Keseruan Mahasiswa UIN Palembang Berburu Takjil

Rabu, 25 Februari 2026 07:26 WIB

Penulis:Nila Ertina

Keseruan Mahasiswa UIN Palembang Berburu Takjil
Keseruan Mahasiswa UIN Palembang Berburu Takjil (Foto WongKito.co/Magang/Ani Mustika Wati)

Di sepanjang Jalan Rawa Jaya, tepat di belakang Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, sejak memasuki Ramadan tampak deretan tenda warna-warni berdiri. Asap tipis mengepul dari penggorengan, menyatu dengan aroma manis kolak pisang dan legitnya kue pancong yang baru diangkat dari cetakan.

Kotak-kotak plastik transparan berjejer rapi, ada gorengan, kue-kue, puding, beragam jenis pempek bahkan seblak, nasi ayam geprek, sayur dan lauk matang. Ada juga gelas-gelas plastik berisi es buah dan es sirup warna-warri turut menghiasi lapak-lapak sebagian pedangan.

Biasanya, pedagang mulai menggelar lapak sejak pukul 15.30 WIB. Namun, keramaian mulai terasa selepas pukul 16.30 WIB dan puncaknya lagi ketika menjelang pukul 17.30 WIB.

Baca Juga:

Harga-harga makanannya pun sangat ramah untuk kantong anak-anak kos. Mereka menjualnya dari harga Rp1.000 sampai Rp5.000. Tetapi, ada beberapa jenis makanan yang dijual dengan harga cukup tinggi, ialah makanan yang dibungkus mika seperti lenggang dan kue-kue manis, harganya Rp10.000.

“Sayur dan lauk matang Rp5.000 per porsi. Kalau lauk ayam Rp8.000,” ujar salah satu pedagang.

Bulan Ramadan memang selalu mempunyai caranya sendiri untuk menghidupkan suasana. Salah satunya, lewat berburu takjil yang sudah menjadi tradisi.

“Sudah jadi tradisi setiap Ramadan. Rasanya ada yang kurang kalau belum berburu takjil menjelang waktu berbuka,” ujar Fitria (21), seorang mahasiswi yang sering berburu takjil.

Mayoritas pembeli adalah mahasiswa. Mereka tampak masih menggenakan seragam ke kampus, beberapa terlihat baru saja turun dari motor, tapi ada juga yang masih mengendarainya. Mereka saling berdesakan mengerumuni setiap lapak yang hampir ada sekitar 20 sampai 30 pedagang berjejer di sepanjang jalan tersebut, Selasa petang (24/2/2026).

“Bu, kolaknya satu,” ujar seorang mahasiswi sambil merogoh dompetnya. Ia mengaku hampir setiap hari membeli takjil ditempat yang sama. “Lebih praktis saja, soalnya anak kos kan jarang masak buat bukaan,” katanya sambil tersenyum.

Bagi para pedagang, mengungkapkan Ramadan bagaikan momentum panen kecil. Seorang penjual gorengan mengaku dagangannya bisa habis sebelum magrib. “Kalau sudah lewat jam empat, mulai ramai. Apalagi anak-anak kos, pasti kebanyakan cari gorengan,” tuturnya sambil terus menggoreng gorengan diwajan.

Semakin dekat waktu berbuka, jalanan semakin padat dilalui oleh pengendara motor, mobil maupun pejalan kaki. Suara klakson sesekali berbunyi, bercampur dengan suara candaan ringan antara penjula dan pembeli, serta suara panggilan penjual menawarkan dagangannya.

Baca Juga:

Ketika azan magrib akhirnya berkumandang dari masjid, jalanan perlahan lenggang. Mahasiswa dan pembeli lainnya bergegas pulang ke tempat tinggal masing-masing, membawa plastik-plastik berisi takjil yang masih hangat.

Bagi sebagian mahasiswa perantau,, berburu takjil bukan sekedar membeli makanan berbuka. Di balik plastik-plastik sederhana itu, tersimpan rindu pada suasana rumah dan suara keluarga yang biasa menemani waktu berbuka.

Kerinduan itu menyelusup, di antara wanginya gorengan dan riuhnya berburu takjil, Ramadan terasa begitu hangat, akrab, dan penuh cerita.(Magang/Ani Mustika Wati)