Minggu, 18 Januari 2026 11:16 WIB
Penulis:Redaksi Wongkito
Editor:Redaksi Wongkito

PALEMBANG, WongKito.co - Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam menjaga stabilitas harga karet saat ini. Hal ini terungkap dalam pertemuan antara jajaran DPW Apkarindo Sumatera Selatan dengan Sekretaris Jenderal DPP Apkarindo Adi Purnama di Hotel Novotel Palembang, Sabtu (17/01/2026).
“Bentuk kehadiran negara yang diperlukan yakni terkait regulasi perdagangan, penguatan koperasi petani, dan penciptaan pasar hilir berbasis industri dalam negeri,” jelas Sekjen DPW Apkarindo Sumsel, Rudi Arpian kepada media.
Rudi menyampaikan, sebagian besar kebun karet rakyat di Sumsel sudah berusia tua, produktivitas menurun, dan rentan terhadap serangan hama serta penyakit gugur daun. Hal ini berdampak langsung terhadap pendapatan petani. Di sisi lain, biaya produksi semakin tinggi, pupuk sulit dijangkau, dan belum adanya skema perlindungan pendapatan petani secara berkelanjutan.
Harga karet dunia yang fluktuatif juga membuat petani berada dalam posisi yang rentan. Ketika harga naik, petani belum sepenuhnya menikmati manfaat karena sistem tata niaga yang belum berpihak. Ketika harga turun, petani langsung terpukul. “Karena itu, Apkarindo menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam menjaga stabilitas harga,” terang dia.
Selain itu, peremajaan karet rakyat atau replanting menjadi agenda paling mendesak. Menurut Apkarindo, tanpa peremajaan besar-besaran, produksi nasional akan terus menurun dan posisi Indonesia sebagai produsen karet dunia akan semakin melemah.
Disebut Rudi, dalam pertemuan ini disuarakan perlunya program replanting nasional (gernas karet), bantuan bibit unggul tahan penyakit, dukungan alat berat karena tebang-bakar dilarang, pupuk bersubsidi untuk tanaman karet, pendampingan teknis oleh penyuluh, serta tumpangsari berbasis kearifan lokal agar petani tetap berpenghasilan selama masa belum menghasilkan.
Dibahas pula pentingnya hilirisasi karet dari hulu hingga hilir, termasuk pengembangan lateks konsentrat, bahan baku aspal lateks, produk rumah tangga berbasis karet, hingga industri kecil dan menengah di desa.
“Konsep Kampung Karet dipandang sebagai model masa depan perkebunan karet rakyat, dimana produksi kuat, nilai tambah tinggal di desa, lapangan kerja tumbuh, dan ekonomi lokal bergerak,” katanya.
Pertemuan yang berlangsung dari pukul 15.00 WIB hingga 17.00 WIB diakui Rudi berlangsung dalam suasana hangat, terbuka, dan penuh semangat perjuangan untuk kemajuan petani karet rakyat Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan. Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua DPW Apkarindo Sumatera Selatan Supartijo, Suplayer SLI Kusniadi, dan Suplayer Sibolga Medan Yunus Siregar.
Kawal Masa Depan Karet Rakyat
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Jenderal DPP Apkarindo Adi Purnama menyampaikan bahwa Apkarindo adalah organisasi non-politik yang menjadi corong suara petani karet. Apkarindo berdiri murni sebagai wadah perjuangan petani karet rakyat, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan perkaretan nasional.
Tujuan utama organisasi ini menyuarakan persoalan riil petani karet di lapangan, mengawal kebijakan pemerintah agar berpihak pada petani dan mengadvokasi harga karet yang adil. Selain juga mendorong program peremajaan karet rakyat secara masif dan terstruktur dan mempercepat hilirisasi karet berbasis desa dan koperasi.
“Apkarindo hadir bukan untuk kepentingan kekuasaan, tetapi untuk kepentingan petani karet sebagai tulang punggung ekonomi desa dan penjaga ekologi,” ujar Adi.
Dalam pertemuan ini juga disoroti peran Apkarindo yang selama ini aktif menyuarakan isu-isu perkaretan nasional melalui berbagai media massa, baik cetak, online, maupun media sosial.
Apkarindo secara konsisten mengangkat persoalan kebijakan perkebunan karet nasiona, ketimpangan perlakuan terhadap petani karet, pentingnya perlindungan petani sebagai penjaga ekologi, serta urgensi pembentukan BPDP Karet sebagai solusi struktural. Media dipandang sebagai sarana penting untuk membangun kesadaran publik sekaligus menekan lahirnya kebijakan yang lebih adil.
Penegasan Komitmen Bersama
Pertemuan ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat konsolidasi organisasi dari pusat hingga daerah, memperluas jaringan petani dan pelaku usaha, serta memperkuat posisi Apkarindo sebagai mitra kritis dan strategis pemerintah dalam pembangunan sektor perkaretan nasional.
“Apkarindo akan terus berdiri di barisan petani, bersuara ketika petani terpinggirkan, bergerak ketika karet rakyat terancam, dan menjadi jembatan antara petani dan negara,” imbuh Rudi. (yulia savitri)