Smartfren Berhasil Tekan Kerugian hingga 71,43 Persen Seiring Pendapatan yang Terus Tumbuh

Smartfren (ist)

JAKARTA - Emiten operator telekomunikasi PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) berhasil memperbaiki kinerja perusahaan dengan terus tumbuh dan berhasil menekan kerugian selama tahun 2021.

Berdasarkan laporan keuangannya, perseroan membukukan pendapatan usaha sebanyak Rp10,46 triliun hingga akhir tahun lalu. Angka ini naik sekitar 10,16% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya sebesar Rp9,41 triliun.

Pendapatan dari jasa telekomunikasi data menjadi penyumbang utama yang meningkat dari Rp8,63 triliun per 31 Desember 2020 menjadi Rp9,61 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan, pendapatan telekomunikasi non-data turun menjadi Rp284,52 miliar dari sebelumnya Rp345,79 miliar.

Baca Juga:

Lebih lanjut, kontribusi pendapatan jasa interkoneksi mengalami kenaikan pada tahun lalu menjadi Rp191,97 miliar berbanding Rp170,09 miliar pada tahun 2020. Sedangkan, pendapatan lain-lain turut mengalami pertumbuhan dari Rp265,53 miliar menjadi Rp369,38 miliar.

Sejalan dengan pendapatan yang bertumbuh, beban usaha perseroan ikut mengembung dari sebelumnya Rp10,19 triliun pada tahun 2020 menjadi Rp10,21 triliun pada akhir Desember 2021. Penyusutan dan amortasi serta beban operasi, pemeliharaan dan jasa telekomunikasi menjadi beban terbesar Smartfren dengan nilai total Rp7,69 triliun.

Dengan catatan tersebut, perseroan berhasil menekan rugi bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga 71,43% yoy dari Rp1,52 triliun pada 2020 menjadi hanya Rp435,33 miliar pada tahun 2021.

Hanya saja jumlah liabilitas perseroan membengkak menjadi Rp30,70 triliun per 31 Desember 2021 berbanding Rp26,32 triliun pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, total ekuitas naik tipis pada kisaran Rp12,65 triliun dari sebelumnya Rp12,37 triliun.

Sehingga, keseluruhan aset perseroan melonjak secara tahunan dari Rp38,68 triliun menjadi Rp43,36 triliun. Adapun kas dan setara kas Smartfren pada tahun lalu menyusut menjadi Rp463,22 miliar dari tahun sebelumnya Rp654,46 miliar. 

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.com oleh Drean Muhyil Ihsan pada 15 Mar 2022 

Bagikan
Nila Ertina

Related Stories