
- PSN 3M+, Aksi Nyata Kelompok 8 PBL FKM Unsri
- Perkuat Komitmen SDGs, Mahasiswa PBL FKM Unsri, Sukseskan 5 Program Kesehatan
- Kelompok 8 PBL FKM Unsri Edukasi Pilah Sampah-Biopori
Ia bercerita sudah sepekan ini pasokan ayam normal, yang tentunya berdampak pada penurunan harga. Selama ini, produsen ayam potong hanya menyisakan sedikit untuk pedagang, karena dipasok ke dapur MBG.
"MBG Setop, kami pun mendapatkan pasokan normal," kata dia bersemangat.

Harga ayam potong menjadi salah satu komoditas yang paling terdampak karena program MBG, harga ayam di pasaran tidak pernah kurang dari Rp35 ribu per kilogram.
Padahal sebelumnya, harga ayam potong berkisar Rp28 ribu per kilogram."Sejak beberapa hari ini, kami menjual ayam potong seharga Rp28 ribu per kilogram," kata pedagang ayam lainnya.
Hal senada diungkapkan Mina pedagang telur ayam negeri, ia bercerita kalau sejak sepekan ini bisa menjual telur ayam Rp22 ribu per kilogram.
"Pasokan telur Kembali normal, dan harga pun turun," kata dia.
Cabai juga Turun
Tak hanya, ayam potong dan telur yang harganya mengalami penyesuaian tetapi sejumlah komoditas lainnya, seperti cabai dan bawang merah juga turun.
Ito pedagang sayuran mengakui kalau harga cabai sepekan ini cenderung normal. "Cabai merah harganya berkisar Rp28 ribu per kilogram," kata dia.

Sedangkan bawang merah mulai dari Rp32 ribu per kilogram dan bawang putih Rp30 ribu per kilogram.
Salah seorang warga Palembang, Indriani mengaku senang bisa membeli bahan pangan dengan harga normal.
"Benar ternyata ya, MBG itu banyak merugikan," kata dia.
Baca Juga:
- Yayasan Mitra Hijau Perkuat Transisi Energi dan Peran Perempuan di Sumsel
- Animate Luncurkan Day Cream Tone Up 5x Active Whitening
- UU PPRT Disahkan, Koalisi Desak Aturan Turunan Segera Rampung
Dia bercerita sejak diterapkannya MBG, dia kesulitan untuk menyetok bahan pangan, karena tidak hanya ayam dan telur yang mahal, tetapi kebutuhan lainnya, seperti cabai dan bawang mahal juga.
Padahal meskipun dapat MBG di sekolah, anak-anak tetap harus makan di rumah dengan gizi yang cukup. "Tapi karena harga bahan pangan mahal, kami sulit memenuhi kebutuhan gizi di rumah," kata dia lagi.
Ia berharap agar harga bahan pangan terjangkau dan pasokan stabil.
"Anak-anak di sekolah juga jarang mau mengonsumsi jatah MBG," ujar dia.(ert)

