Menyaksikan Reog Ponorogo di Car Free Night Palembang

Penampilan Gembong Cadas Sriwijaya di CFN Palembang (Foto WongKito.co/Magang/Tanya Zalzalbilla)

PALEMBANG, WongKito.co - Pada peluncuran Car Free Night (CFN) Palembang,  di Jalan Kolonel Atmo, Sabtu (18/04/2026) tak hanya menjadi tempat kuliner, tapi juga sebagai tempat untuk memperkenalkan seni budaya kepada masyarakat yang antusias menyaksikan kegiatan tersebut.

Di tengah padatnya pengunjung di Jalan Kolonel Atmo ada penampilan seni yang mencuri perhatian para pengunjung, pertunjukan seni tradisional yang di padukan dengan alunan musik gamelan dan tari, Reog Ponorogo.

Terlihat topeng kepala singa raksaksa  dengan hiasan bulu merak yang di gerakkan oleh manusia berdiri di tengah keramaian bersama para Jathil dan Patih Bunjoggo Anom yang berbaris menandakan siap untuk menari.

Baca Juga:

Tak kalah penting antusiasme masyarakat juga terlihat melingkar untuk menonton seni ini. 

CFN ini menjadi tempat untuk menyatukan muda mudi dan mengenalkan sejarah budaya seni Ponorogo dan melestarikannya di tengah zaman modernisasi. Selain itu, banyak penampilan seni dari berbagai daerah termasuk Dul Muluk dari Palembang, CFN yang diselenggarakan Pemkot Palembang dijadwalkan akan berlangsung setiap malam Minggu.

Jemiran (63), Pelaku seni sekaligus pembina Gembong Cadas Sriwijaya mengatakan motivasainya untuk mengajarkan seni kepada anak-anak di kota Palembang.

“Melihat anak-anak Palembang yang antusias untuk belajar seni Ponorogo, saya yang asli orang Jawa, tambah semangat untuk mengajari dan memeperkenalkannya pada anak-anak dan menghibur rakyat,” katanya, di sela-sela penampilan reog.

Ia juga berharap supaya pemerintah provinsi Sumatera Selatan bisa membantu keberangkatan ke festival besar Ponorogo duntuk mewakili daerah tersebut.

Baca Juga:

Sementara penari Jathilan, Eca (20), mengatakan sejak bergabung dengan Paguyuban Tari Reog Gembong Cadas Sriwijaya memahami makna dari seni yang berasal dari Jawa Timur tersebut.

"Sejak saya bergabung di Gembong Cadas Sriwijaya, jadi lebih tahu tentang budaya Jawa timur dari tradisi," katanya.

Ia berharap generasi penerus tidak lupa akan budaya-budaya yang ada di Indonesia, walaupun asli kelahiran Palembang, tapi sebagai generasi muda juga harus tahu dengan budaya-budaya lainnya.

"Buat generasi muda walaupun kita asli Palembang kita harus melestarikan budaya-budaya yang ada di Indonesia contohnya Tari Jathilan," katanya.(Magang/Tanya Zalzalbilla)


Related Stories