Setara
YIM Palembang Gandeng Stakeholder Peduli ODHA
PALEMBANG, WongKito.co - Yayasan Intan Maharani (YIM) Palembang yang concern dalam isu HIV/AIDS mengandeng setidaknya 15 stakeholder, untuk mendorong meningkatkan kepedulian kepada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Drs Suharni, MA mewakili YIM Palembang, mengatakan meningkatkan kepedulian kepada ODHA, populasi kunci dan kelompok rentan sangat penting guna mendukung narasi bahwa masalah HIV adalah bagian dari kemanusiaan.
"Kepedulian menjadi kunci untuk menanggani dan menanggulangi HIV/AIDS," kata dia pada Workshop on Regular Monitoring on Stigma and Discrimination Related to HIV Response at District Level - Mainstreaming Response to Gender and Human Rights Issues in Multi-Stakeholder Forums at The District Level, Senin (23/2/2026).
Baca Juga:
- Minat Tinggi! Pembiayaan Kendaraan BSI Tumbuh 19 Persen
- Cuan Saham MDKA Bantai Emas Fisik Awal 2026
- Cek Rinciannya, Harga Emas Antam Melonjak Rp40.000
Ia mengungkapkan narasi kemanusiaan dalam isu HIV sangat penting untuk terus ditanamkan, mengingat hingga kini ODHA dan populasi kunci stigma yang mereka dapatkan masih sangat tinggi.
Bahkan ia bercerita, kalau ada seorang waria lansia justru dikucilkan dari keluarga sendiri. Padahal, menurut dia secara kemanusiaan siapa pun yang sudah lansia harus mendapatkan perhatian dari keluarga.
"Meskipun sesungguhnya, negara berkewajiban merawat dan memperhatikan warga negara lansia yang tidak dipedulikan keluarganya," kata dia lagi.
Sungguh miris!, di saat pengobatan dan layanan pendampingan terhadap penyintas HIV sudah baik, Suharni menambahkan kalau masih ditemukan stigma terhadap mereka.
Seperti diketahui, dengan pengobatan yang rutin ODHA akan hidup normal selayaknya masyarakat lain. Namun, di sisi lain stigma dan diskriminasi masih kerap ditemukan, akibatnya penyintas hanya mengharapkan dukungan dari komunitas saja yang sebenarnya sangat terbatas secara ekonomi.
Sementara Deddy Ismail dari Dinas Sosial Sumatera Selatan yang juga Kepala Panti Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik mengakui sebenarnya kini banyak layanan terkait dengan kelompok masyarakat usia lanjut usia atau lansia.
"Hanya saja, mungkin informasinya belum menyebar secara luas, atau ada ketakutan masyarakat harus membayar mahal," kata dia, dalam kesempatan yang sama.
Baca Juga:
- Rumah Rakit Bertahan, di Tengah Arus Modernisasi (Bagian 1)
- Warga 2 Desa Tuntut Pekerjaan di Perusahaan Tambang
- Mahasiswa KKN UIN Palembang Ajak Warga Cegah 3 Hal ini
Padahal menurut dia panti social, seperti Panti Jompo dan panti khusus perempuan yang bermasalah social dapat diakses secara gratis.
Karena itu, kata dia penting sekali untuk meningkatkan pedulian dan berkolaborasi dalam melawan stigma bagi penyintas HIV dan juga kelompok rentan.
"Pertemuan hari ini, tentu menjadi jalan untuk berkolaborasi secara optimal," ujar dia.(ert)

