Pasar Temenggung Bukti Akulturasi Budaya dan Pusat Penjualan Buah Berkualitas

Sabtu, 16 Mei 2026 13:58 WIB

Penulis:Nila Ertina

Seorang pedagang di Pasar Temenggung menyebutkan terjadi kenaikkan harga beragam buah
Seorang pedagang di Pasar Temenggung menyebutkan terjadi kenaikkan harga beragam buah (Foto WongKito.co/Magang/Luthfiah Revalina)

AKTIVITAS jual beli di Pasar Temenggung, Kota Palembang, tampak mulai ramai sejak pagi hari. Pasar yang dikenal masyarakat sebagai pusat penjualan buah dan sayur ini menjadi salah satu tujuan utama warga untuk mencari kebutuhan pangan segar dengan kualitas yang terbaik.

Berbagai jenis buah lokal maupun impor tersusun rapi di lapak pedagang, sementara deretan sayuran segar memenuhi sisi lain pasar dengan warna-warni hasil panen yang menarik perhatian pembeli.

Tidak hanya menjadi pasar tradisional yang melegenda di tengah Kota Palembang, Pasar Temenggung juga dianggap sebagai salah satu bukti akulturasi budaya yang masih bertahan di Palembang. Di pasar ini, para pedagang berasal dari berbagai latar belakang suku dan daerah, mulai dari masyarakat asli Palembang, Jawa, Sunda, hingga keturunan Tionghoa. Keberagaman tersebut terlihat dari cara berinteraksi antar pedagang dan pembeli yang berlangsung akrab tanpa memandang perbedaan budaya.

Keberadaan buah-buahan dari berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri juga menunjukkan bagaimana pasar tradisional mampu menjadi ruang pertemuan budaya dan perdagangan. Mulai dari buah lokal khas Sumatera hingga buah yang didatangkan dari Kota Bandung, semuanya dijual di pasar ini dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat palembang sehari-hari.

Baca Juga:


Salah satu pedagang buah, Adit (34), mengatakan bahwa hubungan antar pedagang di Pasar Temenggung berlangsung dengan baik tanpa adanya persaingan yang tidak sehat. Menurutnya, para pedagang justru saling menghargai karena masing-masing memiliki jenis dagangan yang berbeda.

“Di sini tidak ada yang namanya persaingan antar pedagang, terutama dengan pedagang keturunan Tionghoa. Mereka juga jual barang yang berbeda seperti buah-buahan impor dan aneka kue-kue,” ujar Adit.

Ia menilai keberagaman pedagang di Pasar Temenggung menjadi salah satu ciri khas pasar tersebut. Perbedaan latar belakang budaya dan jenis dagangan justru membuat pasar menjadi lebih lengkap dan menarik bagi masyarakat yang datang berbelanja.

Harga Buah dan Sayuran Naik

Menjelang Hari Raya Iduladha, sejumlah harga buah dan sayuran di Pasar Temenggung mulai mengalami kenaikkan. Beberapa komoditas mengalami kenaikan harga akibat stok yang mulai terbatas, cuaca yang tidak menentu, hingga meningkatnya permintaan pasar.

Meski demikian, pasar ini tetap menjadi pilihan masyarakat karena dikenal menyediakan produk yang segar dan berkualitas.

Salah satu buah yabg cukup menarik perhatian pembeli adalah stroberi. Buah bewarna merah cerah tersebut tampak tersusun rapi. Beberapa komoditas mengalami kenaikan harga akibat stok yang mulai terbatas, cuaca yang tidak menentu, hingga meningkatnya permintaan pasar. Meski demikian, pasar ini tetap menjadi pilihan masyarakat karena dikenal menyediakan produk yang segar dan berkualitas.

Menurut Adit, harga stroberi saat ini mengalami kenaikan dibanding beberapa bulan sebelumnya. Kini dijual Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per kilogram. Namun ketika stok mulai berkurang atau cuaca sedang tidak mendukung proses panen, harga bisa meningkat hingga Rp70 ribu per kilogram.

“Kalau stroberi ini biasanya disebut stroberi lokal. Buahnya memang lebih kecil dibanding stroberi impor, tapi rasanya tetap manis dan banyak diminati,” ujarnya.

Untuk stroberi impor rata-rata dijual Rp150 ribu hingga Rp250 ribu per kilogram.

Selain menjual stroberi, Adit juga menjual berbagai jenis buah lainnya, salah satunya alpukat mentega. Alpukat tersebut menjadi salah satu buah yang cukup dicari masyarakat karena teksturnya lembut dan rasanya gurih. Namun saat ini harga alpukat juga mulai mengalami kenaikan akibat musim panen yang mulai berakhir.
Untuk alpukat mentega ukuran kecil, Adit menjual dengan harga Rp35 ribu per kilogram, sedangkan ukuran besar dijual Rp40 ribu per kilogram. Ia mengungkapkan bahwa pada musim panen sebelumnya harga alpukat masih jauh lebih murah.

“Biasanya kalau lagi musim, yang kecil itu Rp25 ribu dan yang besar Rp35 ribu per kilogram. Sekarang mulai naik karena musimnya sudah habis. Kalau nanti sudah masuk musim lagi, harga kemungkinan turun,” jelasnya.

Baca Juga:

Tidak hanya pedagang buah, pedagang sayur di Pasar Temenggung juga mulai merasakan dampak kenaikan harga menjelang Iduladha. Salah satunya dialami Hana (54), pedagang sayur yang telah berjualan selama bertahun-tahun di pasar tersebut.

Ia mengatakan beberapa jenis sayuran mengalami kenaikan harga, terutama tomat dan timun. Harga tomat yang sebelumnya berada diangka Rp20 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp25 ribu per kilogram. Sementara timun yang biasanya dijual Rp8 ribu kini naik menjadi Rp12 ribu per kilogram.

Menurutnya, kenaikan harga kemungkinan terjadi karena banyaknya pasokan sayur yang dikirim ke luar daerah sehingga stok di pasar menjadi lebih sedikit. Ia juga mengaku mengambil barang dari Pasar Jakabaring dan sayuran yang diterimanya sudah melewati beberapa tangan distributor.(Magang/Luthfiah Revalina)