Taksi Mobil Listrik: Mencari Ruang Baru bagi Penumpang dan Pengemudi (Bagian.2)

Selasa, 13 Oktober 2026 14:28 WIB

Penulis:Nila Ertina

Editor:Nila Ertina

Ilustrasi
Ilustrasi (image made by ai asistant)

BAGI penumpang seperti Vira dan Muhammad, keunggulan yang terasa berada di dalam kabin. Kondisi mobil yang lebih dingin, suara kendaraan yang lebih senyap, fasilitas layar serta pengalaman berkendara yang dinilai lebih nyaman menjadi bagian dari alasan mencoba kembali.

Tetapi bagi pengemudi, kendaraan listrik juga menghadirkan persoalan operasional yang berbeda.  Seorang pengemudi, MS mengatakan kondisi baterai mesti dipantau rutin.

Ia juga menceritakan ketika baterai kendaraan sekitar 29 persen saat menerima order. Untuk perjalanan dekat, menurut dia, kendaraan masih memungkinkan digunakan. Namun perjalanan jauh membutuhkan pertimbangan lebih.

“Kalau sekitar sini masihlah kita bantu anter. Kalau jauh, kita ngomong sama calon penumpang,” katanya.

Sementara untuk biaya mengisi baterai dia mengungkapkan butuh Rp35 ribu sampai Rp40 ribu per jam.

Bagi penumpang, kendaraan yang lebih senyap dan nyaman dapat menjadi daya tarik. Bagi pengemudi, baterai dan akses pengisian menjadi bagian dari perencanaan kerja.

Baca Juga:

MS pada awal peluncuran sampai sebulan lebih ada promosi dari perusahaan untuk menarik masyarakat mencoba layanan Green SM.

"Promo itu dari perusahaan," ujarnya.

Menurutnya, potongan tarif yang diterima penumpang tidak mengurangi perhitungan pendapatan pengemudi karena mekanismenya telah ditanggung perusahaan.

Di balik promo yang menarik perhatian pengguna, pengemudi Green SM juga bekerja dengan sistem target. MS menjelaskan terdapat beberapa tingkatan pembagian hasil, yakni 42 persen, 50 persen, hingga 62 persen, yang disesuaikan dengan target kinerja pengemudi.

Pengemudi Green SM lainnya, AM, mengatakan untuk mencapai target tersebut ia umumnya bekerja antara delapan hingga 12 jam setiap hari.

"Biasanya saya kerja paling lama 12 jam. Kadang delapan, minimal delapan jam," ujarnya.

AM juga menyebut target yang dijalaninya berkaitan dengan pencapaian perjalanan sekitar 1.100 kilometer bersama penumpang dalam satu bulan. Menurut pengalamannya, target tersebut berkaitan dengan potensi pendapatan sekitar Rp5 juta.

Menunggu Legalitas di Tengah Kota yang Terus Bergerak

Palembang merupakan kota dengan jumlah penduduk sekitar 1,74 juta jiwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang. Besarnya jumlah penduduk membuat kebutuhan pendukung mobilitas menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Namun, ketika layanan transportasi baru hadir, persoalannya bukan hanya seberapa banyak kendaraan yang disediakan, melainkan bagaimana layanan tersebut berjalan sesuai aturan.

Kehadiran layanan transportasi berbasis kendaraan listrik itu mulai menarik perhatian setelah sejumlah armadanya terlihat beroperasi di jalanan kota. Di balik kendaraan yang membawa penumpang tersebut, terdapat proses panjang mengenai perizinan, pengujian kendaraan, hingga kesiapan fasilitas pendukung.

Pada Juli 2026, Pemerintah Kota Palembang menyebut Green SM mengajukan izin untuk sekitar 200 unit kendaraan.

Pemerintah mensyaratkan kendaraan menjalani uji KIR serta perusahaan menyiapkan pool dan fasilitas pengisian daya sendiri.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan kendaraan yang beroperasi memenuhi persyaratan keselamatan dan administrasi.

Persoalan kemudian muncul pada proses pengujian kendaraan. Menurut petugas UPTD Pengujian Kendaraan Bermotor Palembang, kendaraan listrik Green SM sebelumnya belum dapat menjalani uji KIR karena alat pengujian yang dibutuhkan belum tersedia.

Alat tersebut kemudian disediakan oleh Green SM. Pengujian akhirnya dimulai pada 14 September 2026 dengan 20 kendaraan sebagai tahap awal.

Sehari setelahnya, persoalan legalitas kembali menjadi perhatian dalam rapat Komisi III DPRD Palembang bersama Dinas Perhubungan, Inspektorat, DPMPTSP, dan manajemen Green SM.

Anggota legislative menyoroti administrasi Green SM. Ia menilai masih terdapat sejumlah persyaratan yang belum terpenuhi, termasuk uji KIR dan izin pool.

Baca Juga:

Taksi Mobil Listrik: Mencari Ruang Baru bagi Penumpang dan Pengemudi (Bagian.1)

Ia juga mempertanyakan status surat dari Dinas Perhubungan yang sebelumnya diterima perusahaan. Menurut anggota DPRD tersebut, surat itu merupakan surat keterangan, bukan izin operasional. Ia juga menyebut proses rekomendasi STNK dan penerbitan STNK belum berarti seluruh proses perizinan operasional telah selesai.

Dinas Perhubungan kemudian menegaskan bahwa Green SM belum seharusnya beroperasi sebelum seluruh perizinan dipenuhi dan kendaraan dinyatakan lulus uji KIR.

Persoalan lain muncul mengenai jumlah armada. Pemerintah Kota Palembang menyebut kajian yang diberikan hanya mencakup maksimal 200 unit kendaraan. Angka tersebut berbeda dengan jumlah 500 unit yang sempat disebut dalam pembahasan mengenai rencana armada.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan layanan transportasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan perusahaan menyediakan kendaraan, tetapi juga batas yang ditetapkan pemerintah melalui perizinan.

Dalam rapat yang sama, DPRD juga menerima keluhan masyarakat mengenai kemacetan dan keributan. Pemerintah Kota mengakui adanya kelalaian dalam pengawasan dan menyampaikan permintaan maaf.

Meski memberikan sorotan, DPRD menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap investasi Green SM. Perhatian utamanya adalah memastikan kegiatan usaha berjalan sesuai ketentuan.

Sementara itu, dari sisi pelaku transportasi daring, Asosiasi Driver Online Sumatera Selatan menyatakan menyambut kehadiran Green SM. Berdasarkan informasi yang diterima asosiasi tersebut pada 10 September, persyaratan perizinan Green SM disebut telah lengkap.

Pernyataan ADO Sumsel tersebut disampaikan lima hari sebelum rapat DPRD pada 15 September. 
Di tengah perbedaan pandangan mengenai kesiapan administrasi, kendaraan listrik Green SM tetap menjadi bagian dari pemandangan baru di Palembang.

Sementara tuntutannya adalah memastikan kendaraan, pengemudi, fasilitas, dan perusahaan berjalan dalam koridor aturan yang sama.

Pada akhirnya, persoalan Green SM bukan semata tentang kendaraan listrik yang mulai memenuhi jalanan Palembang. Di baliknya ada pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu seberapa siap sebuah kota menerima teknologi transportasi baru, tanpa mengabaikan aturan yang menjaga keselamatan dan kepentingan masyarakat?

Jawabannya tidak hanya berada di balik kemudi, tetapi juga pada proses pengujian, perizinan, pengawasan, dan kesiapan pemerintah maupun perusahaan untuk memastikan layanan tersebut benar-benar hadir secara tertib di tengah mobilitas 1,74 juta penduduk Palembang.

Pengalaman menggunakan kendaraan listrik memang memberi warna baru dalam pilihan transportasi online di Palembang. Namun, ketika tarif promosi telah berakhir, keputusan untuk kembali menggunakan layanan akan ditentukan oleh berbagai pertimbangan lain, mulai dari harga, kemudahan mendapatkan kendaraan, hingga kenyamanan yang dirasakan selama perjalanan.

Apakah Green SM Mengubah Peta?

Kehadiran Green SM jelas menambah pilihan transportasi online di Palembang. Bahkan, berdasarkan pengalaman Vira dan Muhammad, temannya yang merupakan pengguna lama Gojek dan Grab yang mulai mencoba dan beralih menggunakan Green SM.

Pengguna kini memiliki alternatif yang menawarkan pengalaman berbeda. Pengemudi lama menghadapi tambahan kompetisi. Sementara pengemudi Green SM bekerja dengan kendaraan dan struktur operasional yang berbeda.

Pengemudi Gocar, SA mengakui persaingan semakin ramai.

“Kalau banyak lagi saingan sekarang online ini. Ada Green SM sekarang,” ujarnya.

Persaingan tersebut pada akhirnya tidak hanya berlangsung di layar aplikasi.

Baca Juga:

Di satu sisi, pengguna menghitung harga dan mempertimbangkan kenyamanan. Di sisi lain, pengemudi menghitung order, target, bahan bakar atau listrik, waktu kerja dan pendapatan bersih.

Layanan mobil listrik membawa sesuatu yang baru ke dalam persaingan, kendaraan listrik dan pengalaman berkendara yang berbeda. Tetapi pengalaman baru itu belum otomatis menghapus pertimbangan lama.

Harga tetap jadi alasan. Dan selama pengguna masih membuka beberapa aplikasi untuk membandingkan tarif sebelum menekan tombol pesan, peta persaingan taksi online Palembang mungkin belum sepenuhnya berubah.

Yang berubah adalah pilihan yang tersedia di hadapan penumpang.(*Nur Izzati Kharisma, Naila Safira, M. Agna Dzisyarif)

*Mahasiswa Magang MBKM Prodi Jurnalistik, UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2024