Ragam
Karhutla Ancam Pernapasan Anak, IDAI minta Orangtua Waspadai Paparan Asap
JAKARTA, WongKito.co – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan lingkungan. Bagi anak-anak, terutama balita dan mereka yang memiliki penyakit pernapasan, paparan asap dapat menjadi ancaman serius terhadap kesehatan.
Di tengah meluasnya karhutla di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orangtua agar tidak menganggap asap sebagai gangguan sementara. Kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pneumonia, asma, hingga memperburuk penyakit paru yang sudah dimiliki anak.
Data Kementerian Kesehatan RI yang dikutip IDAI mencatat 113.336 kasus ISPA akibat karhutla hingga 9 September 2026 di tujuh provinsi terdampak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 26.545 kasus terjadi pada balita.
Di Riau, misalnya, tercatat 10.783 kasus ISPA sepanjang Agustus–September 2026. Kasus terbanyak ditemukan pada kelompok anak usia 0–9 tahun.
Dampak kesehatan juga terlihat di Kalimantan. Kalimantan Selatan melaporkan 524 kasus pneumonia selama periode kemarau dan karhutla. Sementara RS Bhayangkara Pontianak mencatat peningkatan kasus ISPA dan pneumonia sekitar 10–20 persen sejak karhutla melanda Kalimantan Barat.
Baca Juga:
- Wealth Wisdom 2026 di Medan: Kekayaan Bukan Cuma Soal Aset
- Keramahan Kawan-Kawan Batam VS Jaringan Internet Lemot
- World Tourism Day, THE 1O1 Palembang Kenalkan Budaya Lewat Pengalaman Wisata
Situasi tersebut membuat persoalan karhutla tidak lagi hanya berbicara tentang luas lahan yang terbakar atau jumlah titik panas. Asap yang dihasilkan telah masuk ke ruang hidup anak: rumah, sekolah, tempat bermain, hingga fasilitas publik.
Mengapa Anak Lebih Rentan Terhadap Asap Karhutla?
Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), mengatakan asap karhutla mengandung particulate matter (PM) 2.5, yaitu partikel sangat kecil yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan.
Partikel tersebut bahkan dapat mencapai bagian bawah paru-paru dan masuk ke aliran darah.
“Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan,” ujar Piprim.
Menurutnya, anak memiliki kerentanan lebih tinggi karena menghirup lebih banyak udara dibandingkan berat tubuhnya. Pada saat yang sama, sistem pernapasan dan kekebalan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan.
Karena itu, ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla, dampaknya dapat lebih cepat dirasakan oleh anak dibandingkan orang dewasa.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, Dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp Respi(K), mengatakan dampak paparan PM2.5 dari kebakaran hutan perlu menjadi perhatian serius.
Ia menjelaskan, PM2.5 yang berasal dari asap kebakaran hutan memiliki komposisi kimia dengan potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
“Dampak terbesar terutama pada anak usia di bawah 5 tahun,” kata Wahyuni.
Ia juga merujuk meta-analisis yang menunjukkan bahwa setiap kenaikan 10 µg/m³ PM2.5 akibat kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan sekitar 6 persen rawat inap karena asma dan 7 persen kunjungan IGD terkait asma.
Bukan Hanya ISPA, Asma Anak Juga Bisa Memburuk
Selama musim karhutla, ISPA sering menjadi salah satu persoalan kesehatan yang paling terlihat. Namun, menurut IDAI, dampak asap terhadap anak jauh lebih luas.
Paparan asap dapat memicu eksaserbasi akut atau perburukan penyakit pada anak dengan asma, bronkiektasis, maupun penyakit paru kronis lainnya.
Anak dengan penyakit jantung bawaan serta riwayat displasia bronkopulmonal juga termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami perburukan ketika terpapar asap.
Karena itu, orangtua yang memiliki anak dengan penyakit kronis perlu memastikan obat rutin selalu tersedia, termasuk obat pereda cepat atau rescue inhaler bagi anak yang memang telah diresepkan oleh dokter.
Asap Bisa Menjangkau Wilayah Jauh dari Titik Kebakaran
Bahaya karhutla tidak berhenti di sekitar lokasi kebakaran.
Asap dapat terbawa angin dan menyebar hingga ratusan kilometer. Artinya, keluarga yang tinggal jauh dari titik api tetap dapat terpapar ketika arah angin membawa polutan ke wilayah mereka.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting diperhatikan ketika kebakaran terjadi di lahan gambut. Api pada lahan gambut dapat bertahan lebih lama dan menghasilkan asap secara terus-menerus.
Bagi anak, paparan berulang dalam jangka panjang berarti risiko kesehatan tidak hanya muncul dalam satu atau dua hari.
Karena itu, IDAI meminta orangtua memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau indeks kualitas udara secara berkala, meskipun tidak ada titik api di sekitar tempat tinggal.
8 Langkah Melindungi Anak dari Asap Karhutla
IDAI melalui UKK Respirologi merekomendasikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan keluarga selama kualitas udara memburuk akibat karhutla.
Pertama, pantau kualitas udara. Orangtua perlu memeriksa ISPU atau indeks kualitas udara secara rutin dan menyesuaikan aktivitas anak berdasarkan kondisi udara.
Kedua, siapkan ruang bersih di rumah. Ruangan dengan sedikit pintu dan jendela dapat digunakan sebagai "clean room". Jika menggunakan alat pembersih udara, pilih perangkat yang tidak menghasilkan ozon.
Ketiga, kurangi udara luar masuk ke rumah. Saat kabut asap berlangsung, pintu dan jendela sebaiknya ditutup. Jika menggunakan AC, gunakan mode sirkulasi udara di dalam ruangan atau "air recirculation".
Keempat, jangan menambah polusi di dalam rumah. Asap rokok, pembakaran kayu, lilin, aerosol, kegiatan memanggang atau menggoreng makanan, hingga penggunaan vacuum cleaner dapat memperburuk kualitas udara dalam ruangan.
Kelima, batasi aktivitas fisik berat di luar rumah. Ketika udara terlihat atau berbau asap dan kualitas udara berada pada kategori buruk, aktivitas anak di luar ruangan perlu dikurangi.
Keenam, gunakan perlindungan ketika harus keluar. Anak berusia 2 tahun atau lebih dapat menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap. Kacamata juga dapat digunakan untuk mengurangi iritasi pada mata.
Ketujuh, siapkan obat anak dengan penyakit tertentu. Anak dengan asma, alergi, atau penyakit kronis lainnya perlu mendapatkan perhatian lebih selama periode karhutla.
Kedelapan, jangan menunda pertolongan medis. Anak yang mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, menolak makan atau minum, atau menunjukkan gejala berat lainnya perlu segera mendapatkan pertolongan medis.
Ketika Asap Masuk Sekolah, Pembelajaran Juga Berubah
Dampak karhutla terhadap anak tidak hanya menyangkut kesehatan fisik. Aktivitas pendidikan juga dapat terganggu ketika kualitas udara mencapai tingkat yang membahayakan.
Mengacu pada rekomendasi IDAI serta Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 20 Tahun 2026, pelaksanaan pembelajaran di wilayah terdampak karhutla disesuaikan dengan nilai ISPU harian.
Ketika ISPU berada pada angka 1–50 atau kategori baik, pembelajaran tatap muka dapat berlangsung normal.
Pada ISPU 51–100 atau kategori sedang, pembelajaran tatap muka tetap dapat dilakukan, tetapi kegiatan di luar ruangan seperti olahraga, upacara, dan ekstrakurikuler perlu dibatasi atau dipindahkan ke dalam ruangan.
Ketika ISPU mencapai 101–200 atau kategori tidak sehat, pembelajaran tatap muka dibatasi secara ketat. Kelompok rentan, termasuk anak-anak, diarahkan untuk belajar dari rumah.
Pada ISPU 201–300 atau sangat tidak sehat, seluruh peserta didik beralih ke pembelajaran jarak jauh. Sedangkan ketika ISPU lebih dari 300 atau berbahaya, kegiatan pembelajaran dilaksanakan sepenuhnya dari jarak jauh.
Perubahan moda pembelajaran tersebut bukan berarti sekolah diliburkan. Hak anak untuk mendapatkan pembelajaran tetap harus dipenuhi.
Sekolah dapat menggunakan pembelajaran daring maupun luring, seperti modul cetak dan penugasan mandiri, sesuai dengan kondisi listrik, jaringan internet, dan perangkat yang tersedia di masing-masing daerah.
Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan tersebut, termasuk penggandaan modul pembelajaran, pengadaan masker, dan alat penjernih udara.
Orangtua Perlu Mengenali Tanda Bahaya
Di tengah kabut asap, orangtua perlu membedakan antara gangguan ringan dan kondisi yang membutuhkan pertolongan medis.
IDAI mengingatkan agar anak segera dibawa ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak atau kesulitan bernapas, batuk berkepanjangan, sangat mengantuk, mengalami penurunan kesadaran, atau menolak makan dan minum.
“Kesehatan anak adalah prioritas utama. Jangan ragu untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika muncul gejala sesak napas, batuk berkepanjangan, atau penurunan kesadaran. Pencegahan dan deteksi dini adalah kunci,” ujar Piprim.
Baca Juga:
- GSMP Naik Kelas, Sumsel Bangun Ekosistem Pangan dari Hulu hingga Hilir
- Jejak Pahlawan Nasional di Museum AK Gani Palembang
- Cerita Inisiatif Warga Sekitar SM Padang Sugihan Terdampak Asap Karhutla
Wahyuni juga mengajak orangtua, guru, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah bekerja bersama menghadapi dampak kesehatan akibat karhutla.
Sebab, melindungi anak dari asap karhutla bukan hanya soal menggunakan masker atau membatasi aktivitas di luar rumah. Perlindungan anak juga membutuhkan informasi kualitas udara yang mudah diakses, sekolah yang adaptif, layanan kesehatan yang siap, serta respons pemerintah ketika kualitas udara memburuk.
Di tengah karhutla yang berulang, menjaga kesehatan pernapasan anak berarti memastikan mereka tetap dapat bernapas dengan aman, belajar tanpa terpapar polusi berlebihan, dan tumbuh dalam lingkungan yang sehat.(ril)

