Ragam
Sengkarut Artificial Intelligence yang Mengancam Lingkungan
WongKito.co– Inovasi kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence – AI) memberikan manfaat pada teknologi. Namun, laporan terbaru dari United Nations University (UNU) menyebutkan teknologi AI berdampak pada lingkungan yang mengancam air, tanah, dan iklim.
Kecerdasan Buatan tidak hanya bertanggung jawab atas jumlah gas rumah kaca yang mengkhawatirkan yang menyebabkan pemanasan bumi.
Melansir UN News, jejak lingkungan teknologi ini juga berkembang dengan kecepatan yang dapat membebani sumber daya alam planet ini.
Pusat data, infrastruktur global yang mendukung AI, dapat mengonsumsi 945 terawatt-jam listrik setiap tahunnya pada tahun 2030 – hampir tiga kali lipat gabungan penggunaan listrik tahunan Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria, negara-negara yang secara kolektif dihuni oleh lebih dari 650 juta orang.
Baca Juga:
- Forum Ekonomi Regional Jawa 2026: Dorong Perkuat Ekosistem Halal Indonesia
- Sisi Gelap Pusat Data AI: Boros Air dan Bikin Krisis Iklim
- FESyar Sumatera 2026, Perkuat Sinergi dan Transformasi Digital
Namun, ini hanyalah puncak gunung es. Selain jejak karbon, setiap unit listrik yang digunakan oleh pusat data juga membawa “jejak air” untuk pendinginan dan produksi energi, dan “jejak lahan” yang terkait dengan pembangkit listrik dan rantai pasokan.
Parameter Keberlanjutan
Hasil studi Universitas PBB, konsumsi air terkait AI dapat setara dengan kebutuhan domestik tahunan dasar 1,3 miliar orang pada akhir dekade ini, sementara jejak lahannya dapat melebihi 14.500 kilometer persegi — kira-kira dua kali ukuran wilayah metropolitan Jakarta.
Laporan tersebut menyoroti kesenjangan kritis dalam cara mengukur dampak lingkungan AI. Emisi gas rumah kaca, khususnya yang terkait dengan pelatihan model besar, cenderung diprioritaskan, tetapi pendekatan ini mengabaikan biaya lingkungan lainnya.
Solusi yang dianggap “hijau” dalam satu hal dapat memperburuk tekanan di bidang lain, terutama di wilayah yang sudah menghadapi kelangkaan sumber daya.
Misalnya, beralih ke sumber energi terbarukan tertentu dapat mengurangi emisi karbon tetapi dapat secara signifikan meningkatkan konsumsi air dan penggunaan lahan.
Sebab Utama
Debat publik sebagian besar berpusat pada energi yang dibutuhkan untuk melatih model AI canggih, tetapi studi tersebut menemukan bahwa penggunaan sehari-hari menyumbang sekitar 80 hingga 90 persen dari total permintaan energi.
Skalanya sangat mencolok: satu layanan AI yang banyak digunakan diperkirakan memproses sekitar 2,5 miliar permintaan per hari, mengonsumsi ratusan gigawatt-jam listrik setiap tahun.
Penggunaan energi juga sangat bervariasi tergantung pada tugasnya. Menghasilkan satu gambar AI dapat membutuhkan lebih dari seribu kali energi klasifikasi teks sederhana, sementara pembuatan video membutuhkan sumber daya yang lebih besar lagi.
Peningkatan efisiensi saja kemungkinan tidak akan mampu mengimbangi peningkatan permintaan ini.
Baca Juga:
- Film Dokumenter Kearifan Suku Musi, Lestarikan Jongot
- IESR Desak Segera Eksekusi Program PLTS 100 GW
- Keluarga Jemaah Dilarang Menjemput di Asrama Haji Palembang
Laporan tersebut menunjukkan apa yang disebut efek rebound, di mana biaya yang lebih rendah dan peningkatan kinerja mendorong penggunaan yang lebih tinggi, yang pada akhirnya meningkatkan total konsumsi sumber daya.
Dalam laporan ini pemerintah didesak untuk mengintegrasikan infrastruktur AI ke dalam perencanaan energi, air, dan tata guna lahan, sementara perusahaan didorong untuk merancang sistem yang meminimalkan konsumsi sumber daya.
Pengguna juga memiliki peran untuk memilih aplikasi yang berdampak lebih rendah jika memungkinkan.
Pada akhirnya, laporan ini berpendapat bahwa masa depan AI tidak hanya bergantung pada inovasi teknologi tetapi juga pada pilihan tata kelola yang dibuat saat ini.(direpublikasi darilaut.id)

