Sumsel Masuki Fase Tansisi Musim, Maksimalkan Hujan Untuk Pembasahan Gambut

Rabu, 03 Juni 2026 17:35 WIB

Penulis:Redaksi Wongkito

Editor:Redaksi Wongkito

karhutla Sumsel 26 agustus 2020.jpg
Ilustrasi. Aksi petugas saat memadamkan karhutla di salah satu wilayah Sumsel pada Agustus 2020. (istimewa/BPBD Sumsel)

PALEMBANG, WongKito.co - BMKG Sumatera Selatan menyebutkan, Wilayah Sumatera Selatan saat ini masih berada dalam fase transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Curah hujan masih terjadi di sejumlah wilayah, didukung oleh gangguan atmosfer jangka pendek berupa gelombang Kelvin. 

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis menyampaikan, berdasarkan analisis pihaknya, Sumsel saat ini masih terpantau mendapatkan curah hujan yang cukup yakni lebih dari 50 mm. 

“Curah hujan yang masih turun ini didukung oleh faktor gangguan atmosfer jangka pendek (gelombang Kelvin),” katanya, Rabu (3/6/2026).

Meskipun musim kemarau 2026 belum secara resmi dimulai, masyarakat dan pemangku kepentingan diimbau untuk mewaspadai kondisi curah hujan yang akan lebih rendah dari rata-rata dan durasi yang lebih panjang dari normal. Selain itu, diprediksi puncak musim kemarau akan bergeser ke Septermber 2026.

Karena itu, pihaknya mengingatkan agar potensi hujan yang ada dimanfaatkan dalam proses modifikasi pada pertengahan Mei 2026 untuk memaksimalkan penyimpanan air pada sungai, waduk, kolam-kolam retensi, dan pembasahan lahan gambut di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan. 

“Sumsel perlu memanfaatkan kondisi ini, program modifikasi cuaca telah dilaksanakan pada pertengahan Mei 2026 guna memaksimalkan pengisian fasilitas penyimpanan air, baik alami maupun buatan,” ujar dia. 

Prediksi Musim Kemarau 2026

Prediski awal musim kemarau 2026 di Wilayah Sumatera Selatan. (ist/BMKG Sumsel)

Awal Musim Kemarau 2026 di Provinsi Sumatera Selatan diprediksi akan terjadi pada rentang akhir bulan Mei hingga awal bulan Juni. Sifat Hujan pada Musim Kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Zona Musim diprediksikan Bawah Normal. Curah hujan pada Musim Kemarau 2026 diprediksikan lebih rendah dari kondisi normalnya. 

BMKG menyebutkan, durasi Musim Kemarau 2026 diprediksi lebih panjang hingga hampir 2 bulan lamanya (1-5 dasarian). Untuk wilayah Kota Palembang dan sekitarnya, secara umum Musim Kemarau 2026 diprediksi mulai terjadi pada awal Juni. 

“Prediksi Musim Kemarau 2026 ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan di banyak sektor, salah satunya potensi kekeringan dapat menyebabkan timbulnya titik panas dan pada lahan gambut potensi ini dapat berekskalasi menjadi kejadian kebakaran hutan dan lahan,” imbuhnya. 

Dia mengingatkan, potensi bencana akibat asap karhutla yang ditimbulkan juga dapat meningkat. Memburuknya kualitas udara yang disebabkan polusi ataupun kejadian kebakaran hutan dan lahan dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat hingga mengganggu jarak pandang akan mengalami penurunan baik pada moda transportasi darat, laut maupun udara. 

113 Kejadian Karhutla di Sumsel

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat, total 113 kejadian karhutla di Sumsel dalam periode 1 Januari hingga 2 Juni 2026. Adapun indikasi luas lahan yang terbakar yakni 182,54 hektare.

Adapun tiitk panas atau hotspot per 3 Juni 2026 terdata sebanyak 38 titik yang tersebar di 11 Kabupaten/Kota di Sumsel. Titik terbanyak ada di Muara Enim sebanyak 9 titik. (yulia savitri)