BucuKito
Kebun Karet, Napas Panjang Ekonomi Desa Tanjung Medang
Oleh: Sri Wahyuni*
KABUT pagi belum sepenuhnya menghilang ketika suara derap kaki memecah sunyi kebun karet di Desa Tanjung Medang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Di antara barisan batang karet yang menjulang, seorang lelaki paruh baya menenteng pisau sadap dan ember kecil. Tangan kanannya mulai menggores kulit pohon dengan gerakan yang sudah dihafal tubuhnya selama bertahun-tahun.
Dialah Nopriyadi, petani karet yang hampir setiap pagi memulai hidupnya dari getah yang menetes perlahan.
"Karet biasanya dijual perminggu, dengan penghasilan sekitar 90 kilogram," ujarnya sembari menghela peluh di pelipis, baru-baru ini.
Baca Juga:
- Simak 7 Makanan yang Lebih Baik Tidak Dibeli Saat Diskon
- Cek 6 Cara Menghemat Uang Tanpa Mengorbankan Gaya Hidup
- Super Enak, Berikut Resep Kue Kering Coklat Koin
Bagi warga Tanjung Medang, kebun karet bukan sekadar pemandangan hijau. Ia adalah sumber penghasilan, tabungan jangka panjang, sekaligus saksi naik-turunnya perekonomian keluarga.
"Setelah terjual biasanya pendapatan sekitar Rp1 juta lebih perminggu," lanjutnya sambil tersenyum tipis.

Harga karet yang fluktuatif kerap menjadi tantangan tersendiri. Dalam sepekan, hasil sadapan bisa berbeda jauh. Kadang cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, kadang hanya pas-pasan.
“Selain itu hujan juga seringkali jadi penghambat proses penyadapan," ungkapnya lagi.
Penghasilan dari kebun karet digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti biaya pendidikan anak, kebutuhan dapur, hingga perawatan kebun itu sendiri. Meski hasilnya tidak selalu stabil, karet tetap menjadi sandaran utama banyak rumah di desa ini.
Nopriyadi juga menyebutkan soal kenaikan dan penurunan harga yang signifikan. "Harga kadang turun dan naik signifikan, pernah di posisi harga Rp4 ribu per kilogram, sampai Rp25 ribu/kg, dan saat ini di posisi standar yaitu Rp12 ribu per kilogram."
Di tengah perubahan zaman dan ketidakpastian harga, para petani karet berharap ada perhatian lebih terhadap sektor perkebunan rakyat. Mulai dari stabilisasi harga hingga pendampingan pengelolaan hasil.
Baca Juga:
- JPPI: MBG Lahirkan Iklim Pembungkaman di Sekolah
- Pemerintah Rilis 8 SBN Ritel Sepanjang 2026, Cek Jadwalnya
- Layanan Interaksi Nakes ke Disabilitas Perlu Ditingkatkan
Di Desa Tanjung Medang, getah karet terus menetes perlahan, tapi tidak pernah berhenti. Konsisten menjadi simbol ketahanan ekonomi warga yang bertahan dengan kesabaran dan kerja keras. Bagi Nopri dan 70 persen warga lainnya, kebun karet bukan hanya soal penghasilan, melainkan tentang bertahan dan melanjutkan hidup.
*Mahasiswi Prodi PGMI, UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2023

