Biaya Kesehatan Masih Tinggi, Sebagian Bisa Ditekan Mulai Sekarang

Sebagian besar pengeluaran kesehatan sebenarnya bisa dicegah, bukan dengan produk keuangan, tapi dengan kebiasaan sehari-hari. (ist/pexels)

JAKARTA, WongKito.co – Masyarakat Indonesia menguras Rp175 triliun per tahun hanya untuk biaya kesehatan dari kantong sendiri. Angka itu setara 28,8% dari total belanja kesehatan nasional, dan sebagian besar bisa dicegah.

Itulah gambaran yang diungkap Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Masih banyak warga belum punya jaminan kesehatan, baik BPJS maupun asuransi komersial. Akibatnya, saat sakit, biaya jatuh sepenuhnya ke tangan sendiri.

OJK bergerak memperluas kepesertaan asuransi komersial melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Regulasi terbaru, POJK No. 36 Tahun 2025 yang berlaku per 22 Maret 2026, turut memperketat perlindungan konsumen: skema co-payment tidak lagi wajib, dan jika diterapkan, maksimal hanya 5% dari nilai klaim.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian OJK, Ogi Prastomiyono, menyebut pihaknya akan terus bersinergi agar lebih banyak masyarakat masuk program asuransi komersial.

Di balik angka Rp175 triliun itu, ada ironi yang jarang dibahas. Sebagian besar pengeluaran itu sebenarnya bisa dicegah, bukan dengan produk keuangan, tapi dengan kebiasaan sehari-hari.

Penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung mendominasi beban kesehatan nasional. Biaya pengobatan diabetes dengan komplikasi bisa mencapai puluhan juta rupiah per tahun. Tapi risikonya bisa ditekan lewat hal-hal yang tidak butuh modal besar.

Beberapa pendekatan konkret:

1. Makan lebih sadar, bukan lebih mahal. Mengurangi gula tambahan, makanan ultraproses, dan minuman manis bisa menekan risiko diabetes tipe 2 secara signifikan. Tidak perlu diet eksklusif cukup kurangi kopi susu gula dua sachet sehari jadi satu, dan konsisten.

2. Gerak 30 menit sehari Olahraga rutin terbukti menurunkan tekanan darah, mengontrol gula darah, dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Tidak harus gym berbayar jalan kaki atau lari pagi sudah cukup.

3. Medical check-up berkala Deteksi dini jauh lebih murah dari pengobatan. Banyak puskesmas dan klinik swasta kini menawarkan paket check-up dasar di bawah Rp300 ribu. Mengetahui kondisi kolesterol atau gula darah lebih awal bisa mencegah biaya jutaan rupiah di kemudian hari.

4. Tidur cukup dan kelola stres Kurang tidur kronis berkaitan langsung dengan peningkatan risiko hipertensi dan obesitas. Dua kondisi yang sama-sama mahal jika dibiarkan.

Kalau Sehat, Uangnya Ke Mana?

Dengan menekan risiko sakit, pengeluaran kesehatan mendadak bisa berkurang jutaan rupiah per tahun. Untuk segmen pembaca yang sedang membangun fondasi finansial, penghematan itu bukan angka kecil.

Beberapa opsi yang relevan:

  • Dana darurat — target 3–6 bulan pengeluaran, simpan di reksa dana pasar uang atau deposito digital dengan bunga kompetitif
  • Investasi rutin — mulai dari Rp100 ribu/bulan di reksa dana saham atau ETF indeks, manfaatkan efek compounding jangka panjang
  • Upgrade skill — kursus online bersertifikat di bidang green jobs, data, atau desain yang relevan dengan tren pasar kerja Asia
  • Proteksi yang tertunda — justru gunakan sebagian untuk asuransi kesehatan komersial yang selama ini dianggap "belum perlu

Intinya sederhana, tubuh yang sehat adalah aset finansial yang sering diabaikan. Angka Rp175 triliun yang bocor dari kantong masyarakat Indonesia setiap tahun bukan hanya masalah sistem, sebagian adalah tagihan dari kebiasaan yang bisa diubah hari ini.

Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 19 April 2026.

Editor: Redaksi Wongkito
Bagikan
Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories