Destinasi & Kuliner
Sahabat Cagar Budaya Menyeduh Cerita Warisan Kuliner Palembang di Kampung Perigi
PALEMBANG, WongKito.co - Apakah tradisi kopi dan roti sudah ada di Palembang sejak masa Sriwijaya? Jawabannya bisa didapatkan dalam agenda Masak Tepi Sungai 2026 bersama Sahabat Cagar Budaya di Kampung Perigi, Tangga Raja, 2 Ulu Palembang, pada Sabtu-Minggu (20-21/6/2026).
Koordinator Sahabat Cagar Budaya Palembang Robby Sunata mengungkapkan, “Masak Tepi Sungai tahun 2026: Kopi dan Roti” menyajikan serangkaian talkshow menarik tentang budaya minum kopi di Palembang yang akan dibawakan oleh sejumlah pembicara yang mengenal baik tentang hal tersebut.
“Obrolan ini akan diiringi juga sejumlah kegiatan yang akan memperkaya pengalaman dan bisa diikuti oleh semua peserta, seperti memasak maksuba dengan cara tradisional hingga belajar membuat cetakan kue aluminium khas kerajinan Kampung Perigi,” jelasnya.
Ragam Talkshow dengan Sederet Pembicara
Menurut Robby, macam-macam roti dan kue selalu menemani tradisi minum kopi orang Palembang. Sejarawan RM Ali Hanafiah akan menjabarkan kekayaan khazanah roti dan kue Palembang yang mencerminkan keragaman budaya kuliner kota berusia 1343 tahun tersebut.

Selain itu, peranakan India membangun toko kopi yang menjadi sangat populer di Palembang dengan menu martabak telur kuah kari. Pemilik restoran Teh Aba, Obay Minoral, akan berbagi banyak kisah menarik mengenai toko kopi yang dikelola oleh peranakan India di kawasan Plaju, sekitar 5 kilometer di sebelah timur kota Palembang, tempat dimana dia lahir dan tumbuh dewasa.
Pusat pemerintahan kota Palembang berada di sisi timur Sungai Sekanak. Tepat di sisi sebelah barat sungai tersebut, terdapat pemukiman tua yang dihuni oleh anak keturunan sultan Palembang. Salah satu warganya, Mardho Tilla akan berbagi cerita mengenai bagaimana orang tua-orang tua di kampung itu menikmati kopi di masa lalu. Mardho Tilla sendiri telah mendirikan toko kue di sana yang dikenal dengan nama Palembang Harum.
- Aliansi Perempuan Desak Prabowo Hentikan MBG
- Petronas LNG Tinjau Arun, Jajaki Kemitraan Bisnis Energi
- Yayasan Cerah Buka Beasiswa Liputan Transisi Energi bagi Jurnalis Sumsel
Di daerah hulu, tanaman kopi disebut dengan kawe, yang merupakan serapan dari kata Qahwah dalam bahasa Arab. Penyerapan itu memberi petunjuk bahwa bagi masyarakat di hulu Palembang, tanaman kopi kemungkinan besar dikenal langsung dari orang Arab.
Abu Bakar Syukri akan berbagi kisah mengenai kebiasaan peranakan Arab di Palembang dalam menikmati kopi. Abu Bakar Syukri ini adalah penyedia kopi dalam merek Sendok Mas dan berasal dari kampung Arab yang paling dikenal di kota tepian Musi, yakni kampung Al-Munawwar.
Palembang telah ada sejak 14 abad yang lalu. Sejak awal berdirinya Palembang telah
menerima kehadiran berbagai macam kebudayaan besar di dunia yang datang untuk berdagang, mulai dari Tiongkok, India, Arab, dan Persia.
“Di agenda coffee season, Laila Dimyati akan mengajak kita semua untuk menelisik lebih dalam mengenai kekayaan budaya ini, pengaruhnya atas tradisi meminum kopi, dan apakah kekayaan itu menghasilkan keunikan bagi Palembang," ujar Robby.
Laila Dimyati adalah pemegang Evolved Q Grader dan Juri Kopi bersertifikat ICE. Dia secara rutin berkeliling Indonesia untuk melatih barista dan membantu mengembangkan produk makanan dan minuman dalam industri FnB.
Robby menambahkan, warga Kampung Perigi nantinya bukan sekedar tuan rumah yang menyaksikan keramaian acara Masak Tepi Sungai, melainkan ikut berperan. Warga akan menyampaikan keunikan dan keistimewaan kampung mereka kepada semua peserta dalam sebuah sesi pembicaraan khusus yang akan digelar di tepi sungai musi menjelang senja.
“Pemimpin dan tetua kampung akan berkisah mengenai tanah kelahiran mereka kepada semua peserta,” sebutnya.
Rangkaian Workshop Menarik
Robby memastikan, rangkaian food talk ini akan dilengkapi oleh kegiatan-kegiatan yang menawarkan pengalaman dan petualangan yang unik di Kampung Perigi.

Dalam satu masa pernah terdapat banyak perajin alat masak dari aluminium di Kampung Perigi. Mereka menjadi pemasok ke berbagai toko kelontong di Palembang, terutama di kawasan Pasar 16 ilir. Tetapi kini perajin aluminium sudah menjadi hal yang sulit ditemukan.
Dalam Kampung Perigi sendiri hanya tersisa satu perajin aluminium, yaitu Masagus Nasir atau yang akrab dipanggil mang Nasir. Masak Tepi Sungai mengajak semua peserta untuk merayakan keahlian mengolah aluminium yang makin langka ini dengan cara mengikuti workshop pembuatan cetakan kue kering berbahan aluminium.
“Workshop ini berbiaya Rp 20.000 per orang dan setiap peserta akan mendapatkan tujuh buah cetakan kue kering. Untuk pendaftarannya melalui Instagram Masak Tepi Sungai,” katanya.
- Paradoks Energi Fosil: Pembunuh Senyap, Perempuan dan Anak paling Terdampak
- Hoaks: Edaran "Pemberhentian Sementara MBG" dari BGN
- Pedagang di Pasar Tradisional Keluhkan Kenaikan Harga
Masak Tepi Sungai bersama warga Perigi juga akan mengajak semua peserta untuk memasak kue basah khas Palembang menggunakan alat masak tradisional seperti gandok, dan lalu berkreasi dengan roti goreng dan gulo puan. Dua workshop ini akan terbuka untuk umum dan tanpa biaya namun dengan peserta terbatas.
Ingin mengenal Kampung Perigi lebih dalam? Masak Tepi Sungai menyediakan walking tour berkeliling kampung Perigi. Tur ini dipandu oleh Palembang Good Guide.
Adapun bagi warga Palembang yang menyukai kegiatan sketsa dan fotografi, KALA Art Lab dan Streetphotography Project akan mengadakan sesi sketsa bareng dan berburu foto bersama di kampung Perigi.
"Sahabat Cagar Budaya mengundang rekan-rekan semua untuk hadir dalam Masak tepi Sungai 2026: Kopi dan Roti dan bersama-sama merayakan kekayaan dan keunikan kuliner Palembang," imbuhnya.
Sahabat Cagar Budaya dapat dihubungi di email sahabatcagarbudayaid@gmail.com dan Instagram sahabatcagarbudayaplm atau Instagram dan Tiktok masaktepisungai. (*)

