Wealth Wisdom 2026 di Medan: Kekayaan Bukan Cuma Soal Aset

Pemaparan materi oleh Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN periode 2011–2014, pada sesi “Beyond Wealth: A Legacy That Lasts” dalam Permata Bank Wealth Wisdom di Kota Medan. (Foto ist)

MEDAN, WongKito.co — Kekayaan kerap diukur dari besarnya aset, nilai investasi, atau jumlah harta yang berhasil dikumpulkan. Namun, bagi Permata Bank, ketangguhan finansial tidak berhenti pada pertumbuhan aset.

Melalui rangkaian edukasi "Wealth Wisdom 2026 di Medan", Permata Bank mengajak nasabah melihat kekayaan dari perspektif yang lebih luas, mulai dari kemampuan membangun warisan keluarga, menjaga kesehatan, hingga memahami risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

Tiga perspektif tersebut dibahas dalam sesi “Beyond Wealth: A Legacy That Lasts”, “Healthy Body, Resilient Mind”, dan “Reading the Market, Building the Future”. Ketiganya menempatkan kesiapan menghadapi berbagai fase kehidupan sebagai bagian dari pengelolaan kekayaan.

Belajar Melepas Kendali dan Mewariskan Kepercayaan

Sesi “Beyond Wealth: A Legacy That Lasts” bersama Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN periode 2011–2014, mengangkat persoalan yang kerap muncul dalam keluarga, yakni bagaimana orang tua mempersiapkan anak untuk menerima dan mengelola kepercayaan.

Baca Juga:

Dahlan Iskan menyebut ketakutan terhadap masa depan anak dapat membuat orang tua sulit memberikan ruang bagi anak untuk belajar mengambil keputusan sendiri.

“Ada dua hal yang paling ditakuti orang tua zaman sekarang, yaitu anaknya tidak pintar dan dirinya sendiri sakit. Dua ketakutan itu yang membuat sektor pendidikan dan kesehatan terus berkembang, karena orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya,” ujar Dahlan Iskan, Sabtu (26/9/2026).

Menurutnya, pemberian kepercayaan, termasuk dalam pengelolaan keuangan, dapat dilakukan secara bertahap. Orang tua dapat memulai dengan memberikan kewenangan kecil, kemudian melakukan pengawasan sebelum tanggung jawab diperluas.

Kegagalan pun, menurut Dahlan, dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran anak dalam mempersiapkan diri menjadi penerus.

“Kalau di usia 28 sampai 32 tahun anak sudah jatuh, orang tua justru harus bangga, karena anak itu sudah masuk universitas kegagalan,” ujarnya.

Mengenali Sinyal Tubuh Sebelum Terlambat

Perspektif kekayaan kemudian diperluas pada aspek kesehatan melalui sesi “Healthy Body, Resilient Mind” bersama dr. Gia Pratama, Dokter dan Penulis, serta Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi & Elektrofisiologi.

Keduanya mengingatkan bahwa kesehatan merupakan bagian penting dari ketangguhan seseorang dalam menjalani kehidupan dan mengambil keputusan.

dr. Gia Pratama menyoroti kebiasaan masyarakat yang kerap mengabaikan atau menyederhanakan gejala kesehatan tertentu.

“Keraguan adalah musuh masyarakat kita. Banyak orang langsung mengatakan ‘masuk angin’, padahal itu bisa jadi gejala serangan jantung,” ujar dr. Gia.

Sementara itu, Dr. dr. Faris Basalamah menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin. Menurutnya, pemeriksaan seperti tekanan darah tidak semestinya dilakukan hanya ketika seseorang mengalami keluhan.

Kebiasaan hidup sehat juga perlu dibangun secara konsisten. Salah satunya melalui aktivitas fisik.

“Olahraga terbaik adalah olahraga yang dilakukan secara rutin. Apa pun bentuknya, yang penting jantung kita bergerak,” kata dr. Gia.

Pemaparan materi oleh dr. Gia Pratama, Dokter dan Penulis, pada sesi “Healthy Body, Resilient Mind” dalam Permata Bank Wealth Wisdom di Kota Medan.
 

Sebelum Mengejar Untung, Kenali Risikonya

Sementara dari perspektif investasi, sesi “Reading the Market, Building the Future” menghadirkan Heriyanto Irawan dari PT Verdhana Sekuritas Indonesia dan Antony Dirga dari PT Trimegah Asset Management.

Keduanya mengajak investor melihat investasi tidak semata-mata dari potensi keuntungan. Pemahaman terhadap risiko, kondisi pasar, profil risiko, dan diversifikasi menjadi bagian penting sebelum mengambil keputusan investasi.

“Sebagai investor yang bijaksana, kita harus mengukur investasi dari risikonya dulu, sebelum melihat potensi untungnya. Investasi itu seperti melihat cuaca, kadang kita nyaman berinvestasi, tapi sering kali kita tidak benar-benar memperhatikan kondisi risikonya,” ujar Heriyanto.

Antony Dirga menambahkan bahwa kondisi pasar yang dinamis membutuhkan pemahaman terhadap profil risiko dan strategi diversifikasi dalam pengelolaan portofolio.

Kekayaan sebagai Kesiapan Menghadapi Masa Depan

Rangkaian Wealth Wisdom 2026 di Medan menunjukkan bahwa pengelolaan kekayaan tidak hanya berbicara tentang bagaimana aset bertumbuh.

Baca Juga:

Ada persoalan tentang siapa yang akan meneruskan nilai dan kepercayaan yang dibangun, bagaimana seseorang menjaga kesehatan agar tetap mampu menjalani kehidupannya, serta bagaimana keputusan investasi dibuat dengan mempertimbangkan risiko.

Melalui Wealth Wisdom 2026, Permata Bank menempatkan pengelolaan kekayaan dalam perspektif yang lebih menyeluruh, yakni sebagai bagian dari persiapan menghadapi berbagai fase kehidupan.

Dengan perspektif tersebut, kekayaan tidak hanya dilihat dari berapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dari seberapa siap seseorang menjaga, mengelola, dan meneruskan apa yang telah dibangun.(ril) 
 

‌‌
‌‌

Related Stories