Keramahan Kawan-Kawan Batam VS Jaringan Internet Lemot

Jembatan Barelang 1 yang menghubungkan Batam, Rempang dan Pulau Galang di Kepulauan Riau (Foto WongKito.co/Nila Ertina FM)

"Mbak besok ada yang jemput kita gak? tanya Miftah tim WongKito.co sehari sebelum kami menuju pelatihan di Batam, Kepulauan Riau, pekan lalu.

"Kita naik gocar aja Mif," jawabku. Karena aku sudah beberapa kali ke Batam, dan biasanya memang ikut rombongan atau dijemput kawan yang bermukim di Batam dari Bandara Internasional Hang Nadim, yang berlokasi di Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Miftah kembali membalas. "Temanku mau jemput ke bandara," kata dia. Akhirnya, kami sepakat menerima tawaran untuk dijemput di bandara pada Minggu pagi (20/9/2026).

Beberapa hari sebelumnya, seorang teman  yang bermukim di Kota Batam sejak 7 tahun lalu, juga menanyakan apakah aku akan ke Batam, iya jawabku.

Baca Juga:

Malam sebelum keberangkatanku, Lia dan Miftah, dia juga menawarkan untuk menjemput.

"Okay Bed terimokasih yo, timku sudah janjian ado kawannyo menjemput, besok kito sekabaran bae," balasku.

Menikmati Mie Tarempa

Kami berangkat dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, pukul 06.00 WIB, berdasarkan jadwal hanya 50 menit penerbangan ke Batam.  

Tiba tepat waktu, dan sang penjemput juga telah tiba. Aku langsung mengajak Adrian namanya, wartawan di Batamnews.co.id salah satu media anggota Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) membawa kami ke salah satu Kedai Mie Tarempa di Kawasan Panasonic.

Ketika sedang berkunjung ke daerah biasanya aku mencari makanan dan minuman khas setempat, aku pesan mie tarempa sapi dan secangkir teh tarik hangat. Lia dan Miftah minta rekomendasi Adrian.

Tak terlalu lama menunggu, mie tarempa pesananku dan teh tarik hangat tersajikan. Oh iya, Adrian juga memesan Luti Gendang isi ikan dan isi ayam. Dia pun memesan 10 pieces makanan gurih tersebut.

Harga makanan di Kedai Mie Tarempa ini cukup terjangkau, seporsi mi original dibanderol Rp22 ribu per porsi, mi daging sapi Rp27 ribu per porsi, sedangkan luti gendang Rp4 ribu per pieces. Lalu, harga teh tarik mulai dari Rp15 ribu per gelas.

Sambil bercerita dan menikmati sarapan pagi di kota industri tersebut, kami pun bermaksud untuk ke Festival Media Selat Malaka yang merupakan ajang tahunan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia yang berlangsung secara bergantian lokasi di Indonesia.

Festival Media Selat Malaka berlangsung pada 19-21 September 2026, di Kampus Poltek Negeri Batam.

Namun, sebelum berangkat ke lokasi Festival Media Selat Malaka, bos-nya Adrian, yang juga Ketua Wilayah AMSI Sumatera mengajak untuk menikmati kopi di kedai yang telah ia rekomendasikan.

Ketika itu, kami sudah berpindah dari Kedai Mie Tarempa ke Kopi Manna, karena untuk ke lokasi Festival Media masih terlalu pagi, belum mulai acaranya.

Secangkir Kopi Malaka Hangat

Tak hanya makanan yang mesti diburu saat berkunjung ke luar Kota Palembang, minuman khas juga menjadi keharusan bagiku untuk dinikmati.

Setelah di kedai mi menikmati secangkir teh tarik original, aku minta rekomendasi Ketua Wilayah AMSI Sumatera, Zuhri Muhammad. Kopi Malaka coba deh, kalau di Selat Malaka minumnya kopi malaka, kata dia.

Kami mengobrol sekitar 1 jam, setelah menghabiskan secangkir kopi malaka, lalu lanjut ke Festival Media Selat Malaka secara bersamaan.

Tiba di lokasi kami langsung excited untuk mengikuti berbagai kelas yang telah diprogramkan oleh panitia. Ada kelas-kelas untuk menambah kapasitas jurnalis, dan bahkan ada kelas khusus bagi kelompok Lembaga Pers Mahasiswa.

Sehari sebelumnya, bahkan ada kelas yang melibatkan warga Rempang yang tergusur Proyek Strategis Nasional (PSN).

Pantai Bale-Bale dan Barang Seken

Menjelang petang, tepat pukul 15.00 WIB kami pun dijemput Bedi, wartawan RRI Batam yang selalu senang jika ada kawan datang ke Batam, biasanya dia akan mengantar keliling kota yang juga dikenal Singapore Van Java ini.

"Ayuk, aku sudah di Poltek, dimano posisi?, tanyanya melalui telpon aplikasi percakapan WA.

Aku, Lia, Yuni dan Miftah akhirnya masuk ke city car  merahnya dan pasrah mau diajak kemana. Kita ke WTB dulu saja, kalau belum foto di lokasi yang tampak tulisan Welcome To Batam atau WTB belum sampai Batam, katanya.

Sebelumnya ketika berkendara dengan Adrian, ia bercerita kalau sudah tidak bisa lagi berfoto di WTB karena sudah banyak bangunan yang menutupi ikon Kota Batam tersebut. "Bukannya dak kelihatan lagi WTB Bed," kataku. "Tenang yuk, kita cari tempat yang masih bisa foto," kata dia lagi.         
  
Akhirnya, memang meskipun tidak seperti foto tiga tahun lalu, tetapi masih bisa memaksakan mendapatkan tulisan WTB masuk frame foto.

Kami pun diajak ke Pantai Bale-Bale yang berjarak tempuh sekitar 30 menit dari kawasan WTB. Bagi wong Palembang, menikmati pantai tepi laut memang istimewa, karena kota Pempek jauh dari pantai.

Tuan rumah juga tampak sangat senang memotret kami, foto di sini Yuk, foto di sini Lia, Miftah, Yuni ayo sini biar aku foto, kata Bedi.

Menikmati sore di Pantai yang terletak di Kampung Tua Bakau Serip, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau sangat menyenangkan.

Di depan itu, kalau sedang tidak asap terlihat Singapura, kata Bedi lagi. Sayang nian, tertutup asap, tambahku. Pantai Bale-Bale berada di Selat Singapura dan cocok untuk mengisi waktu luang dengan tiket masuk 10 ribu per orang, keindahan pantai dan beragam fasilitas pendukung cukup worth it.

Menjelang maghrib, kami pun lanjut ke destinasi lainnya. Aku bilang mumpung ada guide yuk antar ke pasar beje, beje sebutan orang Palembang untuk barang second yang biasanya didatangkan dari luar negeri. Meskipun, kekinian, istilah beje mulai diganti dengan sebutan barang thrifting.

Usai makan di restoran dekat kantornya, RRI Batam dan ditraktir Bedi, kami pun diajak ke pasar second istilah orang Batam untuk pasar beje wong Palembang.

Tepat pukul 20.00 WIB, akupun mengajak kawan-kawan untuk pulang ke hotel, karena besok pelatihan intensif kami bertiga dimulai pagi hari dan berlangsung hingga menjelang maghrib.

Bedi pun mengantarkan kami ke hotel yang berada tepat di depan Kodim Batam, aku pikir hotel ini berada di puncak bukit, karena paling tinggi di antara bangunan lokasi yang berdekatan.

Hotel Jaringan Dunia, tapi Jaringan Internet Jelek

Bertolak belakang dengan kebaikan dan keramahan serta keringanan tangan Adrian dan Bedi, serta Meri warga Batam yang dengan tulus menjemput dan mengajak kami mengeksplorasi Batam dan sekitarnya.

Jaringan internet di hotel tempat kami menginap sangatlah tidak ramah. Sangat lazim, ketika menginap di hotel, aku akan memastikan apakah wifi atau jaringan internetnya kuat atau bagus. Karena, meskipun sedang di luar Kota Palembang, aku harus terus bekerja menggunakan laptop yang disambungkan dengan jaringan internet.

"Wah baru kali ini, dapat hotel yang jaringan wifi-nyo jelek nian," kataku kepada Lia, saat kami mulai membuka laptop masing-masing.

Padahal hotel ini, lokasinya tinggi dan merupakan  hotel  jaringan dunia asal Prancis. Aku juga pernah menginap di hotel dengan nama yang sama di Singapura pada akhir tahun 2024, dan jaringan internetnya sangat cepat. Di Palembang, hotel dengan nama yang sama menurut Lia, jaringan internetnya juga bagus, sangat memuaskan bagi kami pengguna internet penikmat fasilitas akomodasi.

Di hotel ini, sinyal wifi hilang-hilang dan sangat lambat. "Kayak jaringan internet di Korut kali ya," pikir kami yang sering terpapar informasi terkait dengan belum optimalnya jaringan internet di negeri Kim Jong-Un.

Belum lagi, colokan listrik yang semestinya bisa tetap digunakan walaupun tamu tidak membawa kabel tambahan, juga tampak rusak dan susah untuk mendapatkan akses saat mengisi baterai laptop atau telpon seluler.

"Wifi kamar kami jelek," kataku ketika bertemu pada panitia penyelenggara pelatihan: Keberlanjutan Finansial untuk Media Alternatif.

Tak lama, manajemen hotel datang dan memastikan jaringan internet di ruangan pelatihan bagus. Aku langsung sampaikan, kalau wifi di lantai 3 sering tidak nyambung.  Baik bu, akan kami cek segera katanya menimpali pertanyaanku.

Namun, hingga malam terakhir di hotel tersebut, tidak ada perbaikan seperti yang kami harapkan. Bahkan, untuk mengerjakan tugas pelatihan kami mencari kedai kopi agar bisa mendapatkan jaringan internet yang kencang.

Tak hanya wifi di hotel yang jaringannya mirip dengan kualitas jaringan telekomunikasi di kawasan Jalur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Operator seluler yang   kugunakan pun beti alias beda tipis, di area hotel tersebut terasa sering kali hilang jaringan meskipun kadang kala muncul status 5G.

Meskipun kualitas jaringan telekomunikasi tidak membuat nyaman, tetapi komunikasi dengan keluarga dan kawan-kawan juga tetap terjalin.

Terutama ketika berada di luar hotel. Aku termasuk sering memperbaharui status WA. Sampai akhirnya di malam terakhir, Meri biasa kami panggil menanyakan keberadaan apakah masih di Batam.

Ke Barelang

Akhirnya, pagi-pagi sekitar pukul 08.00 WIB, aku, Lia dan Miftah sudah check out dari kamar masing-masing. Kami menunggu Meri bersama suaminya, Adam. Adam kebetulan juga menjadi Ketua Panitia Festival Media Selat Malaka yang telah usai sejak hari Selasa. Tamu-tamu yang mereka berikan pelayanan terbaik mayoritas sudah pulang.

"Kakak mau kemana aku temani," chat Meri kepadaku malam sebelumnya.

Akhirnya, diantar Meri dan Adam, kami pun menuju Jembatan Barelang. Barelang merupakan akronim dari Batam, Rempang dan Galang.

"Sebenarnya ada 6 jembatan Barelang, tapi kita ke jembatan yang pertama saja, yang  ikonik," kata Meri.

Butuh waktu sekitar 20 menit, tambah dia untuk tiba di jembatan ikonik tersebut, di area Jembatan Barelang kami berseloroh ini bedanya dengan Jembatan Ampera karena ada yang di atas Sungai Musi dan di atas laut.

Meri dengan semangat memotret kami, dia menentukaan angle foto, karena memang dia yang tahu benar di mana view yang pas untuk hasil jepretan yang bagus.

Adam juga menunjukan semangatnya, memotret kami gantian dengan Meri.  

"Ayo kita ke bawah," kata Meri. Kami pun kembali menumpang mobil yang dikendarai Adam, menuju sisi lain jembatan dengan panjang lebih dari 2 kilometer tersebut.

Dari bawah Jembatan Barelang, kami bisa menyaksikan bagaimana sambungan beton-beton yang dikombinasi dengan besi membentuk infrastruktur yang kokoh dan menawan.

Kami duduk di restoran terapung yang belum buka, masih tampak sisa-sisa keramaian malam di meja-meja restoran yang menawarkan hidangan seafood tersebut.

Dari kejauhan, kami juga melihat penikmat ski air berseluncur di atas ombak yang tenang di wilayah Selat Cina Selatan tersebut.

"Itu fasilitas dari salah satu hotel  bintang 5 di sana," kata Adam ketika kami melihat atraksi ski air dan kapal yang  membawa wisatawan.  

Setelah cukup lama di bawah Jembatan Barelang, kami pun diajak menelusi Jembatan Barelang 2 dan Barelang 3, akhirnya "Ayo ke pantai," kata Meri.

Sepanjang  perjalanan menuju Jembatan Barelang 3, kami melewati kawasan perbukitan yang telah gundul, tampak pembangunan pembangkit listrik captive lengkap dengan cerobong asapnya masih dalam tahap penyelesaian. Pekerja bangunan juga terlihat bekerja menyelesaikan bagian-bagian bangunan berukuran besar.

Di sisi lain, sejumlah pekerja tampak sibuk mengeliling kawasan kompleks industri yang sedang dibangun tersebut.

Ketika berbelok ke sebelah kanan. "Di sini kampung tua, kampung nelayan," kata Adam sembari tetap focus pada stir mobilnya.

Dari kejauhan mulai tampak laut, dan permukiman warga tepi pantai. Tak ketinggalan kami memperhatikan bangunan sederhana dengan ber-plang nama "Mess SPPG" tak jauh dekat parkiran yang akan kami tuju, ada dapur SPPG, tapi tampak tak ada aktivitas meskipun pada hari kerja, Kamis (24/9/2026) menjelang tengah hari.

"Ini pantai tempat orang Batam mengisi waktu akhir pekan," kata Adam. Disampaikannya ketika kami baru menginjakan kaki ke pasir putih nan lembut. Pantai Setokok dekat Jembatan Barelang 3.

Baca Juga:

Karena hari kerja dan tergolong masih pagi, kami tidak bertemu dengan pengunjung lainnya di pantai yang berada di Selat Cina Selatan tersebut.

"Itu Sumatera," kata Adam menunjuk ke arah laut lepas.

Usai menikmati laut benaran, karena kalau di Palembang Sungai Musi biasa disebut laut oleh orang Palembang, kami pun beranjak meninggalkan pantai.

"Meri dan Adam, terimakasih banget ya," ucapku dengan sungguh-sungguh karena sudah setengah hari ditemani mereka .

"Kami pulang ke Palembang malam ini, semoga kita bisa berjumpa kembali," kataku lagi sembari menyalami Meri dan Adam, di kawasan Nagoya Hill.(Nila Ertina FM)   
 

Editor: Nila Ertina
‌‌
‌‌

Related Stories